Oleh: Dra. Alida Handau Lampe, M.Si
MAJALAHREFORMASI.com – Kecepatan dan ketepatan penanganan medis merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan terapi stroke akut.
Dalam dunia neurologi dikenal istilah golden period, yaitu periode kritis ketika tindakan medis yang cepat dapat menyelamatkan jaringan otak dari kerusakan permanen serta meningkatkan peluang pemulihan pasien.
Pengalaman tersebut saya alami secara langsung ketika mengalami serangan stroke mendadak pada Kamis pagi, 17 September 2026.
Saat itu saya sedang bersiap mengikuti perkuliahan mata kuliah Publikasi Bereputasi yang diasuh oleh Prof. Dr. H. Didin Saripudin, S.Pd., M.Si., di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia.
Secara tiba-tiba muncul gejala yang lazim ditemukan pada stroke, yakni gangguan artikulasi bicara, kelemahan pada anggota gerak sisi kanan tubuh, serta rasa pusing.
Gejala tersebut muncul ketika saya sedang berbincang dengan rekan sekelas.
Menyadari adanya kondisi yang tidak biasa, saya segera meminta izin dan menuju Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Advent Bandung.
Keputusan untuk segera mencari pertolongan medis terbukti menjadi langkah yang sangat penting dan tepat.
Dalam kasus stroke, setiap menit memiliki arti yang sangat besar karena jutaan sel saraf dapat mengalami kerusakan apabila aliran darah ke otak tidak segera dipulihkan.
Setibanya di UGD RS Advent Bandung, saya langsung mendapatkan penanganan yang cepat dan komprehensif.
Tim medis segera melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan diagnosis serta menentukan terapi yang paling tepat.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pencitraan CT Scan kepala untuk menilai kondisi otak dan pembuluh darah, pemeriksaan radiologi dada, pemeriksaan laboratorium darah secara berkala, serta rekam jantung (EKG) guna mengevaluasi kondisi kardiovaskular yang sering berkaitan dengan kejadian stroke.
Selain itu, terapi farmakologis akut melalui jalur infus dan injeksi segera diberikan sesuai protokol penanganan stroke.
Seluruh proses berlangsung cepat, terintegrasi, dan terkoordinasi dengan baik.
Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Meskipun menggunakan jaminan BPJS Kesehatan, seluruh pemeriksaan, tindakan medis, serta penggunaan fasilitas penunjang berlangsung tanpa hambatan administratif yang berarti.
Salah satu sosok yang memberikan kesan mendalam selama proses perawatan adalah pakar neurologi konsultan neurovaskular senior, dr. Hj. Adelina Yasmar, Sp.S(K).
Dengan pengalaman panjang di bidang neurologi, beliau menunjukkan ketelitian klinis yang tinggi dalam memantau perkembangan pasien.
Lebih dari sekadar memberikan terapi medis, dr. Adelina secara konsisten memberikan edukasi yang rinci mengenai penyakit stroke, faktor risiko, tata laksana pengobatan, serta pentingnya disiplin menjalani proses rehabilitasi.
Pendekatan yang menggabungkan kompetensi profesional dan sentuhan kemanusiaan tersebut memberikan rasa tenang dan optimisme bagi pasien serta keluarga.
Dalam salah satu sesi evaluasi, beliau menjelaskan bahwa saya memperoleh akses terhadap terapi stroke standar terkini yang baru masuk dalam cakupan pembiayaan BPJS Kesehatan.
Penanganan yang cepat dan tepat memungkinkan kondisi neurologis saya menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Pada hari ketiga perawatan, saya sudah diperbolehkan menjalani mobilisasi ringan dan menikmati udara segar di taman RS Advent Bandung menggunakan kursi roda.
Kemajuan tersebut menjadi indikator penting bahwa respons dini terhadap gejala stroke dapat memberikan dampak besar terhadap proses pemulihan.
Yang lebih mengesankan, pada usia yang mendekati delapan dekade, dr. Adelina tetap memperlihatkan dedikasi, semangat pelayanan, dan profesionalisme yang luar biasa.
Kehadiran dokter senior dengan pengalaman panjang seperti beliau merupakan aset berharga bagi dunia kesehatan Indonesia, khususnya dalam bidang neurologi dan neurovaskular.
Berdasarkan evaluasi medis dan perkembangan kondisi yang stabil, saya dijadwalkan menyelesaikan perawatan rawat inap pada 22 September 2026.
Pengalaman ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa keberhasilan penanganan stroke tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi medis, tetapi juga oleh kecepatan respons pasien, kesiapan sistem pelayanan rumah sakit, serta dedikasi tenaga kesehatan yang menangani.
Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa gejala seperti bicara pelo, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, gangguan keseimbangan, atau pusing yang muncul tiba-tiba tidak boleh diabaikan.
Semakin cepat pasien mendapatkan pertolongan medis, semakin besar peluang untuk mempertahankan kualitas hidup dan mencegah kecacatan jangka panjang.
Pengalaman saya di RS Advent Bandung menunjukkan bahwa integrasi antara respons darurat yang cepat, fasilitas medis yang memadai, dukungan BPJS Kesehatan, serta edukasi pasien yang berkelanjutan dapat menjadi fondasi penting dalam keberhasilan penanganan stroke akut di Indonesia.***













