Presiden Hadiri Perayaan Natal Nasional 2025, Saat Lantunan “Great Halleluya” Menyatukan Harapan Bangsa

MAJALAHREFORMASI.com – Lantunan lagu Great Halleluya yang dibawakan paduan suara Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menggema memenuhi ruang Jakarta Tennis Indoor Senayan, menciptakan suasana malam yang khidmat sekaligus menggetarkan hati.

Nada-nada pujian itu seolah merangkul ribuan tamu undangan yang hadir, membuka Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2025 dengan nuansa damai dan pengharapan.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hadir langsung dalam perayaan tersebut, didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, (5/1/2016), Senin malam.

Kehadiran keduanya menjadi simbol kuat kehadiran negara di tengah umat Kristiani yang merayakan Natal dalam semangat kebangsaan dan persaudaraan.

Perayaan Natal Nasional tahun ini mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24), tema yang disepakati bersama oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

Tema tersebut terasa relevan di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya keluarga sebagai fondasi bangsa.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo mengawali dengan ungkapan syukur dan penghormatan. “Saya ucapkan terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya untuk hadir di sini. Saya mengucapkan Selamat Natal kepada seluruh umat Kristiani, di mana pun berada,” ujar Presiden.

Ia juga berharap agar damai Natal membawa berkah dan kebaikan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lebih lanjut, Presiden menegaskan bahwa perayaan ini adalah bukti nyata jati diri Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, multi etnis, multi budaya, dan multi agama.

“Kita adalah bangsa yang sangat besar. Lebih dari 1.700 kelompok etnis, ratusan bahasa, dan berbagai agama, tetapi kita hidup dalam satu nusa dan satu bahasa karena kita punya niat yang sama,” katanya.

Dengan nada reflektif, Prabowo menyampaikan keyakinannya bahwa keberagaman Indonesia adalah takdir ilahi.

“Kita tidak bisa memilih lahir di mana, itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Saya merasa bangga menjadi presiden dari negara yang sangat besar, negara keempat terbesar di dunia,” ungkapnya.

Prabowo mengajak seluruh rakyat untuk bersyukur karena Indonesia dalam keadaan damai dan harmonis. Ia bahkan menyinggung hasil survei internasional yang menyebut Indonesia sebagai salah satu bangsa paling bahagia di dunia.

“Saya paham masih ada rakyat yang hidup di bawah garis sejahtera, tetapi mereka merasa bahagia. Ini membingungkan bangsa lain dan mengharukan bagi saya,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Prabowo juga mengenang masa mudanya saat belajar bela diri, ketika para gurunya selalu menanamkan satu pesan: berani, tetapi jangan menyimpan dendam dan kebencian. Nilai itu, menurutnya, relevan hingga hari ini.

Oleh sebab itu, Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu, saling menguatkan, membuka ruang kritik yang sehat, namun menolak fitnah dan kebohongan yang menimbulkan kebencian.

“Fitnah itu tidak baik, kebohongan itu tidak baik, apalagi kalau merusak persatuan kita,” tegasnya.

Dalam suasana yang lebih cair, Prabowo juga menyinggung latar belakang keluarganya yang beragama Kristen, seraya menyebut ajaran untuk mengasihi, bahkan ketika disakiti. Ucapan tersebut disambut tepuk tangan dan kehangatan para undangan.

“Jangan-jangan saya lebih hafal Alkitab dari saudara,” katanya sambil tersenyum, disambut riuh hadirin. Ia menutup sambutannya dengan kebanggaan terhadap teladan para pendiri bangsa. Prabowo mencontohkan Presiden Soekarno yang membangun Masjid Istiqlal dengan arsitek seorang Kristen.

“Saya juga bangun masjid di Hambalang, arsiteknya orang Katolik. Itu kehormatan bagi saya,” pungkasnya.

Menurut Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025 sekaligus Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, perayaan Natal kali ini dihadiri sekitar 3.500 tamu kehormatan.

Mereka, ujarnya, berasal dari berbagai latar pelayanan, mulai dari anak Sekolah Minggu, guru, koster gereja, paduan suara, anak yatim piatu, hingga penyandang disabilitas Kristen-Katolik.

“Kami ingin Natal Nasional benar-benar dirasakan oleh mereka yang selama ini melayani dengan tulus dan menjadi cerminan kasih Kristus di tengah masyarakat,” ujar Maruarar.

Seluruh tamu kehormatan menerima bantuan kasih sebesar Rp1.500.000 per orang, dengan total dukungan mencapai Rp4,5 miliar. Menariknya, Natal Nasional 2025 tidak menghadirkan artis nasional, melainkan penyanyi-penyanyi gereja lokal dari berbagai daerah Nusantara.

Bukan hanya itu saja,  panggung utama dihiasi pohon Natal setinggi delapan meter yang dirangkai dengan buah-buahan lokal Indonesia. Selain itu, para tamu juga disuguhkan dengan berbagai kuliner khas Nusantara.

Sebelum acara puncak, perayaan diawali dengan kebaktian Natal yang dipimpin Ketua PGPI, Pdt. Jason Balompapueng. Dalam khotbahnya, ia mengajak jemaat merenungkan kehadiran Tuhan di tengah duka dan bencana yang melanda bangsa.

“Di mana Tuhan di hari Natal ini? Tuhan hadir, Dia bertahta di atas pujian umat-Nya,” tuturnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi candle light. Pada kesempatan tersebut, Hashim Djojohadikusumo turut menyampaikan ucapan Natal. “Atas nama pribadi dan atas nama Panitia Natal Nasional, saya mengucapkan Selamat Natal. Tuhan Yesus memberkati dan menyertai kita semua,” ucap adik kandung Presiden Prabowo ini.

Perayaan Natal Nasional 2025 malam itu pun menjadi penanda bahwa di tengah perbedaan, Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang rukun, hangat, dan saling menjaga seperti keluarga besar yang dirangkul oleh damai Natal. (*)