MAJALAHREFORMASI.com – Ada kisah cinta yang selesai ketika perasaan memudar. Namun, ada pula cinta yang justru menemukan maknanya ketika waktu dan keadaan menguji seberapa jauh seseorang mampu bertahan. Gagasan tentang cinta, kesetiaan, dan waktu itulah yang coba dirangkai Eufrasia Vieira melalui novel terbarunya, The Ribs: Mengejar Waktu Bersamamu.
Penulis yang akrab disapa Asia itu menggelar soft launching novel keduanya tersebut di Prosochi Kemang, Jakarta, Minggu (25/10) siang. Bagi Eufrasia, The Ribs bukan sekadar cerita tentang hubungan dua manusia, melainkan perjalanan emosional yang mengajak pembaca melihat kembali arti cinta ketika berhadapan dengan waktu dan keadaan.
Novel ini mempertemukan pembaca dengan dua tokoh utama, Maura dan Jonathan. Keduanya hadir dalam sebuah kisah klasik tentang cinta yang memiliki kekuatan emosional cukup dalam. Cerita yang ditawarkan bukanlah kisah nyata atau true story, melainkan fiksi yang lahir dari pengamatan serta inspirasi dari berbagai pengalaman manusia dalam menjalani hubungan.
“Ini sebenarnya classic love story yang sudah terjadi di masa lampau. Bukan true story, tetapi ada beberapa pengalaman orang yang menjadi inspirasi,” ujar Asia.
Dengan 39 bab, The Ribs dibangun melalui bagian-bagian cerita yang memiliki momen dan nuansanya masing-masing. Setiap bab menjadi kepingan yang perlahan menyusun hubungan Maura dan Jonathan, sekaligus membawa pembaca menyelami berbagai makna yang muncul ketika cinta harus berhadapan dengan pilihan, keadaan, dan perjalanan waktu.
Tema kesetiaan menjadi salah satu napas utama dalam novel tersebut. Ketika ditanya mengapa memilih kesetiaan sebagai tema dalam karya terbarunya, Asia memiliki alasan yang sederhana, tetapi menurutnya sangat mendasar.
“Kesetiaan itu the basic of love,” katanya.
Bagi Asia, kesetiaan tidak semata-mata lahir karena perasaan cinta. Ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain. Ketika seseorang memiliki rasa hormat, menurutnya, kesetiaan akan tumbuh dengan sendirinya.
“Kalau kita sudah respect, pasti kita setia. Basic-nya itu saling menghargai,” tuturnya.
Pandangan tersebut menjadi menarik karena Asia melihat cinta bukan hanya sebagai perasaan yang datang dan pergi. Perasaan, menurutnya, bisa berubah seiring waktu. Namun, rasa hormat memiliki makna yang lebih panjang karena diwujudkan melalui perhatian dan kebiasaan sehari-hari.
“Cinta itu bukan perasaan, tetapi perhatian. Kalau berdasarkan perasaan, cinta itu bisa hilang. Tetapi kalau respect itu berbeda. Kalau menghargai, ada kesetiaan. Bukan hanya perkara cinta. Cinta itu kebiasaan yang kita lakukan setiap hari,” ujarnya.
Pemikiran tersebut pula yang membuat The Ribs terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. Sebab, dalam hubungan apa pun, cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata besar atau adegan romantis. Terkadang, ia justru hadir dalam hal-hal sederhana: perhatian, penghargaan, kesediaan untuk memahami, dan keputusan untuk tetap ada ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Jika novel pertamanya, Vittoria: Helena’s Brown Box, telah lebih dulu memperkenalkan nama Eufrasia Vieira di dunia kepenulisan, maka The Ribs menjadi langkah berikutnya dalam perjalanan kreatif perempuan yang dikenal memiliki banyak talenta tersebut.
Menariknya, kisah Maura dan Jonathan tidak berhenti di halaman buku. Novel ini juga direncanakan untuk diadaptasi menjadi film layar lebar yang dijadwalkan mulai menjalani proses syuting tahun depan.
Asia mengungkapkan, sekitar 80 persen proses pengambilan gambar nantinya akan dilakukan di lokasi dalam negeri, sementara sisanya mengambil latar di luar negeri. Rencana tersebut tentu menjadi babak baru bagi The Ribs, sekaligus membuka kemungkinan bagi kisah yang sebelumnya hanya hidup di dalam halaman novel untuk hadir secara visual di layar lebar.
Namun, dunia kepenulisan hanyalah salah satu ruang kreatif yang dijalani Asia. Perempuan asal Timor-Leste ini juga dikenal sebagai sosok multitalenta yang aktif di industri kreatif. Bahkan, ia pernah disebut memiliki kemiripan dengan Angelina Jolie.
Di tengah kiprahnya tersebut, Asia juga merambah dunia parfum melalui sebuah brand yang membawa namanya sendiri, Eau de Euphrates.
Pada 2 Agustus 2025, Eufrasia memperkenalkan Eau de Euphrates dalam sebuah peluncuran yang berlangsung di Sofia at The Gunawarman, Jakarta. Brand parfum tersebut tidak sekadar menawarkan wewangian, tetapi membawa narasi yang lebih luas, yakni sejarah, spiritualitas, dan kekuatan perempuan.
Seperti halnya The Ribs yang berbicara tentang cinta, waktu, dan kesetiaan, Eau de Euphrates juga menjadi bagian dari cara Asia menerjemahkan gagasan dan pengalamannya melalui karya. Dua dunia yang berbeda—sastra dan wewangian—dipertemukan melalui satu benang merah: cerita.
Pada akhirnya, The Ribs: Mengejar Waktu Bersamamu bukan hanya tentang Maura dan Jonathan. Di balik kisah keduanya, ada pertanyaan yang mungkin pernah diam-diam muncul dalam kehidupan banyak orang: ketika waktu berubah dan keadaan tidak lagi sama, apa yang membuat seseorang memilih untuk tetap tinggal?
Bagi Asia, jawabannya bukan sekadar perasaan. Ada penghargaan, perhatian, dan kebiasaan untuk terus merawat hubungan. Sebab, cinta mungkin bermula dari rasa, tetapi kesetiaan tumbuh dari pilihan yang dilakukan berulang kali.
Dan mungkin, di situlah kekuatan The Ribs: mengajak pembaca bukan hanya mengejar waktu bersama seseorang, tetapi juga memahami apa yang membuat sebuah kebersamaan layak dipertahankan.***









