Laskar Prabowo 08 Berduka atas Wafatnya Paus Fransiskus

MAJALAHREFORMASI.com – Ketua umum Laskar Prabowo 08 Devi Taurisa menyampaikan dukacita yang mendalam atas berpulangnya Paus Fransiscus.

Bagi Devi dan seluruh keluarga besar Laskar Prabowo 08, kepergian Paus Fransiskus bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin umat, tetapi juga kehilangan seorang figur dunia yang menjadi simbol kesederhanaan, cinta kasih, dan perjuangan tanpa lelah untuk perdamaian global.

“Kita semua berduka. Dunia kehilangan sosok agung yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk kedekatan dengan mereka yang menderita, serta memperjuangkan berakhirnya kekerasan global,” ujar Devi dengan suara penuh keharuan.

Paus Fransiskus, menurut Devi, adalah teladan nyata dalam menjalani hidup sederhana di tengah dunia yang semakin materialistis. Kesederhanaannya bukan hanya sikap pribadi, tetapi menjadi kekuatan moral yang menggerakkan perubahan, membangun dialog, dan menghidupkan semangat persaudaraan lintas batas bangsa, agama, dan budaya.

Mengenang warisan besar Paus, Laskar Prabowo 08 berkomitmen untuk melanjutkan perjuangan beliau, khususnya dalam mendorong dialog lintas agama dan mempererat persaudaraan umat manusia. Komitmen ini diwujudkan dalam berbagai inisiatif seperti Peace Walk dan Peace Forum, yang telah berlangsung di berbagai kesempatan, termasuk baru-baru ini di Ruang VVIP Masjid Istiqlal.

Dalam acara tersebut, Laskar Prabowo 08 menghadiahkan sebuah lukisan perdamaian karya maestro Ki Gamblang, sebagai cinderamata.

Lukisan ini kini diletakkan di Ruang VVIP Masjid Istiqlal, menjadi simbol kuat tentang persatuan dalam keberagaman, warisan yang sejalan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan Paus Fransiskus sepanjang hidupnya.

Dalam momen yang sama saat itu, Prof. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, dalam cuitannnya juga berbicara mengenai pentingnya membangun dialog lintas agama yang inklusif dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan.

Ia mengingatkan bahwa keberagaman di Indonesia adalah kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Dengan penuh emosi, Nasaruddin mengisahkan pula kenangannya saat berkesempatan mencium tangan Paus Fransiskus, sebuah pengalaman yang ia kenang sebagai perjumpaan dengan sosok suci yang tulus memperjuangkan kedamaian.

“Komitmen terhadap perdamaian dan keberagaman adalah modal utama dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik,” pungkas Nasaruddin. (David)








Tinggalkan Balasan