Oleh: Aidil Fitri, SH
MAJALAHREFORMASI.com – Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu agenda ekonomi paling strategis yang sedang dijalankan Indonesia. Di tengah perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, dan persaingan investasi yang semakin ketat, BUMN tidak lagi cukup diposisikan sebagai mesin pencetak dividen bagi negara. Lebih dari itu, BUMN harus menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi, penggerak industrialisasi, sekaligus katalis pembangunan nasional.
Dalam konteks itulah kepemimpinan Dony Oskaria sebagai salah satu figur utama dalam pengelolaan BUMN melalui Danantara menarik untuk dicermati. Ia melanjutkan fondasi transformasi yang telah dibangun beberapa tahun terakhir sekaligus menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks, yakni menjaga keberlanjutan reformasi, memperkuat tata kelola, dan memastikan setiap perusahaan negara mampu bersaing di tingkat global.
Ukuran keberhasilan transformasi tentu tidak semata-mata tercermin pada besarnya laba perusahaan. Namun, kinerja keuangan tetap menjadi salah satu indikator penting untuk melihat efektivitas strategi bisnis, efisiensi operasional, dan kualitas tata kelola perusahaan. Berdasarkan capaian tahun buku (FY) 2025 dibandingkan FY 2024, sejumlah perusahaan dalam ekosistem BUMN menunjukkan peningkatan kinerja yang cukup menggembirakan.
Pertamina, misalnya, membukukan laba sebesar Rp24,9 triliun atau meningkat sekitar 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. MIND ID mencatat laba Rp14,1 triliun atau tumbuh 31 persen, sementara Pupuk Indonesia membukukan laba Rp4,8 triliun atau melonjak sekitar 202 persen. Bank-bank Himbara juga tetap menunjukkan performa positif, dengan Bank Mandiri membukukan laba Rp21,3 triliun, BRI Rp21,2 triliun, dan BNI Rp7,2 triliun. Pelindo mencatat laba Rp1,5 triliun atau meningkat sekitar 169 persen.
Transformasi juga terlihat dari keberhasilan sejumlah perusahaan yang sebelumnya mengalami kerugian kemudian mampu kembali mencatatkan keuntungan. Krakatau Steel berbalik dari rugi Rp981 miliar menjadi laba Rp635 miliar. LEN berubah dari rugi Rp228 miliar menjadi laba Rp314 miliar, Kimia Farma dari rugi Rp160 miliar menjadi laba Rp108 miliar, Semen Indonesia dari rugi Rp66 miliar menjadi laba Rp106 miliar, serta Danareksa yang berhasil bertransformasi dari rugi Rp72 miliar menjadi laba Rp43 miliar. Secara keseluruhan, sedikitnya 22 perusahaan dalam ekosistem BUMN mencatatkan perbaikan kinerja keuangan sepanjang periode tersebut.
Data tersebut memberi sinyal bahwa transformasi korporasi mulai menghasilkan dampak nyata. Konsolidasi bisnis, restrukturisasi perusahaan, penguatan tata kelola, digitalisasi, serta peningkatan efisiensi telah mampu meningkatkan produktivitas sejumlah perusahaan negara. Namun, keberhasilan tersebut tidak boleh membuat publik berhenti bersikap kritis.
BUMN memiliki karakter yang berbeda dengan perusahaan swasta. Selain mengejar keuntungan, BUMN juga memikul amanat konstitusi untuk menghadirkan pelayanan publik, menjaga stabilitas ekonomi, membuka lapangan kerja, serta menjadi instrumen pembangunan nasional. Karena itu, keberhasilan BUMN tidak boleh semata-mata diukur dari laporan keuangan, tetapi juga dari sejauh mana manfaat yang dihadirkan bagi masyarakat.
Di sinilah tantangan terbesar kepemimpinan Dony Oskaria. Transformasi yang telah menghasilkan perbaikan kinerja finansial harus mampu dilanjutkan menuju perubahan yang lebih mendasar, yakni membangun budaya organisasi yang profesional, transparan, adaptif, dan berorientasi pada inovasi. Reformasi tata kelola harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sistem pengawasan, serta penerapan prinsip meritokrasi dalam pengisian jabatan strategis.
Pembentukan Danantara menjadi momentum penting dalam arah baru pengelolaan aset negara. Dengan mengintegrasikan pengelolaan aset strategis BUMN ke dalam satu ekosistem investasi yang lebih profesional, pemerintah berharap nilai perusahaan negara dapat terus meningkat sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar. Namun, besarnya aset yang dikelola juga menuntut akuntabilitas yang semakin tinggi. Transparansi, manajemen risiko, serta pengawasan yang independen merupakan prasyarat mutlak agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Ke depan, tantangan BUMN justru akan semakin kompleks. Disrupsi teknologi, transisi energi, perubahan rantai pasok global, hingga kompetisi investasi internasional menuntut perusahaan negara bergerak lebih adaptif, inovatif, dan kompetitif. Dalam situasi demikian, kepemimpinan tidak cukup hanya mengelola perusahaan, tetapi juga harus mampu membangun visi jangka panjang, mengorkestrasi kolaborasi lintas sektor, serta menciptakan budaya perubahan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan menilai kepemimpinan Dony Oskaria hanya dari besarnya laba yang berhasil dicapai BUMN dalam satu atau dua tahun. Penilaian sesungguhnya terletak pada kemampuannya membangun institusi yang sehat, profesional, berintegritas, dan memiliki daya saing global. Sebab, BUMN yang kuat bukanlah BUMN yang sekadar menghasilkan keuntungan besar, melainkan BUMN yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan strategis bagi Indonesia secara berkelanjutan.
Transformasi yang sedang berlangsung merupakan peluang besar untuk memperkuat fondasi perekonomian nasional. Apabila konsistensi reformasi, integritas, profesionalisme, dan tata kelola yang baik terus dijaga, BUMN berpotensi menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju. Di titik itulah kepemimpinan Dony Oskaria akan benar-benar diuji—bukan oleh besarnya kewenangan yang dimiliki, melainkan oleh warisan perubahan yang mampu ditinggalkannya bagi masa depan BUMN dan bangsa.***












