MAJALAHREFORMASI.com – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan pada tahun ini.
Capaian tersebut, menurut dia, menjadi tonggak penting di tengah dinamika geopolitik global yang penuh ketidakpastian.
“Puji Tuhan, tahun ini Indonesia berhasil swasembada pangan. Ini bukan hal kecil, karena ketahanan pangan sangat menentukan masa depan bangsa, terutama dalam situasi geopolitik dunia seperti sekarang,” ujar Maruarar saat menghadiri Perayaan Ibadah Syukur Awal Tahun yang diselenggarakan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Grha Oikumene, Jakarta, Jumat (9/1/2026) malam.
Maruarar menambahkan, swasembada pangan sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pangan dan energi sebagai dua sektor paling fundamental bagi kedaulatan nasional. Setelah keberhasilan di sektor pangan, pemerintah kini mengarahkan fokus besar pada terwujudnya swasembada energi.
“Ke depan, kita akan menjadi swasembada energi. Presiden menegaskan kepada kami bahwa pangan dan energi adalah dua hal yang tidak bisa ditawar. Tanpa keduanya, bangsa ini akan sangat rentan,” kata Maruarar.
Ia juga menyinggung potensi besar yang dimiliki Indonesia dari sisi sumber daya alam. Menurut dia, kekayaan seperti nikel, timah, dan berbagai komoditas strategis lainnya merupakan modal penting untuk membangun kemandirian energi nasional.
Selain itu, Maruarar mengungkapkan komitmen pemerintah dalam menata ulang pengelolaan lahan dan aset negara. Ia menyebutkan, selama ini banyak tanah yang dikuasai secara ilegal, dan pemerintah telah mulai melakukan penertiban.
“Banyak tanah yang sudah disita, dan ke depan yang ilegal-ilegal akan kita bereskan. Ini yang sedang dan terus kita lakukan. Mohon doanya agar semua berjalan dengan baik dan adil,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Maruarar secara khusus memberikan apresiasi kepada TNI dan Polri atas peran mereka dalam menjaga stabilitas dan mendukung ketahanan pangan nasional. Ia pun mengajak seluruh jemaat memberikan “tepuk pangan” sebagai ungkapan syukur dan penghargaan.
Acara ibadah syukur itu sendiri diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII), Pdt Daniel Ronda.
Dalam khotbahnya, Daniel mengangkat kisah Yusuf dalam Injil Matius 1:18–25. Ia menceritakan bagaimana Yusuf sempat bergumul ketika Maria, tunangannya, diketahui mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri.
“Yusuf adalah pribadi yang benar. Ia berniat menceraikan Maria secara diam-diam agar tidak mempermalukannya. Namun Tuhan berbicara melalui mimpi, menegaskan bahwa anak yang dikandung Maria berasal dari Roh Kudus. Dari situlah Yusuf belajar taat, meski tidak semua bisa dipahami dengan logika,” tutur Daniel.
Daniel juga berbagi kisah personal tentang pengalamannya dibully semasa kecil karena nama “Ronda” yang kerap dijadikan bahan ejekan. Namun, dari pengalaman itu ia belajar bahwa tantangan dalam keluarga dan kehidupan tidak pernah lepas dari penyertaan Tuhan.
“Di tengah pergumulan keluarga, satu pesan yang selalu saya pegang adalah Tuhan tidak pernah meninggalkan. Tuhan selalu bersama keluargaku,” ucapnya menutup khotbah. (*)








