MAJALAHREFORMASI.COM – Beberapa tahun menjabat sebagai Kepala Sekolah TK membuat saya semakin menyadari betapa pentingnya peran seorang guru terutama bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK). Anak-anak usia ini belum memiliki pengaruh yang cukup besar untuk menyaring informasi apa yang mereka terima. Oleh karena itu, penting sekali peran guru sebagai pendidik di sekolah.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak memiliki rentang usia anak di masa golden age. Masa golden age (0 – 6 tahun) adalah merupakan usia optimal yang sangat menentukan kecerdasan dan karakter anak. Untuk memaksimalkan perkembangan anak pada masa golden age adalah dengan mengawasi secara maksimal terkait kesehatan, pemberian nutrisi, stimulasi intelektual dan membiarkan anak memiliki kesempatan eksplorasi sebesar-besarnya agar anak mampu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mampu belajar secara aktif. Tentunya orang tua dan guru sangat berperan besar pada masa ini.
Guru sebagai pendidik harus unggul ilmu, unggul iman dan unggul karakter untuk dapat mengoptimalkan peran mereka kepada peserta didik. Pastor Jeremiah menuliskan di salah satu artikelnya mengenai persyaratan menjadi guru. Pada artikelnya, ia menyebutkan bahwa Paulus berbicara mengenai kualitas yang harus dimiliki oleh para guru yaitu mengajar dan mendisiplin orang yang belum dewasa dan orang yang kurang pengetahuan. Karena itu, Paulus menggambarkan “guru” ini sebagai penuntun orang buta, pendidik bagi yang kurang berpengetahuan dan orang yang belum dewasa.
Seorang guru perlu memahami tugasnya dalam perspektif Pendidikan Kristen. Guru bukan sekedar mengajar namun menjadi guru merupakan panggilan Allah. Dalam Efesus 4:11-12 menegaskan bahwa guru adalah utusan Allah yang dipanggil untuk memperlengkapi setiap orang untuk menjadi pribadi-pribadi yang siap melakukan pekerjaan dan melayani Tuhan. Di dalam setiap proses pembelajaran, guru melatih dan membentuk peserta didik menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas secara moral, sosial maupun spiritual.
Unggul Ilmu
Dengan mengingat perannya sebagai pelayan Allah, seorang guru perlu mencari kehendak Allah di dalam profesinya dan menjalankan perannya sebaik-baiknya. Salah satunya yaitu seorang guru haruslah unggul ilmu. Yang dimaksud dengan unggul ilmu di sini tidak berarti seorang guru harus perfeksionis tanpa cacat dan tanpa salah. Namun, yang terpenting adalah ia memiliki hati untuk mau terus belajar, karena ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan tidak akan pernah berakhir. Ketika guru memiliki hati mau terus belajar, ia pun akan berkembang mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan ilmu. Ilmu itulah yang dapat diberikan kepada peserta didiknya. Jika seorang guru berhenti belajar, pada saat itu ia juga berhenti menjadi seorang guru.
Unggul ilmu juga sangat dibutuhkan untuk guru-guru yang mengajar di PAUD maupun TK dalam hal perubahan generasi. Setiap generasi memiliki ciri khas masing-masing, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk dapat mendampingi setiap peserta didik, guru perlu memahami perbedaan setiap generasi ini agar bisa mengajar dengan lebih efektif.
Unggul Iman
Seorang guru perlu unggul dalam hal iman. Yang dimaksudkan yaitu bertumbuh di dalam Tuhan dan melakukan hal-hal nyata dalam kehidupan sehari, bisa menjadi berkat bagi peserta didik yang dilayaninya. Ia perlu mengenal Kristus secara pribadi dan memiliki relasi yang intim dengan Tuhan. Jika seorang guru Kristen tidak mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus, apa yang ia ajarkan hanya sebatas ilmu pengetahuan, bukan iman.
Salah satu peran lainnya dari guru Kristen yaitu membentuk karakter spiritual dari peserta didik, melatih peserta didik untuk memiliki karakter dalam berperilaku, membentuk cara berpikir/cara pandang, berbudi pekerti dan mempunyai kebiasaan yang sesuai dengan nilai-nilai Alkitabiah. Hal itu merupakan tugasnya sebagai hamba Allah.
Guru Kristen bertanggung jawab untuk memperkenalkan Kristus kepada anak-anak, dan lebih jauh lagi, seorang guru bertanggung jawab mendidik anak-anak untuk melakukan kebenaran Firman Tuhan. Ia tidak hanya memperlengkapi anak-anak dalam hal ilmu pengetahuan saja, namun juga mengajarkan mereka untuk menjadi pribadi yang taat merenungkan dan melakukan Firman Tuhan.
Dalam Matius 19:14 (TB2) Yesus mengatakan bahwa, “Biarkanlah anak-anak itu, jangan halang-halangi mereka datang kepada-Ku, sebab orang-orang yang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Surga. ” Yesus sangat menerima anak-anak ini datang kepada-Nya. Ia tidak menolak mereka dan tidak mengatakan bahwa mereka belum paham jadi tidak perlu datang kepada-Nya. Yang terjadi justru sebaliknya, Yesus mencegah orang untuk menghalangi anak-anak datang kepada-Nya.
Lalu apakah anak PAUD dan TK bisa memahami Firman Tuhan yang disampaikan oleh guru? Ketika seorang guru mengalami perjumpaan dengan Tuhan, tentunya hidupnya memancarkan kasih Allah. Mungkin anak-anak tidak paham betul dengan apa yang disampaikan oleh guru, tapi mereka bisa merasakan ketika guru benar-benar memiliki dan memancarkan kasih Allah. Anak bisa melihat keteladanan hidup yang diberikan oleh guru-guru.
Sebagai guru Kristen tentunya kita percaya akan pekerjaan Roh Kudus yang akan bekerja melalui hati setiap anak yang kita layani. Tugas guru adalah memancarkan kasih Tuhan dan memberitakan tentang Kristus kepada anak-anak. Selebihnya adalah pekerjaan Roh Kudus.
Unggul Karakter
Guru tidak hanya pintar dan memiliki iman tetapi juga harus dapat menunjukkan nilai-nilai yang dimilikinya melalui kehidupan sehari-hari. Ini merupakan hal terakhir yang dituntut dari seorang guru yaitu memiliki Karakter Kristus. Dengan karakter Kristus ini, ia dapat menjalin relasi yang baik bukan hanya dengan anak-anak, tetapi juga dengan orang tua murid, sesama rekan guru di lingkungannya. Ia dapat mengasihi semua orang tanpa pilih- pilih. Selain itu, unggul karakter juga menunjukkan guru memiliki integritas, kesatuan dalam perkataan dan perbuatan, bisa dipercaya dan diteladani oleh anak-anak.
Menjadi seorang guru tidaklah mudah, tapi kita bisa melihat dan meneladani Sang Guru Agung kita yaitu Yesus Kristus yang sudah memberikan kasih-Nya kepada kita terlebih dahulu. Kasih itulah yang perlu kita salurkan kepada anak-anak peserta didik kita agar semakin banyak anak bisa mengenal Sang Guru Agung itu sendiri. (*)





