Pelukan yang Tertunda:  Cinta Seorang Ibu Tak Pernah Berhenti. (Luka sunyi seorang DENADA)

Oleh: Alida Handau Lampe

MAJALAHREFORMASI.com – Di antara begitu banyak kisah hidup yang berlalu di hadapan kita, ada cerita-cerita tertentu yang tidak hanya singgah di pikiran, tetapi menyentuh dan menetap di hati.

Kisah DENADA adalah salah satunya. Ia bukan sekadar kisah tentang seorang perempuan, melainkan tentang seorang ibu—tentang CINTA yang lahir dari rahim, bertahan di tengah keterbatasan, dan tetap menyala walau dipisahkan oleh keadaan.

Denada pernah berada pada masa muda yang tidak mudah dia hamil diluar nikah.

Dalam usia yang masih belia, ia mengambil keputusan besar: Melahirkan dalam sunyi anak dari darah dagingnya sendiri, lalu bertekad menjaga, melindungi, dan memeliharanya dengan seluruh kasih ibu.

Keputusan itu bukan keputusan kecil.
Itu adalah KEBERANIAN.
Itu adalah PENGORBANAN.
Itu adalah bentuk CINTA yang paling SUNYI tetapi juga paling TULUS seputih MERPATI.

Namun hidup tidak selalu memberi ruang bagi CINTA untuk tumbuh sebagaimana mestinya. Situasi dan kondisi kadang memaksa seseorang menerima jalan yang tidak pernah ia inginkan.

Dalam keadaan seperti itu, anak kesayangan yang begitu dicintai, Ressa, akhirnya diasuh oleh bude dan oom kandung Denada sendiri.

Mungkin keputusan itu lahir dari pertimbangan keadaan, dari tekanan hidup, dari harapan agar sang anak tetap memperoleh perlindungan dan masa depan yang lebih baik.

Tetapi betapapun masuk akalnya sebuah keputusan, hati seorang ibu tidak pernah benar-benar selesai dengan PERPISAHAN.

Sebab hubungan antara IBU dan ANAK bukan hanya soal siapa yang membesarkan, tetapi soal IKATAN BATIN yang tak kasatmata.

Ada pelukan yang TERTUNDA.
Ada RINDU yang tak selalu bisa diucapkan.

Ada doa-doa TULUS yang terus dipanjatkan dalam diam di malam malam SEPI.

Seorang IBU boleh jauh secara FISIK, tetapi CINTA nya tidak pernah benar-benar PERGI.

Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam air mata yang disembunyikan, dalam harapan yang tak pernah padam.

Karena itu, kisah seperti ini seharusnya tidak hanya dilihat dengan ukuran hukum, kebiasaan, atau pertimbangan praktis semata.

Ada sisi kemanusiaan yang jauh lebih dalam: HAK BATIN seorang IBU untuk dekat dengan anaknya, dan HAK seorang ANAK untuk merasakan KASIH UTUH dari ibu kandungnya sendiri.

Di sinilah kebesaran hati keluarga menjadi sangat berarti. Apabila keluarga yang selama ini mengasuh Ressa—bude dan oom kandung sendiri—dapat berlapang dada, maka sesungguhnya mereka sedang membuka pintu bagi sebuah pemulihan yang MULIA.

Mereka tidak kehilangan kehormatan dan cinta sebagai pengasuh yang telah berjasa membesarkan Ressa.

Sebaliknya, mereka justru menunjukkan kematangan KASIH: bahwa CINTA tidak harus memiliki secara mutlak, dan bahwa KASIH SEJATI seselalu memberi ruang bagi yang paling HAKIKI untuk kembali saling merangkul dalam kehangatan KASIH.

Anak tidak hidup hanya dari makanan, rumah, dan perlindungan.
Anak juga tumbuh dari pengakuan, asal-usul yang dikenalnya, dari pelukan yang menenangkan jiwanya, dari rasa bahwa dirinya dicintai sepenuhnya.

Demikian pula seorang IBU. Tak peduli seberapa KUAT ia tampak di hadapan dunia, akan selalu ada ruang SUNYI dalam dirinya ketika terpisah dari darah dagingnya sendiri. Ruang itu tidak bisa diganti oleh apa pun.

Dalam sisa hidup yang masih ada, bukankah INDAH bila yang dipilih adalah jalan DAMAI.

Jalan yang memungkinkan Denada memeluk anaknya tanpa rasa takut, tanpa tembok, tanpa jarak batin yang terus dipelihara.

Jalan yang membuat seorang anak tidak harus memilih antara ibu kandung dan keluarga yang membesarkannya.

Jalan yang menghadirkan KASIH sebagai rumah bersama, bukan sebagai perebutan.

Karena pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk mengabadikan LUKA.

Tetapi selalu cukup panjang untuk memulai MAAF, membuka pintu, dan mengizinkan CINTA menemukan jalannya pulang.

Semoga setiap ibu yang pernah dipisahkan oleh keadaan dari anaknya, diberi kesempatan untuk kembali mendekap buah hatinya.

Dan semoga setiap keluarga yang memegang peran dalam hidup seorang anak, diberi hati yang LAPANG untuk melihat bahwa CINTA tidak pernah berkurang ketika dibagikan—ia justru menjadi lebih SUCI, lebih luas, dan lebih menyembuhkan.

Selamat menyambut hari RAYA suci IDUL FITRI 1447 H. Saat yang TEPAT untuk saling memaafkan.

Semoga sebelum TAKBIR BERGEMA, DENADA dibukakan PINTU oleh YMK untuk bisa memeluk Ressa dalam hangatnya CINTA. Pelukan penuh KASIH TULUS seorang IBU ( Luka Sunyi TEROBATI). (*)