Catatan Metodologis: Tulisan ini disusun berdasarkan tradisi lisan keluarga, memori kolektif, serta pembacaan atas rekam jejak perjuangan politik lokal di Kalimantan Tengah
Oleh: Dra. Alida Handau Lampe, M.Si
MAJALAHREFORMASI.com- Ketika membicarakan Partai Sosialis Indonesia (PSI), diskursus sejarah politik Indonesia lazimnya langsung menerawang ke panggung nasional di Jakarta.
Nama-nama besar seperti Sutan Sjahrir, Soedjatmoko, Sumitro Djojohadikusumo, dan Hamid Algadri kerap mendominasi kanvas pemikiran sosialis-demokrat.
Namun, gagasan besar PSI tidak hanya berhenti di ruang-ruang parlemen atau meja redaksi surat kabar Ibu Kota; ia juga meresap ke daerah-daerah melalui tangan para kader lokal yang menerjemahkan teori ke dalam praksis pemerintahan.
Di Kalimantan Tengah, salah satu representasi paling menarik dari tradisi intelektual ini adalah Esra Lampe. Berbasis di Kampung Hampatung, Kuala Kapuas, ia bukan sekadar seorang pejabat administratif, melainkan figur lokal yang menghidupkan napas sosialisme demokratis Sjahririan di tengah dinamika pembentukan daerah otonom pada dekade 1950-an.
PSI sebagai Partai Kader dan Kultur Intelektual:
Partai Sosialis Indonesia didirikan pada Februari 1948 dengan corak yang sangat khas: partai kaum terdidik. Berbeda dengan partai-partai sezaman yang mengandalkan mobilisasi massa konvensional, PSI memilih jalur pendidikan politik (political education), rasionalitas administratif, penguatan parlemen, dan modernisasi masyarakat.
Bagi kalangan PSI, kemerdekaan politik tidak ada artinya tanpa emansipasi mental dan kapasitas intelektual warga negara.
Oleh karena itu, basis keanggotaan PSI banyak diisi oleh para guru, pegawai negeri, jurnalis, intelektual, dan profesional yang menjunjung tinggi etika birokrasi serta meritokrasi.
Dalam kerangka inilah posisi Esra Lampe sebagai Sekretaris PSI Kalimantan Tengah—sebagaimana terekam dalam memori keluarga—mendapatkan signifikansinya.
Di wilayah yang sedang menata struktur pemerintahan dari nol, kehadiran kader PSI di lingkaran birokrasi daerah berfungsi sebagai jangkar rasionalitas dan tata kelola yang akuntabel.
Membaca Dunia dari Kampung Hampatung: Jaringan Ide Gagasan Esra Lampe.
Karakter kader PSI yang lekat dengan tradisi literasi dan keterbukaan berpikir tampak nyata dalam kehidupan pribadi Esra Lampe.
Di rumah kayunya di Kampung Hampatung, ia merawat sebuah ruang baca yang menjadi saksi bisu perjumpuannya dengan berbagai arus pemikiran dunia.
Koleksi literatur di ruang kerja tersebut memperlihatkan spektrum intelektual yang luas: mulai dari pemikiran Mahatma Gandhi mengenai etika moral dan kemanusiaan universal, catatan kepemimpinan John F. Kennedy, hingga karya-karya pemikir dunia yang dihimpun Leonard Kenworthy.
Yang paling menarik, perpustakaan pribadinya turut menyimpan karya-karya besar Presiden Soekarno, seperti Dibawah Bendera Revolusi, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat dan Sarinah.
Bagi seorang kader PSI di daerah, membaca Soekarno berdampingan dengan pemikiran Sjahrir bukanlah sebuah kontradiksi ideologis, melainkan cerminan watak intelektual yang matang.
Jika Sjahrir menawarkan kerangka demokrasi parlementer, rasionalitas sosial, dan orientasi modern, Soekarno menyalakan api nasionalisme dan kesadaran emansipasi massa. Esra Lampe menghidupkan sintesis ini: Seorang administrator yang disiplin secara intelektual namun memiliki kepekaan sosial yang mendalam terhadap realitas rakyatnya.
Birokrasi, Pendidikan, dan Etika Pelayanan Publik:
Bagi kader PSI, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan instrumen pencerahan dan pelayanan publik. Watak ini terpatri dalam rekam jejak Esra Lampe saat mengemban tugas-tugas pemerintahan di Kapuas.
Dalam memori kolektif masyarakat, kepedulian Esra Lampe terhadap dunia pendidikan tidak berhenti pada tataran konsep. Ketika kas daerah mengalami keterlambatan dan para guru sekolah menghadapi krisis finansial akibat macetnya pembayaran gaji pada tahun 1950-an hingga 1960-an, ia hadir memberikan solusi nyata.
Dengan membagikan hasil panen sawah dan cadangan beras dari penggilingan padi miliknya dan uang sekedarnya dari kantong pribadi semampunya, ia memastikan para pendidik di daerah dapat terus bertahan hidup dan mengajar.
Tindakan ini mencerminkan esensi dari etika politik sosial-demokrat: bahwa investasi terbesar sebuah bangsa terletak pada manusia dan pendidikannya.
Menopang para guru di tengah keterbatasan geografis dan administratif Kalimantan Tengah masa itu adalah bentuk nyata dari politik pembangunan yang berpihak pada akal budi.
Penutup: Warisan Intelektual Sosial-Demokrat di Daerah.
Esra Lampe menunjukkan bagaimana gagasan besar tentang sosialisme demokratis menemukan bentuknya di tingkat lokal. Tanpa harus berteriak lantang di mimbar-mimbar nasional, ia mempraktikkan gagasan tersebut melalui ketelitian birokratis, kecintaan pada literasi, dan solidaritas sosial yang konkret di Kuala Kapuas.
Sebagai bagian dari tradisi intelektual PSI, ia membuktikan bahwa modernitas dan kemajuan daerah tidak dibangun lewat retorika kosong, melainkan melalui disiplin berpikir, komitmen pada pendidikan, dan integritas pelayanan publik yang tuntas.***






