Pesan Paskah John Palinggi: Saatnya Bangkit, Tinggalkan Sifat Lama dan Hidup Baru

MAJALAHREFORMASI.com – Di tengah dinamika kehidupan global yang penuh ketidakpastian—mulai dari konflik geopolitik hingga ancaman krisis ekonomi—perayaan Paskah hadir membawa pesan yang melampaui sekadar ritual keagamaan. Bagi John Palinggi, Paskah adalah momentum refleksi mendalam tentang perubahan diri, harapan, dan kemanusiaan.

Sebagai pengusaha nasional sekaligus Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), John memaknai Paskah sebagai puncak iman Kristiani—perayaan kebangkitan Yesus Kristus yang melambangkan kemenangan atas dosa dan maut, sekaligus membuka jalan menuju harapan baru.

“Paskah itu bicara tentang perubahan. Dari manusia lama menjadi manusia baru,” ujarnya.

Menanggalkan “Manusia Lama”

Dalam pandangannya, “manusia lama” adalah sosok yang masih dikuasai oleh sifat-sifat negatif: pikiran kotor, pesimisme, kebiasaan memfitnah, hingga merendahkan sesama. Paskah, menurutnya, menjadi titik balik untuk meninggalkan semua itu.

Momentum ini, lanjut John, adalah kesempatan untuk “mematikan” karakter lama yang buruk, dan bangkit sebagai pribadi yang lebih baik. Sebuah transformasi yang bukan hanya diajarkan dalam Kekristenan, tetapi juga hadir dalam berbagai ajaran agama lain.

Ia mencontohkan bagaimana dalam ajaran Buddha terdapat konsep meninggalkan kehidupan lama menuju kehidupan baru. Dalam Hindu, terdapat praktik puasa dan penyucian diri. Sementara dalam Islam, Ramadan menjadi momen menahan diri yang berujung pada kondisi fitrah—kembali bersih.

“Semua agama mengajarkan hal yang sama: meninggalkan yang buruk dan menjadi manusia baru,” tegasnya.

Ciri Manusia Baru: Membawa Sukacita

Lebih jauh, John menggambarkan “manusia baru” sebagai pribadi yang penuh kasih, menjauh dari pelanggaran hukum, serta tidak tergoda untuk melakukan korupsi atau mengambil hak orang lain.

“Kalau manusia baru itu bertemu orang lain, dia membawa kebahagiaan. Tapi kalau manusia lama, wajahnya saja sudah menunjukkan sesuatu yang gelap,” katanya.

Menurutnya, indikator utama perubahan itu sederhana: apakah kehadiran seseorang membawa sukacita bagi orang lain atau justru sebaliknya.

Dalam ajaran Kristiani, kasih tidak hanya ditujukan kepada Tuhan, tetapi juga kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun latar belakang ekonomi. Bahkan, perhatian lebih justru perlu diberikan kepada mereka yang kurang beruntung.

Paskah dan Makna Solidaritas

Paskah juga, menurut John, tidak boleh berhenti pada perayaan seremonial. Lebih dari itu, ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata—khususnya dalam bentuk solidaritas dan kepedulian sosial.

“Percuma orang beriman kalau tidak peduli pada sesama. Itu artinya belum memahami makna Paskah,” ujarnya lugas.

Ia menekankan bahwa iman sejati tercermin dari tindakan membantu mereka yang membutuhkan. Tanpa kepedulian, iman hanya menjadi simbol tanpa makna.

Dari Kegelapan Menuju Terang

Secara spiritual, Paskah dimaknai sebagai transisi dari kegelapan menuju terang. Kebangkitan Kristus menjadi simbol kemenangan atas kejahatan dan kematian, sekaligus penegasan kasih Tuhan kepada manusia.

Namun, John mengingatkan bahwa tidak semua orang mengalami transisi ini.

“Kalau masih hidup dalam kejahatan dan dosa, berarti belum berpindah ke terang,” katanya.

Paskah, lanjutnya, adalah pembebasan rohani—sebuah kesempatan untuk meninggalkan rasa takut, termasuk ketakutan akan kematian, karena telah ada penebusan.

Refleksi di Tengah Krisis Global

Menariknya, John juga mengaitkan makna Paskah dengan kondisi dunia saat ini. Ia menilai bahwa krisis, termasuk potensi resesi global, tidak semata-mata harus dilihat sebagai ancaman, tetapi juga sebagai proses penyaringan kehidupan.

“Resesi itu seperti filter. Akan terlihat siapa yang kuat dan siapa yang tidak,” jelasnya.

Menurutnya, mereka yang mampu menjaga hati, tidak melanggar hukum, dan tetap berbuat baik akan mampu bertahan. Sebaliknya, mereka yang mudah putus asa menunjukkan kurangnya keteguhan iman.

Dalam konteks keluarga, ia melihat krisis justru bisa menjadi momen mempererat hubungan. Begitu pula dalam kehidupan berbangsa, di mana konflik kepentingan bisa mereda karena kesadaran kolektif akan pentingnya kebersamaan.

“Manusia sering baru mencari Tuhan saat mengalami kesulitan,” tambahnya.

Kasih yang Tulus, Bukan Sekadar Retorika

Di akhir refleksinya, John mengingatkan bahwa kasih dalam iman Kristiani bukanlah sekadar konsep, melainkan harus diwujudkan secara tulus.

Ia mengkritik sikap hipokrit—mengaku mengasihi orang lain, tetapi tidak mampu mengasihi diri sendiri atau hidup dalam ketidakjujuran.

“Kasih itu harus nyata. Tidak bisa pura-pura,” tegasnya.

Pesan Penutup

Bagi John, Paskah adalah panggilan untuk menjadi terang dan garam bagi dunia—menjadi pribadi yang membawa perubahan positif di tengah masyarakat.

“Peliharalah hatimu, karena dari situlah kehidupan terpancar,” pesannya.

Di tengah dunia yang terus berubah, pesan sederhana itu terasa semakin relevan: bahwa perubahan besar selalu dimulai dari dalam diri. Dan Paskah, bagi mereka yang memaknainya, adalah awal dari perjalanan itu. (*)