MAJALAHREFORMASI.com – Di tengah lanskap sosial-politik Indonesia yang terus bergerak dan kian transaksional, banyak pihak mulai mencari ruang baru bukan sekadar untuk memilih atau meraih kekuasaan, tetapi untuk terlibat aktif dan berkontribusi dalam memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.
Di titik inilah, langkah Dra. Alida Handau Lampe mendirikan Partai Integrasi Nusantara (PINTU) menghadirkan alternatif yang berbeda: politik yang tidak hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi juga menjunjung tinggi nilai KASIH, pengabdian, dan PELAYANAN.
Sejumlah kalangan menilai, kehadiran PINTU bukan sekadar menambah daftar partai baru, melainkan membuka ruang bagi mereka yang selama ini merasa belum menemukan “rumah” politik yang sejalan dengan hati nurani.
Partai ini lahir dari perjalanan panjang dan pengalaman nyata Alida memimpin berbagai organisasi Kristen, organisasi dewan adat, hingga dunia usaha yang membentuk komitmennya untuk menghadirkan politik yang lebih bermakna, berpihak pada mereka yang terisolasi, miskin, tidak berpendidikan, terpinggirkan dan tidak berdaya.
Dengan latar belakang sebagai mantan Ketua Umum Parkindo, Sekjend PIKI, Dewan Pakar Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah, hingga pelaku usaha pertambangan, Alida membawa perspektif yang luas.
Dia memahami bahwa perubahan tidak bisa hanya diharapkan, tetapi harus diperjuangkan bersama.
Bagi Alida, PINTU bukan sekadar wadah politik, melainkan gerakan.
Sebuah ruang terbuka bagi siapa pun yang ingin berkontribusi membangun bangsa dengan landasan nilai KASIH.
“Setiap kehidupan yang dipenuhi iman adalah kesaksian, dan setiap kepemimpinan yang dilandasi nilai KASIH adalah doa yang diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujarnya.
Ia melihat masih banyak masyarakat yang rindu pada politik yang bersih, berintegritas, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
PINTU hadir untuk menjawab kerinduan itu menjadi rumah bersama yang inklusif, terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang latar belakang.
Nilai-nilai keadilan, kasih, integritas, dan pelayanan menjadi fondasi utama.
Bukan sekadar konsep, tetapi prinsip yang ingin diwujudkan dalam setiap langkah perjuangan politik.
Dalam pandangan Alida, perubahan tidak akan terjadi jika masyarakat hanya menjadi penonton.
Ia mengajak generasi muda, tokoh masyarakat, hingga seluruh elemen bangsa untuk ikut ambil bagian.
“Iman harus hidup dalam tindakan. Kebenaran harus diwujudkan dalam kehidupan sosial, dan KASIH harus hadir dalam pelayanan nyata,” katanya.
Melalui PINTU, ia ingin membangun kepemimpinan yang melayani di mana politik bukan alat untuk kepentingan pribadi, tetapi jalan pengabdian bagi masyarakat luas.
Meski tantangan ke depan tidak ringan, Alida meyakini bahwa kekuatan terbesar ada pada kebersamaan.
Partai ini tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh semangat kolektif mereka yang ingin melihat Indonesia yang lebih baik.
Kini, PINTU tidak hanya menjadi gagasan, tetapi telah menjadi gerakan yang PASTI untuk mewujudkan HARAPAN menjadi KENYATAAN.
Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan itu mungkin, tetapi siapa yang bersedia menjadi bagian di dalamnya.
PINTU telah dibuka. Saatnya tidak hanya melihat dari luar, tetapi melangkah masuk dan ikut membangun masa depan bersama. ***






