Imlek dalam Ingatan Azmi Abubakar: Tentang Kegembiraan yang Pernah Dirampas dan Kini Kembali

MAJALAHREFORMASI.com – Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Aceh, Ir. Azmi Abubakar, memaknai Imlek bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Tionghoa. Imlek namun tentang kegembiraan, tentang kebersamaan lintas etnis, dan tentang satu masa ketika Indonesia merayakan dirinya sendiri—tanpa rasa curiga.

Ia berbicara pelan, namun tegas, ketika mengenang bagaimana Imlek pernah menjadi hari raya bersama jauh sebelum negara ini mengenal larangan-larangan budaya. “Imlek itu lazim dilakukan oleh bangsa Indonesia sebelum Orde Baru. Dari Barat sampai Timur, semua bergembira,” ujarnya.

Ingatan Azmi melompat ke Jakarta pada pertengahan abad ke-19. Saat itu, Imlek dirayakan dengan pasar malam besar-besaran. Lampu-lampu menyala, pedagang dari berbagai golongan berjejer, dan masyarakat—tua, muda, kaya, miskin—larut dalam kegembiraan yang sama. “Pedagang panen besar. Semua orang menikmati suasana,” katanya.

Di balik keramaian itu, ada cerita-cerita kecil yang hangat. bagi para pemuda Tionghoa masa itu, pasar malam Imlek bukan hanya hiburan, melainkan satu-satunya kesempatan melihat calon pasangan hidup. “Tidak ada pacaran. Bahkan yang sudah bertunangan pun dilarang bertemu. Di pasar malam itu, calon suami hanya bisa melihat calon istrinya dari kejauhan,” tutur Azmi sambil tersenyum.

Kenangan serupa juga hidup di Aceh. Hingga tahun 1960-an, anak-anak Aceh menyambut Imlek dengan penuh suka cita. Mereka tahu, hari itu akan datang bersama angpao dari saudara-saudara Tionghoa. “Anak-anak paham betul. Itu kegembiraan yang tulus, tanpa embel-embel apa pun,” katanya.

Namun semua itu terhenti ketika Orde Baru berkuasa. Imlek dilarang. Simbol budaya dipaksa menghilang. Kegembiraan yang telah berlangsung ratusan tahun dihentikan begitu saja. “Jika melawan, akan dihabisi,” ujar Azmi, mengingat masa kelam itu.

Menurutnya, jejak sejarah itu masih terasa hingga hari ini. Meski Imlek telah kembali diakui negara dan ditetapkan sebagai hari libur nasional, masih ada sebagian kecil masyarakat yang mempertanyakannya. “Selama puluhan tahun, orang dijauhkan dari sejarah dan akar budayanya sendiri,” kata Azmi. “Akibatnya, sebagian dari kita tumbuh tanpa memahami identitas yang pernah hidup bersama.”

Ia menegaskan, penolakan terhadap Imlek sejatinya adalah lupa pada sejarah. “Mereka lupa, kakek-nenek mereka dulu juga ikut bergembira saat Imlek.”

Azmi lalu bercerita tentang Cilincing, Jakarta Utara. Dahulu, Imlek identik dengan panen ikan bandeng terbaik. Bandeng Cilincing menjadi buah tangan wajib calon menantu saat berkunjung ke rumah calon mertua. “Kalau tidak bawa bandeng, bukan cuma dimarahi. Ada yang sampai gagal menikah,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Harga bandeng saat itu pun melonjak tinggi. Orang-orang menyebutnya Ce Ni Cee Pay—harga setahun sekali. “Begitu besar pengaruh Imlek dalam kehidupan sosial masyarakat,” katanya.

Bagi Azmi, semua kisah itu menegaskan satu hal: Imlek bukan budaya asing. “Imlek adalah identitas penting bangsa Indonesia. Bukan hanya milik etnis Tionghoa, tapi milik semua anak bangsa,” ungkapnya.

Lebih jauh, sosok penerima Rekor Dunia MURI atas kontribusinya dalam pelestarian sejarah dan budaya ini menjadikan perayaan Imlek sebagai ruang untuk merawat ingatan kolektif sekaligus memperkuat harmoni. Melalui perayaan yang inklusif, INTI Aceh terus menegaskan bahwa hubungan Tionghoa dan Aceh telah terjalin erat sejak lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah bersama.

“Imlek adalah momentum untuk menegaskan rasa kekeluargaan di Aceh. Ini tentang kebersamaan, tentang saling menghormati,” katanya.

Azmi berharap, melalui Imlek, masyarakat Indonesia dapat kembali berdamai dengan sejarahnya sendiri—bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan fondasi. “Mengganggu perayaan Imlek berarti meneruskan kejahatan masa lalu. Merayakannya berarti merawat Indonesia,” ujarnya.

Biodata Singkat

Ir. Azmi Abubakar adalah Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa (2011), Dewan Pakar Pimpinan Pusat Indonesia Tionghoa (INTI), dan Dewan Pakar Pimpinan Pusat PSMTI. Ia juga menjabat Ketua Kehormatan Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong Semarang (berdiri 1876), Ketua Perhimpunan INTI Aceh, serta pernah menjadi Sekretaris Jenderal Komite Mahasiswa Pemuda Aceh se-Nusantara (1999). Pada 2023, Azmi menerima Rekor Dunia MURI atas kontribusinya dalam pelestarian sejarah dan budaya. (*)