MAJALAHREFORMASI.com – Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha dan Ketua Umum Laskar Prabowo 08, Devi Taurisa tetap konsisten menjunjung tinggi budaya. Salah satunya melalui kebaya—busana yang ia anggap bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga merupakan identitas perempuan Indonesia, simbol kekuatan dan kelembutan perempuan Indonesia.

“Setiap kali saya pakai kebaya, rasanya seperti sedang berdialog dengan sejarah. Ada kelembutan, tapi juga kekuatan di sana.”
Kebaya: Dari Warisan Menjadi Gaya Hidup
Devi akrab dengan dunia yang menuntut ketegasan dan profesionalitas. Namun ia membuktikan, kebaya tetap bisa tampil modern tanpa kehilangan keanggunannya.
“Saya sering gunakan kain kebaya dengan atasan blouse atau kutubaru dalam bentuk yang lebih modern. Kebaya itu fleksibel. Mau dipakai ke rapat formal, acara kampus, atau peringatan nasional semua bisa. Tinggal bagaimana kita menggunakan dengan anggun dan kenyamanan dalam beraktivitas dengan percaya diri.”
Tampil Cantik & Bermakna di Hari Kartini
Salah satu momen paling membekas bagi Devi adalah saat memperingati Hari Kartini di sebuah acara nasional yang dihadiri oleh banyak tokoh dan pengusaha ternama.
Di momen istimewa itu, Devi tampil memukau dalam balutan atasan kutubaru hitam yang elegan dipadukan dengan kain batik bercorak dari Bin House. Ia memadukannya dengan tas tangan hitam bertekstur dan high heels beraksen glamor yang mempertegas tampilannya sebagai sosok perempuan modern yang tetap berakar pada budaya.
“Saya menghadiri Acara pembacaan surat-surat Kartini hari itu. Rasanya sangat menyentuh, apalagi ketika mengenakan kebaya. Bukan hanya mengenang, tapi juga menyuarakan semangat beliau lewat sikap dan busana.”
Penampilannya di momen tersebut tak hanya mencuri perhatian, tetapi juga menjadi simbol perempuan Indonesia masa kini kuat, berbudaya, dan berkelas.
Pesan untuk Generasi Perempuan Muda
Devi punya pesan tulus untuk generasi muda, khususnya para perempuan yang mulai tertarik pada kebaya:
“Jangan tunggu hari Kartini atau nikahan untuk pakai kebaya. Bikin versi kamu sendiri, padukan sesuai gayamu. Kebaya itu bisa banget tampil fun, elegan, dan berkarakter.”
Baginya, mengenakan kebaya bukan sekadar penampilan luar melainkan pernyataan identitas. Ia bangga karena kini semakin banyak perempuan muda yang mulai menggandrungi kebaya bukan karena kewajiban, tapi karena cinta.
“Perempuan bisa berperan di mana saja di rumah, di panggung bisnis, di ruang publik. Tapi jangan pernah lepaskan kebudayaan kita. Berkebaya itu bukan hanya tampil cantik, tapi juga menunjukkan siapa kita,” ucap Devi Taurisa sambil menutup perbicangan sore itu.
Seperti diketahui, Hari Kebaya Nasional hadir sebagai pengingat bahwa di balik helai kain dan corak batik, ada kekuatan perempuan yang tak boleh dilupakan. Dan lewat sosok seperti Devi Taurisa, kita diingatkan bahwa mengenakan kebaya adalah tentang menghormati akar sekaligus menatap masa depan dengan kepala tegak.***






