MAJALAHREFORMASI.com – Majelis Sinode Pusat Gereja Pungguan Kristen Batak (GPKB) menggelar peringatan lima tahun pascaperdamaian GPKB sekaligus menapaki persiapan menuju usia 100 tahun GPKB pada 10 Juli 2027. Acara yang berlangsung sederhana namun penuh makna ini digelar di Pos PI GPKB Dame, Depok, Jumat (22/8/2025).
Dalam suasana sejuk dan penuh keakraban, para tokoh gereja, majelis, serta jemaat hadir untuk mengenang perjalanan perdamaian yang dimulai sejak 2020.

Refleksi Perdamaian
Dalam refleksinya yang diambil dari 1 Tesalonika 4:1-12, Frans Ongirwalu Sitohang menekankan pentingnya menjaga komitmen perdamaian yang pernah diikrarkan.
“Selamat memperingati perdamaian dengan GPKB sekalipun mungkin ada yang lupa. Perdamaian GPKB tahun 2020 itu perjanjian yang kita buat di hadapan Tuhan,” ujarnya dengan nada haru.

Frans mengingatkan bahwa piagam perdamaian tersebut masih menjadi tonggak penting karena ditandatangani bersama tokoh-tokoh GPKB dan diteguhkan oleh Pdt. Gomar Gultom serta para majelis.
“Kalau saya membaca piagam itu, ada tetesan air mata. Sesuatu yang besar dikukuhkan dalam nama Tuhan, jangan sampai diabaikan hanya karena persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan,” katanya.

Ia juga mengajak jemaat untuk hidup kudus di tengah kesibukan, membangun relasi dengan Tuhan, sesama, dan dunia, serta menjadi garam dan terang melalui kasih yang berdampak nyata.
Seruan untuk Bersatu
Sementara itu, Sintua Emiritus GPKB Tegal Parang (Ketua BPMP), St. Manurung, menegaskan bahwa perdamaian tidak akan terwujud tanpa kerendahan hati.

“Momen ini perlu kita pakai untuk merangkul siapa pun. Dalam Alkitab tertulis: berbahagialah mereka yang membawa damai. Mari kita partisipasi mewartakan damai,” ucapnya.
Hal senada disampaikan St Hutapea yang menegaskan perlunya membuka diri di tengah perbedaan.
“Kalau ada perbedaan pendapat itu wajar, tapi bukan berarti perpecahan. Mari kita bersinode bersama, apalagi GPKB sebentar lagi akan 100 tahun,” tuturnya.

Sedangkan Pdt Marpaung mengingatkan kembali tujuan gereja, yaitu menghadirkan damai. “Perdamaian harus terus dibangun. Kuncinya adalah membuka diri, karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan,” katanya.
Harapan Pimpinan Sinode
Di sela-sela acara, Ephorus GPKB Ramses Pandiangan menyampaikan harapan agar GPKB semakin solid jelang Sidang Sinode 2026 di Medan.
“Kami percaya dengan terpilihnya panitia yang sudah bekerja sejak 9 bulan lalu, pelaksanaan sinode Maret 2026 dapat berjalan baik dan menghasilkan kepemimpinan yang membawa GPKB lebih maju,” ujarnya.

Ramses menekankan bahwa perdamaian tetap menjadi agenda utama. “Kami selalu terbuka untuk perdamaian GPKB. Harapan kami sebelum sidang sinode, kita sudah mencapai kata sepakat dan berdamai. Mari kita satukan hati agar gereja kita indah dilihat semua orang,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa kepemimpinan GPKB ke depan akan dilanjutkan melalui proses estafet di sinode, dan mengimbau para calon pemimpin untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Menyongsong 100 Tahun GPKB
Acara tersebut juga dimeriahkan dengan pembacaan narasi reflektif lima tahun perdamaian GPKB. Dalam narasi itu disampaikan rasa syukur atas penyertaan Tuhan, ajakan untuk bertobat, serta penegasan bahwa generasi muda adalah kunci masa depan gereja.
“Menatap 100 tahun GPKB, mari kita tinggalkan warisan iman, kasih, dan persatuan agar GPKB tetap menjadi rumah damai tempat kasih Kristus nyata bagi jemaat, bangsa, dan dunia,” demikian isi refleksi tersebut.

Seperti diketahui, GPKB akan menggelar Sidang Sinode di Medan pada Maret 2026, sebelum memasuki usia 100 tahun pada 2027. (*)
