Viral Pagar Tinggi dan Kawat Berduri di Sejumlah Mal, Aristo Pariadji: Fenomena Ini Cerminan Pentingnya Membangun Kepercayaan Sosial

MAJALAHREFORMASI.com – Viral di media sosial, sejumlah pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran di Jakarta maupun Surabaya terlihat memasang pagar atau tembok pembatas yang lebih tinggi, bahkan sebagian dilengkapi kawat berduri. Fenomena tersebut memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat, termasuk dugaan bahwa langkah itu merupakan bentuk antisipasi terhadap isu rencana aksi demonstrasi besar-besaran.

Meski berbagai spekulasi terus berkembang di media sosial, belum ada keterangan resmi yang mengaitkan pemasangan pagar dan tembok pengaman tersebut dengan isu yang beredar.

Menanggapi fenomena tersebut, Aristo Purboadji Pariadji, tokoh yang aktif di organisasi sayap Partai Gerindra, Gekira, sekaligus dosen STT Tiberias ini,  mengajak masyarakat untuk memandang persoalan ini dari perspektif yang lebih luas, tidak semata-mata sebagai upaya pengamanan fisik, melainkan juga dalam konteks sosial, psikologis, dan dinamika yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurut Aristo, fenomena pagar atau tembok tinggi yang dipenuhi kawat berduri tidak hanya dapat dipahami sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai cerminan pentingnya tingkat kepercayaan (trust) dalam suatu masyarakat.

“Fenomena pagar atau tembok tinggi yang dipenuhi kawat berduri tidak hanya dapat dipahami sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai cerminan tingkat kepercayaan (trust) dalam suatu masyarakat,” ujar Aristo.

Ia menjelaskan bahwa negara-negara maju pada umumnya merupakan high-trust society, yakni masyarakat dengan tingkat saling percaya yang tinggi. Dalam kondisi tersebut, warga merasa aman terhadap sesamanya sehingga rasa curiga dan ketakutan relatif rendah.

Menurutnya, tingginya kepercayaan sosial memberikan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Biaya bisnis menjadi lebih efisien, kerja sama lebih mudah terjalin, serta tingkat korupsi cenderung lebih rendah.

Sebaliknya, Aristo menerangkan bahwa low-trust society ditandai oleh rendahnya kepercayaan antarsesama warga. Akibatnya, berbagai aspek kehidupan menjadi lebih mahal, lebih rumit, dan lebih rentan terhadap konflik.

Karena itu, Aristo mengingatkan bahwa perubahan menuju masyarakat yang lebih baik tidak selalu harus dimulai dari kebijakan-kebijakan besar. Menurutnya, transformasi dapat dimulai dari keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan setiap individu dalam kehidupan sehari-hari.

“Hidup jujur, berintegritas, menepati janji, menghormati hak orang lain, dan berbuat baik kepada sesama merupakan langkah-langkah sederhana yang memiliki dampak besar bagi kehidupan bersama,” katanya.

Ia mengibaratkan tindakan-tindakan kecil tersebut seperti riak di permukaan air yang lambat laun dapat membentuk gelombang perubahan yang besar. Bahkan, budaya saling percaya yang dibangun melalui jutaan tindakan sederhana diyakininya mampu menjadi benteng untuk mencegah berbagai persoalan sosial dan politik, termasuk konflik maupun kerusuhan.

Aristo pun mengimbau masyarakat agar menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial secara bijaksana dan tidak mudah terjebak dalam spekulasi. Menurutnya, yang lebih penting adalah menjadikan setiap peristiwa sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai kejujuran, integritas, dan saling percaya dalam kehidupan bermasyarakat.

“Jangan pernah meremehkan kekuatan satu tindakan baik. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh para pemimpinnya, tetapi juga oleh pilihan moral setiap warganya. Mari memilih kebenaran, kejujuran, dan kebaikan, sebab dari sanalah masyarakat yang saling percaya dapat dibangun,” pungkasnya. ***