MAJALAHREFORMASI.com -Di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial yang membentuk cara hidup generasi masa kini, pertanyaan tentang relevansi semangat kebangkitan nasional kembali mengemuka. Bagi banyak kalangan, nasionalisme bukan lagi sekadar seremoni tahunan atau upacara bendera, melainkan bagaimana bangsa ini mampu menjaga identitas dan persatuannya di tengah perubahan zaman yang bergerak sangat cepat.
Pandangan itu juga disampaikan Nana Sarinah, sosok pengusaha perempuan yang dikenal aktif dalam dunia pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Sebagai pemilik Kipina Kids Indonesia, Nana Florist serta pengurus DPP IWAPI, Nana menilai Hari Kebangkitan Nasional 2026 justru memiliki makna yang semakin penting di era digital.
“Semangat kebangkitan nasional sangat relevan. Di era digital saat ini, semangat itu menjadi fondasi untuk menjaga persatuan, identitas bangsa, dan rasa cinta tanah air,” ujar Nana dalam keterangannya.
Menurut dia, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk berkarya dan berinovasi, bukan malah memecah belah masyarakat melalui polarisasi, hoaks, maupun konflik sosial yang kerap dipicu di ruang digital.
Perempuan yang juga pernah mendapat apresiasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atas kontribusinya itu menilai, tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya soal ekonomi global, tetapi juga bagaimana menjaga karakter generasi penerus.
Di balik kesibukannya mengembangkan usahanya termasuk Nana Florist, Nana melihat keluarga sebagai benteng utama pembentukan karakter bangsa. Baginya, pendidikan nasionalisme tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau negara.
“Keluarga menjadi tempat pertama menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan rasa cinta tanah air,” katanya.
Ia percaya, masyarakat juga memiliki peran besar dalam membentuk generasi muda yang berintegritas dan tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya pengaruh budaya global.
Bagi Nana, media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, platform digital mampu menjadi ruang untuk menyebarkan edukasi, budaya, hingga prestasi anak bangsa. Namun di sisi lain, jika tidak disertai literasi digital yang baik, media sosial juga dapat melahirkan perpecahan dan mengikis nilai kebangsaan.
“Karena itu literasi digital menjadi sangat penting. Anak muda harus cerdas memilah informasi dan tetap memiliki rasa tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” tuturnya.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, menurut Nana, harus menjadi momentum refleksi bersama bahwa Indonesia hanya bisa maju jika tetap bersatu dan adaptif menghadapi perubahan global.
Ia menyebut tantangan seperti perkembangan teknologi, persaingan ekonomi dunia, hingga perubahan sosial membutuhkan semangat gotong royong dan inovasi yang kuat.
“Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa bangsa ini harus terus bangkit dan bergerak maju tanpa kehilangan nilai persatuan,” katanya.
Meski mengakui pendidikan Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif, Nana menilai masih ada pekerjaan rumah besar yang harus dibenahi, terutama terkait pemerataan akses pendidikan dan penguatan karakter generasi muda.
“Banyak anak-anak Indonesia yang sudah berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Tetapi kualitas pendidikan, kreativitas, dan pendidikan karakter tetap harus diperkuat agar lahir generasi yang unggul dan berdaya saing global,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Nana menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda Indonesia. Menurut dia, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh anak-anak muda yang hari ini tumbuh di tengah dunia yang serba digital dan cepat berubah.
“Teruslah belajar, berkarya, dan berinovasi dengan tetap menjunjung nilai moral, budaya, dan cinta tanah air. Jadilah generasi yang cerdas, tangguh, dan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan dihormati dunia,” imbuhnya sambil menutup perbincangan siang itu. ***






