Oleh: Dra. Alida Handau Lampe, M.Si
MAJALAHREFORMASI.com – Navigasi di Tengah Badai Unipolar. Lanskap geopolitik global pada awal 2026 tidak lagi mengenal zona nyaman.
Munculnya Board of Peace (BoP) yang diinisiasi oleh Donald Trump menciptakan gravitasi politik baru yang bersifat transaksional dan cenderung unipolar.
Di tengah gelombang kritik dan skeptisisme domestik, terhadap bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah CERDIK yang di luar dugaan.
Indonesia tidak hanya bergabung dalam BoP untuk menjaga perdamaian, tetapi Prabowo secara simultan melakukan penetrasi diplomatik ke pusat-pusat kekuatan multipolar lainnya.
Inilah manifestasi dari kepiawaian strategis (strategic mastery) dalam mendayung di antara karang dunia dengan cara yang lebih berani, agresif, dan sepenuhnya berorientasi pada kepentingan nasional.
Kepiawaian Strategis Prabowo menembus Arsitektur BoP bergabung dalam Board of Peace adalah bentuk pragmatisme VISIONER.
Beliau menyadari bahwa menolak BoP berarti membiarkan Indonesia terisolasi dari arus utama kebijakan global.
Namun, kepiawaian beliau terletak pada kemampuan menjadikan BoP sebagai “SARANA,” bukan “TUJUAN.”
Di meja perundingan BoP, Prabowo memposisikan Indonesia bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penyeimbang yang membawa aspirasi negara-negara berkembang.
Beliau menaklukkan arsitektur keamanan global dengan cara masuk ke dalam sistem untuk kemudian menjaga agar sistem tersebut tidak meluruhkan kedaulatan Nasional Indonesia.
Keberanian strategis Presiden Prabowo paling nyata terlihat dalam rangkaian kunjungan “Strategi Diplomatik” ke tiga negara kunci:
Jepang: Membentengi Kedaulatan Ekonomi.
Dengan mengunci investasi senilai $23,8 miliar, Presiden memastikan Indonesia memiliki “otot” fiskal yang kuat. Langkah ini bersifat agresif karena Indonesia tidak menunggu bantuan dari BoP, melainkan secara mandiri mengamankan investasi hilirisasi dan teknologi hijau yang menjamin kemandirian ekonomi nasional dari tekanan blok mana pun.
Rusia: Menjamin Ketahanan Dasar di Luar Narasi Barat.
Kunjungan ke Moskow adalah pernyataan politik paling berani di tahun 2026. Di tengah pengawasan ketat anggota BoP, Prabowo justru mengamankan diskon minyak mentah dan jaminan pasokan bahan baku pupuk dari Rusia. Ini adalah pesan tegas bahwa kedaulatan energi dan pangan rakyat Indonesia tidak bisa ditukar dengan konsesi politik global. Indonesia membuktikan mampu menjalin hubungan dengan rival Barat tanpa harus kehilangan kredibilitas internasionalnya.
Prancis: Independensi Teknologi dan Militer. Melalui finalisasi kontrak jet tempur Rafale dan pembangunan kapal selam Scorpene Evolved di galangan kapal dalam negeri (PT PAL).
Prabowo memastikan bahwa kedaulatan wilayah Indonesia tidak bergantung pada satu standar ALUTSISTA
Strategi ini sangat menguntungkan karena memberikan Indonesia daya tawar militer yang mandiri dan bebas dari ancaman embargo pihak manapun.
Pesan Politik Prabowo TEGAS dan JELAS, persahabatan kami LUAS, akan tetapi Otonomi kami ABSOLUT.
Melalui strategi ini, Presiden Prabowo mengirimkan pesan KUAT yang jelas dan tidak bisa diabaikan oleh dunia, Indonesia adalah poros tengah yang AKTIF.
Kepiawaian beliau mendayung di antara dua karang versi modern ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya sekadar “BERTAHAN,” tetapi “MENYERANG” untuk MENGAMANKAN kepentingan nasionalnya.
Posisi politik Indonesia kini sangat jelas, bersahabat dengan Washington melalui BoP, namun tetap bergandengan tangan dengan Moskow, Tokyo, dan Paris untuk memastikan kedaulatan tetap menjadi variabel yang tidak bisa dinegosiasikan.
Fenomena kepiawaian strategis ini harus kita transformasikan menjadi literasi geopolitik bahwa KEDAULATAN di era modern adalah hasil dari SINERGI antara keberanian pemimpin dalam berdiplomasi dan KECERDASAN bangsa dalam membaca arah angin global.
Ketahanan nasional bukan hanya tentang kepemilikan senjata, melainkan tentang otonomi strategis dalam berpikir dan bertindak di panggung dunia.
”Kepiawaian strategi” Presiden Prabowo adalah bukti bahwa Indonesia hari ini bukan lagi penonton sejarah, melainkan arsitek yang menentukan arah kedaulatannya sendiri di tengah persimpangan kekuatan dunia.” (*)






