Potret Gereja GBI Kini dan Seruan Menuju Sinode Am

“Saya khawatir, jangan sampai gembala-gembala gereja kecil meninggal dalam kepahitan. Masuk neraka karena terluka oleh sistem. Itu mengerikan.”
– Pdt. Dr. Japarlin Marbun –

MAJALAHREFORMASI.com –  Di balik kemegahan beberapa gereja besar di lingkungan Gereja Bethel Indonesia (GBI), tersimpan potret yang kurang terdengar: ketimpangan yang kian lebar antara gereja-gereja besar dan gereja-gereja kecil. Realitas ini menjadi sorotan tajam dari Pdt. Dr. Japarlin Marbun, tokoh senior GBI yang pernah menjabat sebagai Ketua BPH GBI, dan saat ini menahkodai BAMAGNAS, dan Ketua Umum YASKI.

“Saya melihat jarak yang sangat jauh. Bukan hanya antara gereja besar dan kecil, tapi juga antara gereja-gereja yang berdiri sendiri dengan gereja-gereja yang berada dalam keluarga besar. Kalau berhadapan di lapangan, itu seperti pertarungan antara gajah dan pelatuk,” ujarnya tegas.

Di bawah satu payung organisasi, realitas pelayanan GBI ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Bersaing untuk memenangkan jiwa dalam satu wilayah pelayanan yang sama, gereja-gereja di GBI nyatanya berada dalam kompetisi yang bagi sebagian tidak sehat.

Gereja Kecil Terancam Mati Perlahan

“Gereja besar punya fasilitas, punya SDM, punya daya tarik. Sementara gereja kecil sudah digembalakan puluhan tahun, tiba-tiba jemaatnya pindah ke gereja besar. Ramai-ramai. Tanpa sisa,” ungkap Japarlin dengan nada getir.

Ia tidak menyalahkan jemaat. “Wajar kalau jemaat mencari tempat ibadah yang lebih nyaman. Tapi apakah itu berarti gereja kecil harus mati pelan-pelan? Ini yang harus kita pikirkan.”

Lebih lanjut, ia mengangkat isu yang jauh lebih dalam lukanya para gembala. “Yang saya takutkan, mereka kecewa, kepahitan, lalu meninggal dalam kepahitan itu. Ini bukan soal jumlah jemaat saja. Ini soal keselamatan kekal,” katanya dengan nada prihatin.

Bagi Japarlin, tidak cukup sekadar menjaga eksistensi gereja kecil. Gereja kecil harus tetap bisa bertumbuh sesuai kapasitas dan panggilannya. Sebaliknya, gereja besar juga harus didorong untuk semakin berkembang tanpa rasa bersalah.

Ia mencontohkan dunia kuliner: “Kentucky Fried Chicken punya market sendiri. McDonald juga. Tapi warteg tidak mati, bahkan makin berkembang. Kita harus belajar dari itu. Gereja pun bisa seperti itu,” jelasnya.

Solusi Menuju Sinode Am GGBI

Sebagai bentuk pemecahan, Japarlin mengusulkan sebuah ide radikal namun visioner: GBI berkembang menjadi Sinode Am, bernama GGBI Gabungan Gereja Bethel Indonesia.

“Dalam struktur ini, gereja-gereja besar seperti milik Pdt. Niko Njotorahardjo, GBI Rock-nya Pdt. Arifin, atau jaringan milik Pdt. Rubin Adi bisa dikelola sendiri. Sementara gereja-gereja kecil tetap hidup dalam wadah yang sesuai dengan kapasitas dan wilayahnya.”

Format sinode Am ini memberikan ruang yang lebih luas bagi keberagaman model pelayanan di GBI. Ia juga mendorong agar sekolah teologi GBI khususnya STT Bethel Petamburan yang sudah melahirkan banyak doktor teologi ikut ambil bagian aktif dalam penelitian untuk mencari model organisasi gereja yang paling cocok di era ini.

“Dengan adanya aturan yang jelas, gereja besar tidak perlu menahan diri terus karena takut melukai yang kecil begitu juga sebaiknya,” tegasnya.

Menurut Japarlin, sinode Am akan memungkinkan setiap jaringan GBI berkembang sesuai karakter masing-masing, dengan identitas yang kuat namun tetap dalam satu payung yang sama.

“Saya membayangkan suatu hari, GGBI ini menjadi rumah besar yang terdiri dari banyak ‘keluarga gereja’, bukan lagi satu model untuk semua. Dan semuanya bisa hidup, tumbuh, dan saling memberkati.” ****

Tinggalkan Balasan