MAJALAHREFORMASI.com – Ada sesuatu yang berbeda dari cara sosok wanita cantik bernama Dumasi Marisina Magdalena Samosir memandang sebuah lukisan. Baginya, kertas bukan sekadar tempat menuangkan warna, garis dan bentuk. Di balik setiap karya, selalu ada pesan yang perlahan muncul, bahkan terkadang datang tanpa pernah ia rencanakan sebelumnya.
Perempuan yang akrab disapa Dumasi atau Mbak Dum / Bu Dum itu bahkan menemukan pengalaman spiritual ketika berada di bawah permukaan laut. Di tengah kesunyian saat diving, ketika komunikasi dengan manusia lain praktis terputus, ia justru merasa sedang berkomunikasi dengan Tuhan.
“Itu sebenarnya moment saya berkomunikasi dengan Tuhan. Just YOU and me,” tutur Dumasi saat ditemui di pameran lukisannya di kawasan Jakarta Pusat.
Melukis dan diving kemudian menjadi dua bagian yang sulit dipisahkan dari hidupnya. Keduanya membawa Dumasi pada pengalaman yang berbeda, tetapi bermuara pada satu hal: rasa syukur.
Berawal dari pemandangan Danau Toba
Ketertarikan Dumasi terhadap dunia lukis sebenarnya bermula dari sebuah perjalanan sederhana.
Pada 2013, sepulang dari Danau Toba bersama tim kantornya, ia mendapatkan inspirasi dari pemandangan yang setiap hari ia lihat selama berada di sana.
Kebetulan kamar tempatnya menginap menghadap langsung ke Danau Toba.
Pemandangan itulah yang kemudian ia tuangkan ke dalam kanvas menggunakan cat minyak.
Dumasi pertama kali belajar melukis semasa sekolah SMP dan SMA di Semarang antara tahun 1977-1983, lalu vakum hingga kembali berkarya di tahun 2013.
“Awalnya saya kembali tertarik kembali melukis pada 2013 sepulang dari Danau Toba dengan tim kantor. Kita menginap di Simalem Resort dan kebetulan kamar saya menghadap Danau Toba. Itulah yang saya lukis dengan oil on canvas dengan bimbingan Guru Oil on Canvas saya – Ibu Yunti Ars,” kenangnya.
Dumasi berguru kepada Coach Yunti, awalnya justru untuk menemani putra bungsunya – Ryutaro, belajar melukis.
Namun perjalanan mereka akhirnya berbeda.
Putranya berhenti, sementara Dumasi justru semakin serius menekuni dunia seni lukis.
“Saya berguru dengan guru lukis saya bersama putra saya. Ternyata anak saya tidak lanjut, saya yang lanjut,” ujarnya.
Namun perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus.
Cat minyak dan penggunaan thinner ternyata membuat suaminya kerap bersin ketika Dumasi sedang melukis. Kondisi itu membuat aktivitas melukisnya sempat terhenti.
Sekitar 2017, ia memilih berhenti melukis.
Pandemi justru membuka jalan baru
Dumasi kembali menyentuh dunia seni pada masa pandemi Covid-19, tepatnya pada 2021.
Ia mulai belajar melukis kembali bersama komunitas Ladies Bankers, dalam situasi pandemi yang saat itu membatasi berbagai aktivitas. Tentu belajarnya secara online.
Dari sana, perjalanan artistiknya menemukan babak baru.
Ia kemudian diajak seorang teman mengikuti kelas online watercolor bersama seorang pelukis yang menurutnya sudah tergolong maestro.
Masalahnya, hampir seluruh peserta kelas sudah berada pada tingkat advance.
Alih-alih mundur, Dumasi memilih menonton dan mengabadikan saja proses belajar tersebut tanpa ikut langsung melukis seperti peserta lainnya.
“Saya rekam saja selama 3 kali sesi dalam tiga minggu berturut-turut,” katanya.
Dari teknik watercolor itulah ia menemukan kenyamanan baru.
Tidak seperti cat minyak yang sebelumnya membuat suaminya terganggu oleh aroma minyak dan thinner, watercolor membuat suaminya bisa tetap berada di dekatnya ketika Dumasi melukis.
Dan bagi Dumasi, hal itu menjadi sebuah kesadaran penting.
Ia merasa telah menemukan bentuk seni yang memang harus ia tekuni.
“Setelah menggunakan metode watercolor, suami saya nyaman bisa di samping saya menemani. Saya akhirnya menyadari, inilah seni yang harus saya tekuni karena suami saya nyaman dan tidak terganggu,” ujarnya.
Dumasi lalu berguru secara aktif dan rutin dengan Coach Agus Budiyanto – Maestro Watercolor yang sangat diperhitungkan di dunia Watercolor painting. Sejak saat itu, watercolor painting menjadi bagian penting dalam perjalanan melukisnya hingga sekarang.
Dari Air Terjun di Islandia hingga Dunia Bawah Laut
Inspirasi Dumasi tidak pernah berhenti pada satu tempat.
Suatu ketika ia berkunjung ke Islandia. Di sana, pemandangan air terjun menarik perhatiannya. Ia kemudian melukis 2 pemandangan air terjun yang dia kunjungi.
Tak disangka, ketika karya itu dipamerkan bersama 3 lukisan underwater lainnya, ke-5 lukisan tersebut langsung terjual, SOLD OUT.
Pengalaman itu semakin menguatkan langkahnya.
Jika sebelumnya inspirasi datang dari apa yang dilihat di daratan, belakangan dunia bawah laut justru menjadi sumber ide yang semakin kuat.
Apa yang ia lihat ketika scuba diving kerap diterjemahkan menjadi karya di atas kertas.
Sejak 2022, Dumasi mulai serius menekuni scuba diving. Hingga kini, ia telah melakukan 326 kali penyelaman di Indonesia seperti Pulau Weh di Sabang-Aceh, Kepulauan Seribu dan Banyuwangi di Pulau Jawa, Bulukumba, Bunaken, Bangka, Likupang, Selat Lembeh, Pulau Dua di Luwuk di Pulau Sulawesi, Maratua, Donggala, Parigi di Kalimantan, Tulamben, Amed, Nusa Penida dan Pulau Menjangan di Bali, Lombok dan Sumbawa Barat di NTB serta Raja Ampat di Papua hingga ke Mapia Island di dekat perbatasan Indonesia dengan Filipina.
Ia bahkan sedang mempersiapkan sebuah buku mengenai perjalanan diving-nya.
Jari Terputus di Sabang, tetapi Justru Menemukan Makna Baru
Perjalanan diving Dumasi juga tidak selalu berisi pengalaman indah.
Pada Mei 2025, ketika melakukan diving di perairan Sabang bersama teman-temannya, sebuah insiden membuat salah satu ujung jarinya putus.
Saat itu, boat yang digunakan kebetulan tidak memiliki pengaman pada sisi kiri dan kanan. Memasuki hari ketiga, mereka hendak melakukan penyelaman ketika tiba-tiba angin kencang datang.
Boat lain kemudian menghantam boat yang Dumasi naiki dan mengalami benturan.
Dalam situasi spontan tersebut, Dumasi secara refleks memegang bagian sisi boat.
Di situlah ujung jarinya terkena benturan.
“Saya yang ikat sendiri, lalu ke puskesmas di pulau kecil, sebelum dilakukan operasi di RSUD Sabang”, tuturnya. Bahkan Dumasi yang menelepon Dokter Bedahnya di Jakarta untuk memberi masukan kepada Dokter Residen yang sedang mengambil Spesialis Bedah di Sabang dan saat itu sedang bertugas di RSUD Sabang.
Namun di balik kejadian yang tak terduga tersebut, Dumasi kemudian menemukan sebuah perspektif yang berbeda.
Rombongan diving mereka melihat insiden itu justru bisa jadi telah menyelamatkan mereka dari sesuatu yang lebih besar.
Pasalnya, apabila kecelakaan tersebut tidak terjadi, mereka seharusnya sudah berada di bawah air dimana pada saat yang hampir bersamaan, terjadi gempa.
Dengan demikian, rencana untuk melihat Volcano-Underwater Hot Spring di bawah air batal karena insiden yang dialaminya.
Bagi Dumasi, peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan.
Ada sesuatu yang kemudian ia yakini sebagai perlindungan Tuhan.
Diving Membuatnya Demakin Dekat dengan Tuhan
Jika diminta memilih antara diving dan melukis, Dumasi mengaku tidak mampu menentukan salah satunya.
Baginya, keduanya sudah menjadi bagian dari kehidupan.
“Kalau disuruh memilih diving atau melukis, saya tidak bisa memilih. Diving dan melukis sudah bagian dari hidup saya,” katanya.
Bahkan, menurut Dumasi, aktivitas diving juga membawa pengaruh positif bagi kehidupan keluarganya. Ia mengatakan kondisi kesehatan suaminya saat ini jauh lebih baik setelah ikut diving.
Namun lebih dari itu, pengalaman berada di bawah permukaan laut membuat rasa syukur Dumasi kepada Tuhan semakin kuat.
Di sana, ia melihat langsung keindahan kehidupan yang selama ini mungkin tidak terlihat dari permukaan.
Salah satunya ketika menyaksikan seekor gurita meletakkan telurnya ke dalam karang-karang dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan demi menjaga telurnya aman dari predator hingga menetas. Dumasi bahkan diizinkan Tuhan melihat telur tersebut saat menetas beberapa minggu kemudian setelah diletakkan oleh induknya di antara karang.
Baginya, pengalaman semacam itu merupakan bentuk komunikasi yang sangat personal dengan Sang Pencipta.
“Ketika kita berada di bawah air atau diving, rasa syukur kita kepada Tuhan itu sangat luar biasa melihat karya-Nya. Misalnya bagaimana melihat octopus menaruh telurnya dan menetas,” tuturnya.
Di bawah laut, Dumasi juga terbiasa menyanyi dan berdoa.
Sebab, tidak ada percakapan panjang dengan sesama penyelam. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.
“Di bawah kita tidak bisa ngobrol seperti biasa, hanya dengan hand signals. Jadi bernyanyi, berdoa mengucap syukur, itulah yang selalu saya lakukan saat diving karena terpana dengan ciptaaanNYA”, katanya.
Setelah Kehilangan Ujung Jari, Goresan Kuasnya Justru Berubah
Ada satu perubahan lain yang ia rasakan setelah peristiwa di Sabang.
Dumasi merasa hasil lukisannya justru menjadi jauh lebih bermakna.
Sentuhan tangannya berubah. Gaya melukisnya menjadi lebih lepas.
“Saya merasa setelah peristiwa itu, sentuhan saya beda banget. Gayanya lebih lepas,” ujarnya.
Ia tidak pernah menganggap ada karya yang lebih penting dibanding karya lainnya.
Semua lukisan memiliki tempat istimewa baginya karena tidak pernah ada karya yang benar-benar sama.
Dalam proses melukis, Dumasi bahkan terbiasa menyiapkan sedikitnya 10 lembar kertas sekaligus. Alasannya sederhana: proses pengeringan watercolor membutuhkan waktu.
Namun dari sekian banyak karya tersebut, pernah ada satu lukisan yang membuatnya sendiri terkejut.
Awalnya, ia hanya melukis seorang diver dan segerombolan ikan (schooling fish) diantara abstraksi underwater world.
Tetapi setelah lukisan mengering, ia justru melihat sesuatu yang tidak pernah direncanakannya.
Ada bentuk wajah yang menurutnya menyerupai dirinya ketika masih remaja.
“Saya tidak menyangka ada wajah saya di sana semasa remaja. Padahal awalnya ada diver, ada ikan, tetapi anehnya sesudah kering jadi ada gambaran wajah mirip saya saat remaja,” katanya.
Bagi Dumasi, pengalaman tersebut kembali memperkuat keyakinannya bahwa sebuah lukisan terkadang membawa pesan yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh sang pelukis.
Setiap Lukisan Menyimpan Pesan
Pada akhirnya, bagi Dumasi, makna melukis jauh lebih dalam daripada sekadar menghasilkan karya seni.
Melukis menjadi cara baginya untuk menemukan kedekatan dengan Tuhan.
Ia percaya, setiap kali menggoreskan warna di atas kertas, selalu ada pesan yang hadir.
“Setiap melukis pasti ada pesan. Seolah Tuhan bicara kepada saya dalam setiap lukisan,” ucapnya.
Pesan itu bisa datang dalam bentuk yang berbeda-beda.
Namun ada satu benang merah yang selalu ia temukan: rasa syukur.
“Gratefulness, kebaikan Tuhan, semua tersirat di situ,” tuturnya.
Karena itu, setiap karya yang lahir dari tangannya bukan hanya tentang warna, objek atau teknik. Ada pengalaman, perjalanan, keselamatan, berkat, rasa syukur bahkan percakapan batin yang ikut tertuang di dalamnya.
Ketika Seni Menjadi Berkat bagi Orang Lain
Bagi Dumasi, perjalanan sebagai pelukis juga tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Hasil penjualan lukisannya ia gunakan untuk membantu anak-anak MDVI (Multiple Disability with Visual Impairment) di sebuah yayasan mandiri di Dolok Sanggul, YPHM (Yayasan Pendidikan Hambatan Majemuk).
Pada tahun 2025, sebanyak 30 lukisan karya Dumasi diadopsi oleh para kolektor dalam pameran amal 8 Women 1 Papua. Seluruh hasil penjualan lukisan tersebut, 100%, didonasikan untuk mendukung pendidikan anak-anak dari pedalaman Papua yang bersekolah di SLH Moria, Lippo Village. Bagi Dumasi, seni tidak hanya menjadi sarana ekspresi dan kreativitas, tetapi juga memiliki kekuatan untuk membawa perubahan nyata serta membuka kesempatan bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Ia berharap talenta yang dimilikinya tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga dapat memberi manfaat bagi orang lain.
“Saya berharap talenta saya tetap bisa digunakan, untuk support mereka,” katanya.
Kalimat itu sekaligus menggambarkan bagaimana Dumasi memandang seni.
Seni bukan hanya tentang menghasilkan sesuatu yang indah, melainkan tentang bagaimana keindahan itu bisa kembali menjadi kebaikan.
Bahwa di balik setiap keindahan, selalu ada alasan untuk bersyukur.
Sosok di Balik Kanvas
Ir. Dumasi Marisina Magdalena Samosir, MM, merupakan sosok profesional yang juga aktif di berbagai bidang. Ia menjabat sebagai Direktur PT Asuransi Sinar Mas, Komisaris Utama PT Asuransi Simas Jiwa, Ketua Dewan Pengawas DPLK Simas Jiwa. Dumasi juga merupakan pemilik CHADS (Coffee Hotel Akasi Dolok Sanggul) di Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara dan CHADS Dive Resort Lembeh di Bitung, Sulawesi Utara.
Di bidang kreativitas, Dumasi juga menjadi pembina Rumah Kreatif Sinar Mas di Doloksanggul yang telah melahirkan puluhan pegiat seni baru dalam berbagai bidang kriya.
Rumah Kreatif tersebut mengembangkan sejumlah produk berbasis kearifan lokal, di antaranya Humbang Shibori, yang dibuat dengan metode seni ikat celup, Tenun Songket Humbang, Humbang Batiq, dan Humbang EcoPrint.
Berbagai karya tersebut dikembangkan dengan konsep eco fashion, yakni menggunakan bahan serta pewarna alam.
Humbang Shibori bahkan telah mendapat panggung di Jakarta Fashion Week 2019 dan JFW 2020, Lake Toba Fashion Week, Indonesia Fashion Week dan lainnya.
Di tengah kesibukannya sebagai profesional, pengusaha, penggiat kreativitas, pelukis dan penyelam, Dumasi memilih terus berjalan mengikuti apa yang ia temukan dalam hidup.
Sebab, seperti yang ia yakini, terkadang pesan terbesar tidak datang melalui kata-kata.
Ia bisa hadir melalui sebuah pemandangan, selembar kertas, goresan kuas, atau bahkan sebuah kejadian yang tidak diinginkan.
Dan bagi Dumasi, mungkin di sanalah Tuhan sedang berbicara.
Profil Singkat
Nama: Ir. Dumasi Marisina Magdalena Samosir Wongso, M.M.
Suami: Eka Priadi Wongso
Anak: Michael, Michiko, dan Ryutaro
Jabatan dan peran profesional:
- Direktur PT Asuransi Sinar Mas
- Komisaris Utama PT Asuransi Simas Jiwa
- Ketua Dewan Pengawas DPLK Simas Jiwa
- Wakil Kepala Badan Kebijakan Moneter dan Jasa Keuangan Bidang Asuransi dan Dana Pensiun Kamar Dagang Indonesia (KADIN)
- Anggota Komite Jasa Keuangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO)
- Direktur Eksekutif Forum Asuransi Kesehatan Indonesia (FORMAKSI)
Perjalanan Seni
Dumasi Marisina Magdalena Samosir Wongso merupakan seniman cat air Indonesia yang mulai belajar melukis sejak duduk di bangku SMP hingga SMA, pada periode 1977–1983. Setelah kembali menekuni seni lukis pada 2013, ia mulai aktif berkarya dalam medium cat air pada 2021 di bawah bimbingan maestro cat air Agus Budiyanto.
Hingga kini, Dumasi telah menghasilkan lebih dari 250 lukisan cat air, sejumlah di antaranya telah menjadi koleksi para kolektor seni. Karya-karyanya juga menghiasi CHADS di Doloksanggul dan CHADS Dive Resort Lembeh di Bitung, menjadikan seni sebagai bagian dari suasana dan pengalaman yang ditawarkan kedua tempat tersebut.
Melalui eksplorasi abstrak impresionisme, Dumasi menerjemahkan emosi, pengamatan, dan refleksi personal ke dalam komposisi yang ekspresif. Baginya, warna bukan sekadar unsur visual, melainkan bahasa untuk menyampaikan perasaan dan menangkap makna di balik pengalaman hidup.
Dalam perjalanan seninya, Dumasi telah mengikuti berbagai pameran internasional, antara lain UrbinoInAcquerello di Italia (2023–2026), FabrianoInAcquarello di Italia (2025), 2nd Olympiart – World’s Biggest Watercolor Festival di India (2024), The 2nd International Watercolor Biennale Hamyang di Korea Selatan (2023), Lin in Aqua International Watercolor Exhibition di Albania (2025), serta Saigon Aquarelle Vibrant Colors – The 5th International Watercolor Exhibition di Vietnam (2026).
Di tingkat nasional, karya-karyanya turut hadir dalam berbagai pameran, di antaranya ArtMoments Jakarta (2025 dan 2026), Wings of Destiny (2026), Infobank Solo Art & Culture Exhibition: Jaga Budaya Nusantara (2026), Smara Bhumi (2026), Renjana (2025), 8 Women 1 Papua (2025), Enigma of Colors (2025), Be Yourself (2024), Be Yourself #2 (2024), serta The 4th IWS Indonesia International Competition & Exhibition: Wonderful Indonesia (2022).***












