MAJALAHREFORMASI.com – Di tengah tren penurunan jumlah peserta didik di sejumlah sekolah Kristen, Sekolah Kristen harus tetap memberikan dampak bagi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Majelis Pendidikan Kristen (MPK), Handi Irawan, dalam perayaan HUT ke-76 MPK yang digelar di GKI Bungur, Jakarta Pusat, Jumat (6/6/2026) malam.
Menurut Handi Irawan, untuk menghadapi tantangan tersebut diperlukan langkah nyata melalui transformasi sekolah Kristen dengan prinsip *Fructus in Altum*. Prinsip ini diwujudkan melalui tujuh langkah strategis yang berfokus pada peningkatan kualitas guru, dukungan gereja, serta keterlibatan para pemangku kepentingan yang peduli terhadap kemajuan pendidikan Kristen. Selain itu, MPK juga mendorong persiapan pendirian 1.000 PAUD Kristen di berbagai daerah.
Pada kesempatan tersebut, Handi Irawan juga menyerahkan donasi sebesar Rp100 juta untuk mendukung pengembangan sekolah Kristen di Toraja.
Dalam sesi berikutnya, Pdt. Dr. Alfred Anggui memaparkan materi bertema *Strategi dan Roadmap Transformasi Sekolah Kristen*. Ia menceritakan perjalanannya bersama James Riady dalam mengembangkan sekolah Kristen unggulan, mulai dari Papua hingga Jakarta. Menurut Alfred, James Riady terus mendorong lahirnya sekolah-sekolah Kristen berkualitas.
Pdt. Alfred mengakui sempat meragukan gagasan tersebut karena banyak orang tua murid yang bahkan kesulitan membayar uang sekolah sebesar Rp50 ribu per bulan. Namun, berkat tekad yang kuat serta dukungan dari berbagai pihak, termasuk MPK, cita-cita tersebut akhirnya terwujud. Dari satu sekolah Kristen unggulan di Toraja, kini telah berkembang menjadi tujuh sekolah atau lebih.
Perayaan HUT ke-76 MPK juga diisi dengan khotbah yang disampaikan Pdt. Cordelia Gunawan, M.Th. Dalam khotbahnya, ia mengangkat kisah orang lumpuh yang dibawa empat orang untuk bertemu Yesus, sebagaimana dicatat dalam Markus 2:1–12. Karena tidak dapat masuk melalui pintu akibat kerumunan orang, mereka membuka atap rumah dan menurunkan orang lumpuh tersebut agar dapat berjumpa dengan Yesus dan memperoleh kesembuhan.
Menurut Pdt. Cordelia, kisah tersebut menggambarkan pentingnya kehadiran “empat orang” yang peduli dan mau berkorban demi kemajuan pendidikan Kristen. Menariknya, Alkitab tidak mencatat nama keempat orang tersebut, namun tindakan mereka membawa perubahan besar bagi kehidupan orang yang ditolong.
Ia juga menceritakan kisah inspiratif Wilma Rudolph, atlet Amerika Serikat yang pada masa kecilnya mengalami kelumpuhan akibat polio. Meski menghadapi keterbatasan fisik, ibunya tidak pernah menyerah mendampingi dan melatihnya berjalan, berlari, serta bangkit setiap kali terjatuh. Perjuangan dan ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Wilma Rudolph berhasil meraih tiga medali emas Olimpiade.
Melalui kisah itu, Pdt. Cordelia mengajak seluruh pengelola pendidikan Kristen untuk terus berjuang meningkatkan kualitas sekolah dengan ketekunan, kerja keras, dan tetap bersandar kepada Tuhan Yesus.
Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI yang diwakili Direktur Pendidikan Kristen, Swansono. Hadir pula Janet Jason, tokoh yang dikenal memiliki kepedulian terhadap pengembangan pendidikan Kristen di berbagai negara, termasuk Indonesia. (*)





