MAJALAHREFORMASI.com – Harapan besar terhadap perubahan bangsa menjadi alasan Sandra Hartono menjatuhkan pilihannya kepada Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres lalu. Aktivis sosial asal Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu mengaku percaya kepemimpinan harus dijalankan oleh sosok yang benar-benar memiliki ketulusan untuk rakyat.
Sandra bahkan mengingat kembali pernyataan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang pernah menyebut Prabowo sebagai pribadi yang tulus terhadap Indonesia.
“Saya memilih Pak Prabowo karena saya ingat Gus Dur pernah berkata beliau sosok yang tulus terhadap rakyat Indonesia. Saya punya harapan besar beliau bisa mensejahterakan rakyat,” ujarnya.
Namun bagi Sandra, perubahan tidak cukup hanya bergantung pada seorang pemimpin negara. Menurutnya, masyarakat, khususnya perempuan, juga harus memiliki pemahaman politik agar mampu mengawal kebijakan pemerintah dan tidak menjadi pihak yang apatis terhadap persoalan bangsa.
“Perempuan harus melek politik. Semua hal diatur dengan politik, mulai dari harga sembako, pendidikan, ekonomi sampai kesejahteraan rakyat. Kalau kita buta politik, kita tidak akan mengerti apa-apa,” katanya.
Perempuan lulusan Theologia IKAT bergelar Master of Art (MA) itu menilai keterlibatan perempuan dalam memahami politik sangat penting, meski tidak semuanya harus terjun langsung ke politik praktis. Sebab, perempuan memiliki peran besar sebagai penjaga moral keluarga sekaligus penasehat dalam lingkungan sosialnya.
“Tidak masuk politik praktis bukan berarti perempuan harus buta politik. Justru perempuan harus paham supaya bisa menjadi penasehat bagi keluarga dan lingkungannya,” tutur Sandra.
Meski demikian, Sandra menegaskan dirinya tidak anti terhadap perempuan yang ingin berkarier di dunia politik. Ia mempersilakan perempuan menduduki jabatan penting selama memang memiliki kapasitas, kompetensi dan panggilan untuk memperbaiki bangsa.
“Kalau memang punya visi dan misi untuk perubahan, silakan. Tapi jangan hanya mengejar popularitas atau jabatan,” tegasnya.
Menurut Sandra, banyak persoalan bangsa muncul karena jabatan publik diisi oleh orang yang tidak sesuai kapasitasnya. Akibatnya, kebijakan yang lahir sering kali tidak berpihak kepada masyarakat.
Ia kemudian mencontohkan sektor pariwisata dan keamanan sebagai salah satu gambaran kebijakan yang menurutnya belum sepenuhnya pro rakyat. Padahal Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan disebutnya sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
“Saya melihat pariwisata kita belum dikelola maksimal. Indonesia ini sebenarnya punya alam yang luar biasa indah, tapi masyarakat justru lebih memilih liburan ke luar negeri seperti Singapura atau Thailand,” katanya.
Menurut Sandra, kondisi itu bukan tanpa alasan. Selain harga tiket pesawat domestik yang dinilai terlalu mahal, fasilitas wisata di dalam negeri juga masih belum memberi rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.
“Kenapa orang lebih memilih ke luar negeri? Karena tiket pesawat dalam negeri kadang lebih mahal dibanding ke Singapura atau Thailand. Belum lagi fasilitas wisata dan faktor keamanan yang masih kurang terjamin. Ini kan seharusnya menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.
Ia menilai persoalan keamanan di sektor wisata juga menjadi bagian dari kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih serius membangun sistem keamanan dan fasilitas pendukung agar wisatawan merasa nyaman berkunjung ke daerah-daerah wisata Indonesia.
Sebagai putri asli NTT, Sandra mengaku prihatin melihat potensi wisata di daerahnya belum berkembang optimal. Ia mencontohkan Sumba yang memiliki banyak pulau eksotis dan panorama alam kelas dunia, namun minim dukungan infrastruktur.
Sandra mengungkapkan, pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, dirinya pernah mengusulkan kepada Kementerian Perhubungan agar disediakan kapal-kapal ukuran kecil dan sedang untuk menghubungkan pulau-pulau di Sumba demi mendukung sektor wisata lokal.
Namun usulan itu ditolak dengan alasan keterbatasan anggaran.
“Padahal itu kebutuhan masyarakat dan bisa menggerakkan ekonomi daerah. Wisata bisa hidup kalau aksesnya mudah,” ujarnya.
Menurut Sandra, kebijakan yang tidak tepat sasaran akhirnya membuat banyak sektor potensial gagal berkembang. Ia juga menilai kondisi tersebut terjadi karena sebagian pejabat tidak benar-benar memahami bidang yang dipimpinnya.
“Kalau orang ditempatkan bukan sesuai kompetensinya, akhirnya kebijakan tidak maksimal dan sering dimanfaatkan kepentingan lain. Dari situ biasanya muncul korupsi dan penyalahgunaan wewenang,” katanya.
Sandra menekankan bahwa politik seharusnya dijalankan sebagai panggilan pelayanan, bukan alat mencari keuntungan pribadi ataupun kelompok.
“Kalau hanya untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok, itu bukan panggilan,” ujarnya.
Di sisi lain, Sandra juga menaruh perhatian besar terhadap kondisi moral generasi muda saat ini. Ia menilai perempuan memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga ketahanan keluarga dan mendidik anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Menurutnya, banyak persoalan sosial bermula dari lemahnya pengawasan dan perhatian dalam keluarga.
“Sekarang moral anak-anak rusak, banyak kekerasan, pelecehan, KDRT dan lainnya. Perempuan sebagai ibu harus hadir mendampingi anak-anaknya,” katanya.
Ia mengingatkan perempuan yang berkarier, termasuk di dunia politik, agar tidak melupakan peran sebagai ibu dan pendamping keluarga.
“Karier penting, tapi jangan sampai anak dan suami terabaikan. Perempuan tetap punya peran penting sebagai penolong dan pendamping dalam keluarga,” ucap Sandra.
Meski begitu, ia tetap percaya ada perempuan-perempuan tertentu yang memang dipanggil untuk membawa perubahan besar bagi bangsa melalui politik dan pemerintahan.
“Kadang ada perempuan yang memang ditentukan Tuhan untuk melakukan perubahan. Itu bisa dilihat dari kerja nyatanya,” katanya.
Sandra berharap ke depan semakin banyak perempuan yang memahami politik dengan baik, memiliki visi membangun bangsa, serta mampu menghadirkan perubahan nyata di bidang pendidikan, budaya, ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.
“Yang dibutuhkan bangsa ini adalah orang-orang yang benar-benar bekerja untuk rakyat,” pungkasnya.
Biodata Singkat Sandra Hartono
- Nama: Sandra Hartono
- Asal: Sumba, Nusa Tenggara Timur
- Pendidikan: Master of Art (MA), lulusan Theologia IKAT
- Aktivitas: Aktivis sosial
- Jabatan: Ketua Gekira Cabang Tangerang Selatan
Sandra dikenal aktif menyuarakan isu sosial, pendidikan, pemberdayaan perempuan dan pembangunan daerah, khususnya kawasan Indonesia Timur. (*)





