Oleh: Dra. Alida Handau Lampe, M.Si
MAJALAHREFORMASI.com – Suatu tahap kehidupan, kita mulai menyadari bahwa diri kita dibentuk bukan hanya oleh peristiwa-peristiwa besar, melainkan juga oleh hal-hal kecil yang datang dengan senyap.
Sebuah percakapan di rumah, seorang guru yang memberi kepercayaan, atau sebuah buku yang kebetulan kita temukan pada masa kanak-kanak.
Bagi saya, salah satu pengaruh yang paling bertahan hingga kini adalah sebuah buku yang saya baca lebih dari enam puluh tahun lalu.
Buku itu berjudul Duabelas Warga Dunia, terjemahan Indonesia dari Twelve Citizens of the World karya Leonard S. Kenworthy, diterjemahkan oleh Tan Lan Hiang dan diterbitkan oleh Keng Po, Djakarta, pada tahun 1961.
Ketika pertama kali membacanya, saya hanyalah seorang anak perempuan kecil di Kampung Hampatung Kuala Kapuas yang gemar membuka buku-buku koleksi ayahnya.
Saya belum memahami makna diplomasi, hak asasi manusia, reformasi sosial, atau pembangunan bangsa.
Saya hanya kagum dan terpesona pada kisah-kisah manusia yang menjalani hidup dengan keberanian dan pengabdian.
Namun kini saya memahami bahwa buku itu tidak sekadar memberi pengetahuan. Ia membantu membentuk cara saya memandang kehidupan.
Rumah yang Membuka Jendela Dunia:
Saya dibesarkan dalam keluarga yang menghargai pendidikan. Rumah kami ramai oleh percakapan tentang masyarakat, pemerintahan, dan kehidupan bersama.
Ayah saya adalah tokoh yang dihormati. Dari beliau saya belajar tentang tanggung jawab, disiplin, dan pengabdian.
Di rumah yang sama saya menemukan dunia lain: dunia buku.
Melalui buku-buku itulah saya berkenalan dengan Kennedy, Gandhi, Soekarno, kisah-kisah kependekaran Kho Ping Hoo, dan akhirnya Duabelas Warga Dunia.
Tanpa saya sadari, membaca telah membuka jendela yang menghubungkan seorang anak perempuan kecil di Kampung Hampatung Kuala Kapuas dengan dunia yang jauh lebih luas.
Dua Belas Tokoh, Dua Belas Jalan Kehidupan:
Yang membuat Duabelas Warga Dunia istimewa adalah keberagaman tokohnya. Di dalamnya terdapat diplomat, pendidik, reformis sosial, ilmuwan, dokter, negarawan, aktivis kemanusiaan, musikus, hingga pembela hak narapidana.
- Ada Ralph Bunche,
- Pierre Ceresole,
- Mahatma Gandhi,
- Toyohiko Kagawa,
- Fridtjof Nansen,
- John Boyd Orr,
- Eleanor Roosevelt,
- Domingo Sarmiento,
- Albert Schweitzer,
- Sun Yat-sen,
- Arturo Toscanini, dan
- Mathilde Wrede.
Sebagai anak kecil saya mengagumi kebesaran mereka. Sebagai orang dewasa saya memahami pelajaran yang lebih penting. Mereka memperlihatkan bahwa tidak ada satu jalan tunggal menuju kehidupan yang bermakna.
Ada yang mengabdi melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, seni, pelayanan sosial, perjuangan kemanusiaan, maupun pembangunan bangsa.
Mereka berbeda dalam profesi dan latar belakang, tetapi memiliki satu kesamaan:
Mereka hidup untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Apa yang Tinggal Setelah Puluhan Tahun berlalu?
Seiring bertambahnya usia, cara saya membaca pun berubah. Ketika kecil saya mengagumi keberanian Gandhi. Kini saya lebih memahami pengendalian dirinya.
Ketika kecil saya terpesona oleh petualangan Nansen. Kini saya lebih menghargai kepeduliannya kepada para pengungsi.
Ketika kecil saya mengagumi Schweitzer sebagai dokter di Afrika. Kini saya lebih memahami keberaniannya memulai kembali panggilan nuraninya pada saat hidupnya telah mapan.
Saya tidak lagi mengingat semua rincian kisah yang pernah saya baca.
Yang tinggal adalah arahnya.
Sebuah keyakinan bahwa pengetahuan harus berguna, pendidikan harus memanusiakan manusia, dan kehidupan menemukan maknanya ketika memberi manfaat kepada orang lain.
Menjadi Warga Dunia:
Bertahun-tahun kemudian saya mulai memahami makna lain dari istilah “warga dunia”.
Menjadi warga dunia tidak berarti meninggalkan akar tempat kita berasal. Sebaliknya, menjadi warga dunia berarti membawa nilai-nilai terbaik dari akar yang kita miliki untuk berkontribusi kepada masyarakat yang lebih luas.
Nilai-nilai yang saya temukan dalam Duabelas Warga Dunia juga membantu saya memahami tokoh-tokoh pada zaman sekarang ini.
Salah satu yang sering saya renungkan adalah Prabowo Subianto. Terlepas dari beragam pandangan masyarakat terhadap dirinya, saya melihat seorang pemimpin yang berbicara tentang kemandirian bangsa, ketahanan pangan, kedaulatan negara, dan martabat Indonesia.
Dalam pandangan saya, komitmen terhadap kepentingan rakyat dan kedaulatan bangsa merupakan bagian dari cita-cita yang sangat menyentuh akarnya, patut didukung dan dihargai.
Pengalaman hidup mengajarkan bahwa tokoh-tokoh besar sering kali diperdebatkan pada zamannya.
Karena itu, yang penting bukanlah apakah kita selalu setuju dengan seorang tokoh, melainkan apakah kita bersedia melihatnya secara utuh, adil, dan terbuka.
Penutup:
Kini saya memahami bahwa ada buku-buku yang tidak pernah benar-benar selesai dibaca. Kita membacanya sekali dengan mata seorang anak. Kita membacanya kembali dengan pengalaman seorang dewasa.
Lalu pada suatu hari kita menyadari bahwa buku itu sesungguhnya ikut membentuk cara kita menjalani kehidupan.
Demikianlah hubungan saya dengan Duabelas Warga Dunia.
Lebih dari enam puluh tahun telah berlalu sejak pertama kali saya membuka halamannya. Namun hingga hari ini saya masih merasakan kehadiran nilai-nilai yang dibawa oleh kedua belas tokoh di dalamnya.
Dan ketika saya menoleh ke belakang, dari seorang anak perempuan di Kampung Hampatung Kuala Kapuas hingga seorang nenek yang masih belajar pada usia tujuh puluh satu tahun, saya memahami satu hal sederhana:
Hidup yang bermakna tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, melainkan oleh seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan bagi sesama.
Mungkin itulah pelajaran paling berharga yang diberikan sebuah buku kepada saya. Dan mungkin pula, tanpa saya sadari, saya masih berbicara dan berjalan bersama dua belas warga dunia itu hingga hari ini.***












