MAJALAHREFORMASI.com – Di Surabaya nama Pondok Tjandra Indah sudah lama menjadi ikon hunian prestisius. Namun di balik kesuksesan itu, ada sosok perempuan yang memilih menapaki jalannya dengan peluh dan doa, bukan sekadar warisan.
Dialah Jenny Sugiharto, perempuan kelahiran Surabaya yang kini berusia 51 tahun, seorang istri, ibu dari tiga anak, sekaligus Komisaris PT Pondok Tjandra Indah.

Jenny adalah generasi kedua dari klan Tjandra Sugiharto, perintis Pondok Tjandra Indah sejak 1981. Di dunia bisnis keluarga, ada satu stigma klasik: banyak perusahaan runtuh di tangan generasi penerus. Namun Jenny bersama saudaranya membuktikan bahwa stigma itu bisa dipatahkan.
Mereka tidak hanya menjaga nama besar keluarga, tapi justru membuatnya semakin bersinar.
Awal yang Sederhana: Dari Sales ke Kursi Komisaris
Perjalanan Jenny di dunia properti dimulai pada 1995. Bukan langsung di jajaran manajemen, melainkan dari barisan depan sebagai sales marketing. Dari situ ia belajar membaca pasar, memahami pelanggan, hingga menghadapi penolakan. Setelah itu, ia sempat menjadi kasir, posisi yang mengajarkannya teliti dan disiplin.
“Semua dimulai dari bawah. Baru setelah itu saya dipercaya mengelola proyek besar, sampai akhirnya hari ini dipercaya duduk sebagai komisaris. Tapi hati saya tetap sama: bekerja dari hati, bukan dari jabatan,’ kenangnya.
Bisnis Keluarga yang Justru Berkembang
Selama 44 tahun, PT Pondok Tjandra Indah bukan hanya bertahan, tetapi semakin kokoh dengan portofolio yang kian luas:
- Perumahan Pondok Tjandra Indah, “Pondok Indah versi Surabaya Timur.”
- Belleview Apartment, 400 unit hunian modern di pusat kota Surabaya.
Kehadiran proyek-proyek ini menegaskan bahwa tongkat estafet keluarga Sugiharto tidak berhenti di generasi kedua, melainkan tumbuh semakin kuat.
Tantangan, Doa, dan Pertolongan Tepat Waktu
Dunia properti penuh dengan tantangan: regulasi, dinamika pasar, hingga tuntutan konsumen. Namun Jenny selalu percaya bahwa di balik setiap kesulitan, ada pertolongan Tuhan yang datang di waktu yang tepat.
“Banyak kali saya melihat bagaimana Tuhan membuka jalan saat semua terlihat buntu. Roma 8:31 selalu menguatkan saya: Jika Allah di pihak kita, siapa lawan kita?” ujarnya.
Iman baginya bukan sekadar hiasan kata, tapi fondasi yang membuatnya berdiri teguh di tengah gelombang bisnis.
Antara Panggilan Bisnis dan Peran Keluarga
Di tengah kesibukannya, Jenny tetap sadar bahwa ia bukan hanya seorang komisaris, tetapi juga seorang istri dan ibu.
“Sesibuk-sibuknya urusan pekerjaan, saya tetap menjalankan peran saya sebagai penolong suami dan ibu bagi anak-anak. Kuncinya manajemen waktu. Mengatur pekerjaan, keluarga, dan waktu untuk diri sendiri dengan bijak,” tuturnya.
Kalimat sederhana itu mencerminkan keseimbangan yang menjadi rahasia banyak pengusaha: apa artinya sukses di luar, jika gagal di dalam rumah?

Bisnis Sebagai Ladang Pelayanan
Ada yang unik dari cara Jenny memandang bisnis. Bagi dia, setiap proyek, setiap rapat, bahkan setiap interaksi dengan karyawan adalah ladang pelayanan.
“Segala sesuatu yang kita kerjakan, baik di kantor maupun di rumah, adalah pelayanan. Moto saya: menjadi pribadi yang berdampak. Saya selalu mengingat Kolose 3:23: Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.”
Nilai-nilai yang ia pegang sederhana namun kuat: kerja keras, kejujuran, tidak merugikan orang lain, dan menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan Tuhan.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Kepada siapa pun yang tengah berjuang untuk usahanya Jenny berpesan: ‘Andalkan dan libatkan Tuhan dalam setiap rencana. Kita berusaha, kerja keras, dan minta hikmat, tapi jangan mudah menyerah. Karena dalam setiap rintangan, selalu ada jalan keluar.”
Dan ketika perjalanan hidupnya harus dirangkum dalam satu kalimat kesaksian, Jenny menjawab pelan, namun penuh makna:
“Sepanjang hidup saya ada up & down, masalah demi masalah, tapi saya tetap melihat kebaikan dan kasih Tuhan selalu menyertai kehidupan saya.”

Sosok Jenny Sugiharto adalah bukti bahwa warisan keluarga bisa bertahan bahkan berkembang, bila dijalankan dengan iman, integritas, kerja keras, dan kasih. (*)






