​Pena dan Perisai: Diplomasi “Kuda Troya” Prabowo dalam Board of Peace

Oleh. Alida Handau Lampe Guyer, MSi

MAJALAHREFORMASI.com – ​Dalam rimba GEOPOLITIK yang kian tak menentu, KEDAULATAN sebuah bangsa sering kali bergantung pada satu hal: Keberanian PEMIMPIN nya untuk duduk di meja yang paling SULIT sekalipun.

Hari ini, keterlibatan aktif Presiden Prabowo Subianto dalam Board of Peace (BOP)—sebuah inisiatif stabilitas global yang digagas Donald Trump—menjadi titik balik penting bagi posisi tawar Indonesia di mata dunia.

​Bagi pengamat permukaan, bergabungnya Indonesia ke dalam lingkaran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel ini mungkin tampak seperti sebuah kompromi yang berisiko dan ketertundukan.

Namun, jika kita menyelami sejarah Tamanggong Ambo, kita akan menemukan bahwa strategi ini memiliki akar genetika intelektual yang kuat: strategi Tamanggong Ambo (1842).

​Strategi Infiltrasi: Belajar dari Ambo Hampir dua abad lalu, Ambo melakukan hal yang dianggap “mustahil”. Di tengah tekanan KOLONIAL Belanda, ia bersedia menerima baptisan KRISTEN.

Secara lahiriah, ia tampak menyerah pada identitas penjajah. Namun, secara strategis, itu adalah “Diplomasi Pintu Masuk”.

​Ambo menggunakan INDENTITAS tersebut untuk menyusup ke dalam sistem BIROKRASI Belanda, mengunci pengakuan HUKUM dan KEDAULATAN atas tanahnya, dan yang terpenting: mendirikan SEKOLAH. Ia “membeli” LITERASI dengan kompromi formal “IMAN”.

Tanpa keberanian Ambo untuk “masuk” ke lingkaran Belanda, generasi penerusnya takkan pernah memiliki PENA untuk melawan balik lewat HUKUM dan menjaga KEDAULATAN.

​Prabowo dan Kursi di Board of Peace:​Prabowo Subianto hari ini memainkan langkah serupa di panggung dunia. Board of Peace (BOP) inisiasi Trump adalah realitas geopolitik baru tahun 2026.

Alih-alih berdiri di luar pagar dan berteriak sebagai penonton, Prabowo memilih untuk menjadi salah satu arsitek di dalam.

​Di dalam BOP, Prabowo bersanding dengan 15 kekuatan dunia—termasuk blok Muslim kuat seperti Arab Saudi, Turkiye, dan UEA.

Keterlibatan ini bukanlah bentuk ketertundukan pada agenda Trump atau Israel, melainkan sebuah upaya “INFILTRASI KEDAULATAN”.

​Prabowo menyadari bahwa jika Indonesia absen dari meja ini, maka kontrak perdamaian dan aturan main ekonomi dunia hanya akan ditulis oleh AS dan sekutu dekatnya.

Dengan duduk di sana, Prabowo memastikan:​ Veto Kepentingan: Suara Indonesia (dan Global South) menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam setiap keputusan strategis yang melibatkan Israel dan stabilitas Timur Tengah.

​Perisai Geopolitik: Indonesia mendapatkan akses terhadap teknologi pertahanan tingkat tinggi (terutama melalui kolaborasi dengan Turkiye di dalam BOP) dan jaminan investasi energi dari Saudi.

​Stabilitas demi Kedaulatan: Prabowo paham bahwa musuh terbesar pembangunan adalah konflik global.

BOP adalah instrumen untuk menjaga agar badai perang tidak mencapai beranda Indonesia.

​Membangun Benteng di Tengah Hujatan

​Kritik yang menerjang Prabowo hari ini—tuduhan terlalu pragmatis atau condong ke Barat—adalah gema dari suara-suara yang dulu mencemooh Ambo sebagai “pengikut Belanda”.

Namun, sejarah membuktikan bahwa mereka yang berani “kotor” menggali fondasi adalah mereka yang sebenarnya sedang membangun benteng.

​Prabowo menggunakan BOP sebagai “Perisai” agar visi besar Indonesia Emas tidak terinterupsi.

Jika Ambo menukar identitas demi LITERASI, maka Prabowo menukar RETORIKA gagah gagahan demi STABILITAS nyata.

Ini adalah sebuah Realpolitik tingkat tinggi: sebuah kedaulatan yang diraih bukan dengan menjauhkan diri dari raksasa, melainkan dengan memegang kendali di tengah-tengah mereka.

​Epilog: Estafet Keberanian

​Dulu, Tamanggong Ambo memberikan PENA dan SEKOLAH kepada keturunannya melalui celah sempit birokrasi kolonial.

Kini, melalui Board of Peace, Prabowo sedang memberikan “Ruang Hidup” yang AMAN bagi seluruh rakyat Indonesia di tengah kepungan krisis global.

​Warisan TERBESAR Prabowo kelak bukanlah sekadar DIPLOMASI yang indah, melainkan KEBERANIAN untuk memastikan bahwa saat aturan DUNIA BARU diketok di Washington atau Yerusalem, ada tangan INDONESIA yang ikut memegang PALU SEJARAH.

TAMANGGONG AMBO telah mengajarkan kita: untuk selamat dari HARIMAU, terkadang kita harus berani masuk ke SARANG nya dan menjadikannya penjaga RUMAH kita sendiri. (*)