MAJALAHREFORMASI.com – Pengamat militer dan mantan Dewan Analisis Strategis Badan Intelijen Negara (BIN), KRA. DR. John Palinggi Wiryonagoro, MM, MBA, menyampaikan pandangannya mengenai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Tentara Nasional Indonesia (TNI). Menurutnya, sejarah panjang TNI, yang sebelumnya dikenal sebagai Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), menjadi pilar penting dalam perjalanan bangsa ini. Peran TNI tidak hanya terbatas pada pembentukan negara, tetapi juga menjaga dan mempertahankan kedaulatan serta kemajuan yang telah dicapai.
Dalam HUT kali ini yang mengusung tema “TNI Modern Bersama Rakyat dan Pengawal Suksesi Kepemimpinan Nasional untuk Indonesia Maju,” John menilai bahwa tema tersebut sangat relevan dengan tugas TNI selama ini. Berdasarkan Undang-Undang No. 34 Tahun 2004, TNI adalah “tentara rakyat,” yang berarti personelnya berasal dari rakyat Indonesia. Sejak dulu, TNI selalu hadir di tengah masyarakat sebagai pejuang yang tidak pernah menyerah dalam menjaga keutuhan NKRI. Ia menambahkan bahwa prajurit yang melanggar disiplin telah mencederai Sumpah Prajurit dan Sapta Marga.
Sebagai sosok yang telah mengikuti perkembangan TNI sejak tahun 1975, John menegaskan bahwa ia menyaksikan sendiri bagaimana TNI terus berkembang. Mulai dari masa kepemimpinan Jenderal Faisal Tanjung, TNI telah melalui berbagai perubahan, dan loyalitas personelnya tetap terjaga.
Namun, kata John, dalam organisasi sebesar TNI, pasti ada oknum yang menyimpang. Ia mengibaratkan situasi ini seperti keranjang berisi telur, di mana ada beberapa yang busuk, tetapi tidak berarti seluruh institusi TNI demikian. “Pikiran negatif yang merendahkan TNI hanya karena ulah segelintir oknum adalah pandangan yang keliru, tegasnya.
John menantang pihak-pihak yang selalu mengkritik TNI secara tidak proporsional. Menurutnya, setiap pelanggaran yang dilakukan oleh prajurit TNI akan langsung diproses melalui sistem hukum militer yang ketat, dengan pengawasan dari Polisi Militer hingga pengadilan militer. John menekankan agar masyarakat tidak memukul rata kesalahan segelintir orang dan memperlakukan TNI dengan adil, mengingat kontribusi besar mereka terhadap bangsa.
Ketika ditanya mengenai kesejahteraan prajurit TNI di usianya yang ke-79, John menyampaikan keprihatinannya. Ia menyoroti usulan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto agar uang lauk pauk bagi prajurit ditingkatkan dari Rp80.000, sementara di instansi lain mencapai Rp300.000. Usulan ini, kata John, belum juga dibahas di DPR hingga saat ini.
“Jangan begini memperlakukan TNI, tidak ada negara tanpa TNI. Negara bisa hilang kalau TNI diperlakukan seperti ini, jadi perhatikanlah kesejahteraan mereka,” tegas John.
Ia juga menyoroti kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pengorbanan TNI. Menurutnya, Taman Makam Pahlawan adalah bukti nyata bahwa sejumlah anggota TNI telah gugur demi bangsa ini. “Namun, sayangnya, Taman Makam Pahlawan kini diisi oleh sipil yang gugur di meja birokrasi, yang justru memakan uang negara. Ini bentuk penghinaan,” kata John dengan nada prihatin.
Dukung Dibentuknya Matra Siber
Selain itu, John menyampaikan kekhawatirannya mengenai tantangan keamanan siber yang semakin kompleks. Menurutnya, TNI perlu memperkuat alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang sudah berkembang pesat, tetapi juga harus segera membentuk matra baru untuk menghadapi perang siber.
Ia mendukung penuh rencana Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk membentuk matra siber dan digital, melengkapi tiga matra yang sudah ada (darat, laut, udara). Menurutnya, matra siber ini harus diisi oleh anak-anak muda yang unggul di bidang teknologi, namun seleksi ketat diperlukan agar kerahasiaan negara tidak bocor.
John menyoroti bahwa kelemahan Indonesia dalam bidang keamanan digital disebabkan oleh ketergantungan pada perangkat dari berbagai negara, seperti China, Korea, dan Amerika Serikat, termasuk dari negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Ketergantungan ini, menurutnya, membuat keamanan data dan rahasia negara rentan bocor. Oleh sebab itu, kemandirian dalam teknologi informasi dan keamanan siber sangat mendesak untuk segera diwujudkan.
John menyatakan keyakinannya bahwa Prabowo memahami betul persoalan ini, mengingat latar belakang pendidikan dan pengalamannya di luar negeri. Ia menambahkan bahwa Prabowo memiliki wawasan strategis yang unggul dan sangat paham bagaimana menyelesaikan masalah ini.
John mengharapkan agar selain memperkuat pertahanan siber, TNI juga harus lebih sering bersentuhan dengan masyarakat, terutama di pedesaan, untuk memperkuat ketahanan wilayah serta menunjang ketahanan pangan.
Pada kesempatan itu, Jhon mengingatkan pada era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, peran Babinsa sangat efektif dalam menjaga keamanan dan ketahanan di pedesaan, bahkan hingga mendeteksi permasalahan sekecil apapun. Sistem pertahanan yang terhubung langsung dengan rakyat di pedesaan, menurut dia, ini adalah kunci keberhasilan yang patut dipelajari dan diterapkan kembali dalam membangun ketahanan nasional.
Dalam 10 tahun terakhir, John mencatat bahwa perkembangan alutsista di matra udara, laut, dan darat telah mengalami peningkatan signifikan. Ia merasa bangga melihat kemajuan teknologi persenjataan yang dimiliki TNI saat ini, seperti hadirnya pesawat tempur F-16 dan F-15, meskipun dahulu sempat diembargo. Hal ini, menurutnya, berkat hubungan baik Menteri Pertahanan dengan berbagai negara sahabat.
John juga mengingatkan bahwa kondisi ini berbeda dengan masa lalu, ketika Indonesia terikat perjanjian IMF pada masa Orde Baru, yang membatasi peran militer dan memperkenalkan konsep outsourcing dalam ekonomi. Akibat dari kebijakan ini, TNI, khususnya Kopassus, sempat mengalami masa-masa sulit. Namun, John bersyukur bahwa di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan, harga diri bangsa telah berhasil dipulihkan, dan TNI, terutama pasukan elit seperti Kopassus, Denjaka, dan Kopasgat, kini kembali terlatih dengan baik.
Menutup wawancaranya, John menyampaikan penghargaan yang mendalam kepada Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, yang telah berperan besar dalam memajukan TNI. Ia berharap TNI terus maju menjadi lebih modern, kuat, dan berwibawa, serta mampu menghadapi segala tantangan yang akan datang.
“Dari lubuk hati saya, saya ingin menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Perkembangan di lingkungan TNI, baik di matra darat, laut, udara, maupun dalam pasukan elit, sangat luar biasa. Terima kasih atas langkah-langkah yang telah ditempuh untuk membangkitkan semangat prajurit TNI, menjadikan mereka semakin profesional, dan siap menghadapi ancaman di masa depan,” pungkas sosok yang turut diundang dalam peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2024 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, ini dengan penuh optimisme. (David)







