MAJALAHREFORMASI.com – Di balik kesibukannya sebagai pengusaha dan Komisaris PT Pondok Tjandra Indah, Jenny Sugiharto memaknai Natal dengan cara yang sederhana namun mendalam. Bagi perempuan kelahiran Surabaya yang kini berusia 51 tahun ini, Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat akan kasih karunia yang mengubah hidup.
Sebagai seorang istri, ibu dari tiga anak, sekaligus figur penting dalam pengembangan kawasan perumahan Pondok Tjandra Indah, Jenny dikenal memiliki jadwal yang padat. Namun, di tengah tanggung jawab profesionalnya, ia tetap menjaga kehidupan rohaninya.

Jenny aktif terlibat dalam pelayanan di GBI BLESSING CENTER (GBI) tempat ia bertumbuh dan melayani.
“Bagi saya, Natal bukan hanya perayaan kelahiran Yesus, tetapi momen ketika kabar keselamatan diberitakan kepada dunia—dan juga kepada saya secara pribadi,” ujar Jenny saat ditemui menjelang perayaan Natal.
Ia mengakui, perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada masa-masa penuh pergumulan, kegagalan, dan kelemahan. Namun justru di situlah makna Natal terasa semakin nyata.

“Natal mengingatkan saya bahwa saya diselamatkan bukan karena kuat atau layak, melainkan karena kasih karunia Allah. Yesus datang sebagai Juruselamat, dan itu memberi pengharapan baru,” tuturnya
Jenny menambahkan, Natal menjadi peneguhan bahwa manusia tidak pernah berjalan sendiri. Ada pengampunan dan pemulihan yang nyata. “Natal mengingatkan saya bahwa saya berharga, saya dikasihi, dan saya diselamatkan di dalam Kristus,” katanya dengan suara tenang.
Dalam pandangannya, perubahan zaman dan kemajuan teknologi tidak seharusnya menggeser nilai utama Natal. Perayaan boleh berubah, cara merayakan boleh berbeda, namun esensinya tetap sama.
“Makna Natal adalah menghadirkan kasih, membawa damai, dan menjadi berkat,” ujar Jenny.
Hal itu pula yang ia terapkan dalam kehidupan keluarga. Ia tidak memiliki menu wajib atau hidangan khusus yang selalu tersaji di meja makan saat malam Natal.

Menurutnya, kebersamaan jauh lebih penting daripada apa yang disajikan. “Setelah ibadah malam Natal, kami berkumpul, makan bersama, berbagi cerita, tawa, dan rasa syukur. Kebersamaan itulah yang membuat Natal terasa istimewa,” katanya.
Bagi Jenny, Natal adalah tentang kehadiran—hadir satu sama lain, dan hadir dalam rasa syukur atas kasih Tuhan yang mempersatukan keluarga.
Menutup perbincangan, Jenny menyampaikan pesan sederhana yang ingin ia bagikan kepada pembaca dalam merayakan Natal tahun ini.
“Beritakan kabar keselamatan,” katanya.
Menurutnya, Natal bukan hanya soal apa yang dirayakan, tetapi tentang apa yang dibagikan. Kabar bahwa Yesus telah datang sebagai Juruselamat perlu terus disampaikan, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui sikap dan kehidupan sehari-hari.
“Kiranya melalui hidup kita, kabar keselamatan itu tetap terdengar, menjangkau, dan membawa pengharapan bagi banyak orang,” pungkasnya sambil menutup perbincangan sore itu. (*)








