MAJALAHREFORMASI.com – Peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak sekadar menjadi momentum mengenang ikrar para pemuda pada 1928. Lebih dari itu, semangat yang lahir dari perbedaan suku, daerah dan latar belakang tersebut dinilai tetap relevan untuk kehidupan bangsa Indonesia saat ini.
Ketua DPD Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Kepulauan Riau, Drs. Edwin Rondonuwu, M.B.A., M.M., S.Th., mengatakan Sumpah Pemuda pada hakikatnya merupakan sebuah ikrar yang lahir dari kesungguhan para pemuda untuk menyatukan tekad.
Menurut Edwin, ikrar memiliki makna yang lebih kuat dibandingkan sekadar janji. Sebab, di dalam ikrar terdapat kesungguhan sekaligus keterikatan untuk menjalankan apa yang telah diucapkan.
“Kalau hanya janji semua orang bisa janji. Tetapi kalau ikrar itu berarti bersungguh-sungguh,” ujar Edwin, yang juga merupakan mantan penyiar senior TVRI.
Ia menjelaskan, semangat tersebut tercermin ketika para pemuda dari berbagai perkumpulan, seperti Jong Java, Jong Sumatera dan kelompok pemuda lainnya, berkumpul dengan latar belakang yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama.
Mereka kemudian menyatakan tiga hal penting: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Dari ketiga butir tersebut, Edwin menekankan satu kata yang menurutnya menjadi inti dari Sumpah Pemuda, yakni “satu”.
“Walaupun berasal dari Jong Jawa, Sumatera dan daerah yang berbeda saat itu, mereka memiliki satu ikatan dalam bingkai Indonesia,” katanya.
Menurut Edwin, semangat persatuan itu pula yang perlu terus diterjemahkan dalam kehidupan generasi muda saat ini. Terlebih, tema yang diangkat tahun ini, yakni Patriotik, Gigih dan Berempati, memiliki pesan yang kuat bagi kehidupan kebangsaan.
Ia memaknai patriotik sebagai kecintaan terhadap Indonesia. Ketika seseorang mencintai bangsa dan negaranya, kata dia, kecintaan tersebut harus diwujudkan dengan menjaga Indonesia agar tetap utuh.
“Patriotik adalah orang yang cinta Indonesia. Kalau sudah cinta berarti sayang kepada Indonesia, menjaga agar tidak dirusak dan kita ingin negeri ini utuh karena satu,” ujarnya.
Sementara itu, sikap gigih menurut Edwin berkaitan dengan semangat untuk terus berjuang. Dalam menghadapi berbagai tantangan, generasi muda tidak boleh mudah menyerah.
“Kalau berjuang harus ngotot, fighter, jangan loyo,” katanya.
Adapun empati, lanjut Edwin, berarti kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sikap tersebut penting agar semangat persatuan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir dalam hubungan sosial sehari-hari.
Edwin menilai peringatan Sumpah Pemuda hingga saat ini masih memiliki relevansi yang kuat. Salah satunya karena persoalan intoleransi masih menjadi tantangan dalam kehidupan masyarakat.
Ia melihat berbagai upaya untuk memperkuat persatuan dan kesatuan di kalangan generasi muda terus dilakukan. Namun, ia juga mengingatkan masih terdapat ego sektoral maupun kepentingan lokal yang perlu secara perlahan dikikis.
Edwin kemudian mengibaratkan persatuan Indonesia seperti tubuh manusia. Setiap bagian tubuh memiliki fungsi berbeda, tetapi semuanya bekerja dalam satu kesatuan.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan pesan dalam Alkitab bahwa setiap anggota tubuh memiliki fungsi masing-masing, namun tetap menjadi bagian dari satu tubuh yang utuh.
“Mana mungkin mata saja yang jalan tanpa ada kaki. Begitu juga semuanya, kita semua satu keutuhan, sama seperti Indonesia,” ucapnya.
Karena itu, menurut Edwin, semangat Sumpah Pemuda tidak semestinya hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah. Nilai persatuan yang terkandung di dalamnya perlu terus dihidupkan melalui sikap mencintai Indonesia, gigih menghadapi tantangan dan memiliki empati terhadap sesama.
“Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda,” ujar Edwin menutup.***









