Ketum Laskar Prabowo 08 Puji Pidato Presiden Prabowo di PBB: Palestina Harus Merdeka, Israel Harus Aman

MAJALAHREFORMASI.com – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato penuh muatan sejarah dan seruan moral pada Sidang Umum PBB ke-80 di New York, Selasa (23/9). Dalam forum dunia itu, ia menekankan pentingnya persatuan umat manusia, keadilan, serta perdamaian yang hanya bisa dicapai melalui keberanian politik.

Di hadapan para pemimpin dunia, Prabowo menegaskan bahwa perbedaan ras, agama, dan etnis seharusnya tidak memisahkan, karena semua manusia adalah satu keluarga yang diciptakan setara dengan hak-hak yang tidak dapat dicabut. Ia mengutip semangat Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat yang menginspirasi gerakan demokrasi lintas benua seperti revolusi Perancis revolusi Rusia, dan revolusi Tiongkok menuju kemerdekaan.

“Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yang diadopsi PBB pada 1948, lahir dari prinsip itu: semua manusia diciptakan setara. Prinsip inilah yang membuka jalan menuju kemakmuran,” ujar Prabowo.

Namun, ia mengingatkan bahwa dunia modern justru masih dibayang-bayangi kontradiksi. “Di era ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu mengakhiri kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan, kita masih menghadapi rasisme, kebencian, penindasan, dan apartheid. Semua ini mengancam masa depan kita,” katanya.

Prabowo kemudian menyinggung sejarah kelam bangsa Indonesia di bawah penjajahan. “Bangsa saya mengenal penderitaan. Berabad-abad kami hidup di bawah penindasan, diperlakukan lebih hina daripada anjing di tanah air kami sendiri,” ucapnya. “Kami tahu artinya kemiskinan, kami tahu bagaimana ditolak dari kesempatan yang setara. Tapi kami juga tahu apa yang bisa dicapai melalui solidaritas dalam perjuangan meraih kemerdekaan.”

Ia mengapresiasi peran PBB yang memberikan legitimasi internasional bagi Indonesia di awal kemerdekaan serta dukungan lembaga-lembaga seperti UNICEF, FAO, dan WHO yang membantu mengatasi kemiskinan dan penyakit.

Namun, Prabowo menekankan bahwa dunia kini menghadapi tantangan yang tak kalah berat. “Hari demi hari kita menyaksikan penderitaan, genosida, dan pengabaian terang-terangan terhadap hukum internasional dan nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Dengan nada penuh tekad, Prabowo menyerukan harapan: “Kita tidak boleh menyerah. Kita tidak bisa mengorbankan cita-cita. Bersama-sama kita wujudkan mimpi kita.”

Pidato Prabowo mencapai puncaknya ketika ia menyuarakan dukungan penuh Indonesia terhadap solusi dua negara di Palestina. “Kita harus mengakui Palestina yang merdeka. Namun kita juga harus mengakui, menghormati, dan menjamin keselamatan Israel. Hanya dengan itu kita bisa memiliki perdamaian sejati perdamaian tanpa kebencian, perdamaian tanpa kecurigaan,” tuturnya.

Ia menutup pidatonya dengan pesan simbolis, merujuk pada sosok Abraham sebagai leluhur bersama: “Arab, Yahudi, Muslim, Kristiani, Hindu, dan Buddha harus hidup sebagai satu keluarga umat manusia. Mungkin ini sebuah mimpi, tetapi ini mimpi indah yang harus kita kerjakan bersama.”

Sementara itu ditempat terpisah Ketua Umum Laskar Prabowo 08, Devi Taurisa, menyampaikan apresiasinya atas pidato tersebut.

“Kami sangat bangga dan terharu mengikuti pidato Pak Prabowo yang penuh makna, sangat berkelas, dan menunjukkan kematangan sikap seorang pemimpin bangsa,” ujar Devi.

Kendati suasana ruang sidang sempat ricuh setelah pidato panjang Presiden Donald Trump yang berlangsung 57 menit, hal itu sama sekali tidak mengganggu konsentrasi maupun semangat Prabowo dalam menyampaikan pesan-pesan penting bagi perdamaian dunia.

“Pidato Pak Prabowo tetap tenang, fokus, dan menyentuh esensi. Bagi kami, momen UNGA ke-80 ini juga spesial, karena bukan kebetulan angka 8 selalu identik dan bermakna bagi beliau,” tandasnya. (*)