MAJALAHREFORMASI.com – Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Qamaril, atau yang akrab disapa Qyu. Di balik sosoknya yang anggun dan kecintaannya pada dunia berkuda, perempuan Indonesia ini menyimpan perjalanan yang mempertemukan pendidikan, prestasi, keberanian, dan mimpi membawa nama Merah Putih ke panggung dunia.
Lulusan Sarjana Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menyelesaikan pendidikannya dengan predikat cum laude, dengan IPK 3,76. Ia pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam presentasi penelitian di Afrika Selatan pada 2013 dan meraih juara pertama lomba presentasi bahasa Prancis tingkat nasional. Kini, langkahnya membawanya ke dunia yang berbeda sekaligus sangat dekat dengan dirinya: olahraga polo dan ajang Miss Polo Universe 2027.
Qyu memang telah lama menekuni olahraga berkuda, bahkan jauh sebelum mengenal ajang Miss Polo Universe. Dunia equestrian menjadi ruang yang begitu dekat dengan dirinya. Di tengah kesibukannya berkarier di sebuah perusahaan swasta, ia kini semakin fokus pada olahraga polo, sebuah perjalanan yang kelak membawanya untuk mewakili Indonesia di Miss Polo Universe 2027.
Bagi Qyu, kesempatan tersebut bukan sekadar tentang sebuah kompetisi atau pencapaian pribadi. Ada nama Indonesia yang ikut dibawa di dalamnya. Ada identitas yang ingin tetap dijaga ketika seseorang melangkah ke panggung internasional.
Pemikiran itu pula yang membuat makna Sumpah Pemuda terasa begitu dekat baginya.
“Menurut saya, Sumpah Pemuda di era modern bukan hanya tentang mengingat sejarah, tetapi juga tentang bagaimana kita meneruskan semangat persatuan melalui tindakan nyata,” ujar Qyu.
Hampir seabad setelah para pemuda Indonesia mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, tantangan generasi muda memang telah berubah. Dunia kini semakin terbuka. Teknologi membuat informasi dan pengetahuan dapat diakses dalam hitungan detik. Batas negara pun semakin mudah dilintasi melalui pendidikan, pekerjaan, olahraga, maupun berbagai kesempatan di tingkat internasional.
Menurut Qyu, situasi tersebut seharusnya menjadi peluang bagi generasi muda Indonesia untuk tumbuh lebih jauh. Mereka memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, berkarya, berkompetisi, dan memperkenalkan kemampuan Indonesia kepada dunia.
Namun, ada satu hal yang menurutnya tidak boleh ikut hilang dalam derasnya perubahan: jati diri.
“Di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi, generasi muda Indonesia memiliki kesempatan yang jauh lebih luas untuk belajar, berkarya, dan membawa nama Indonesia ke tingkat internasional. Namun, di tengah semua kemajuan itu, kita tidak boleh kehilangan identitas dan nilai-nilai kebangsaan kita,” katanya.
Pandangan tersebut terasa selaras dengan perjalanan hidup Qyu. Pendidikan memberinya bekal intelektual, pengalaman internasional memperluas wawasannya, sementara dunia olahraga mengajarkannya tentang disiplin dan keberanian untuk terus berkembang.
Baginya, menjadi generasi muda Indonesia tidak berarti harus memilih antara menjadi warga dunia dan tetap mencintai tanah air. Justru keduanya dapat berjalan bersama.
“Bagi saya, menjadi generasi muda Indonesia berarti memiliki wawasan global, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Indonesia. Kita boleh berkompetisi di panggung dunia, tetapi kita juga harus ingat bagaimana kita dapat berkontribusi bagi bangsa sendiri,” tuturnya.
Karena itu, Sumpah Pemuda di masa kini, menurut Qyu, tidak cukup hanya diperingati dengan seremoni. Semangatnya harus hadir dalam tindakan nyata, termasuk melalui pendidikan, pekerjaan, kreativitas, prestasi, maupun bidang apa pun yang ditekuni generasi muda.
“Semangat Sumpah Pemuda hari ini adalah bagaimana kita menggunakan kemampuan, pendidikan, dan kesempatan yang kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi Indonesia,” tegasnya.
Ketika Perempuan Memilih Jalan yang Mungkin Tak Biasa
Bagi Qyu, berbicara tentang masa depan Indonesia juga berarti berbicara tentang bagaimana generasi mudanya dipersiapkan. Ia berharap anak-anak muda Indonesia tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang unggul secara akademik dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter serta kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
“Harapan terbesar saya adalah melihat generasi muda Indonesia tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, teknologi, dan prestasi, tetapi juga kuat dalam karakter dan kepedulian sosial,” ungkapnya.
Ia ingin semakin banyak anak muda yang berani memiliki mimpi besar tanpa kehilangan kemampuan untuk bekerja bersama. Sebab Indonesia dibangun dari keberagaman, dan perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.
“Saya berharap semakin banyak anak muda yang berani berpikir besar, memiliki daya saing global, dan mampu bekerja sama di tengah perbedaan suku, agama, budaya, latar belakang, maupun pandangan,” katanya.
Harapan Qyu kemudian mengarah pada perempuan Indonesia. Ia percaya, perempuan harus memiliki ruang yang semakin luas untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, termasuk ketika pilihan tersebut membawa mereka ke bidang yang mungkin selama ini dianggap tidak biasa.
Ia berharap akses terhadap pendidikan, pengembangan potensi, kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, serta ruang untuk berkarya terus terbuka bagi perempuan Indonesia.
“Khusus bagi perempuan Indonesia, saya berharap semakin terbuka kesempatan untuk mengakses pendidikan, mengembangkan potensi, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dan berkarya di berbagai bidang, termasuk bidang-bidang yang selama ini mungkin dianggap tidak biasa bagi perempuan,” ujarnya.
Perjalanan Qyu sendiri menjadi gambaran kecil tentang kemungkinan tersebut. Ia menempuh pendidikan Sastra Prancis, berprestasi dalam bidang presentasi, pernah membawa nama Indonesia dalam sebuah presentasi penelitian di Afrika Selatan, menjalani karier profesional, sekaligus menekuni dunia equestrian dan polo.
Jalan yang dipilihnya mungkin tidak selalu merupakan jalan yang paling umum. Namun justru di sanalah ia menemukan ruang untuk berkembang.
“Saya ingin melihat lebih banyak perempuan Indonesia yang percaya pada kemampuannya sendiri, berani mengambil peluang, dan mampu berdiri dengan identitas serta nilai-nilainya tanpa harus kehilangan jati diri,” kata Qyu.
Kalimat itu menjadi semakin bermakna ketika ia bersiap menghadapi Miss Polo Universe 2027. Di panggung tersebut, Qyu tidak hanya akan membawa dirinya sebagai seorang perempuan yang mencintai olahraga polo. Ia juga membawa cerita tentang pendidikan, proses panjang, keberanian mengambil kesempatan, dan tentu saja identitas Indonesia.
Panggung internasional, baginya, bukan alasan untuk meninggalkan akar. Sebaliknya, menjadi bagian dari dunia global justru menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa perempuan Indonesia dapat hadir dengan kemampuan dan karakter yang kuat.
Pada akhirnya, Qyu memandang masa depan Indonesia bukan semata-mata dari banyaknya prestasi yang berhasil ditorehkan. Ada ukuran lain yang jauh lebih manusiawi: bagaimana generasi hari ini memperlakukan sesama dan apa yang mereka tinggalkan untuk generasi berikutnya.
“Pada akhirnya, masa depan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak prestasi yang berhasil kita raih, tetapi juga oleh bagaimana kita memperlakukan satu sama lain dan apa yang kita lakukan untuk generasi berikutnya,” pungkasnya.
Mungkin, di situlah Sumpah Pemuda menemukan maknanya kembali di zaman sekarang. Ia tidak harus selalu hadir dalam bentuk pidato panjang atau seremoni. Ia bisa tumbuh dari keberanian seorang anak muda untuk belajar lebih tinggi, dari tekad seorang perempuan untuk menembus bidang yang belum banyak dipilih, atau dari langkah seseorang yang membawa nama Indonesia ketika berdiri di panggung dunia.
Seperti Qyu yang bersiap membawa Merah Putih dari arena polo menuju Miss Polo Universe 2027, semangat itu pada akhirnya berbicara tentang satu hal: bagaimana setiap kesempatan yang dimiliki generasi muda dapat menjadi jalan untuk tumbuh, memberi arti, dan membuat Indonesia dikenal bukan hanya karena namanya, tetapi juga karena kualitas manusianya.***












