MAJALAHREFORMASI.com – Forsednibudpar bekerja sama dengan Galeri Mata Nusantara (GMN) menggelar pameran foto bertema “Toraja, Rumah Para Leluhur: Tradisi yang Menantang Waktu”. Pameran ini resmi dibuka di Institut Français d’Indonésie (IFI) Wijaya, Jakarta Selatan, Rabu (27/8/2025) malam.
Pameran menampilkan potret mendalam budaya Tana Toraja, mulai dari wajah-wajah para tetua yang penuh garis pengalaman, kerbau belang yang dihormati, hingga keceriaan anak-anak berlarian di halaman tongkonan. Foto-foto tersebut menghadirkan lebih dari sekadar visual, melainkan jendela untuk menyelami jiwa masyarakat Toraja.
Kurator pameran, Hasiholan Siahaan, menjelaskan bahwa tema dipilih karena Toraja sarat dengan kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan modern.
“Toraja menyimpan banyak simbol penting tentang hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan sesama. Itulah warisan yang patut kita pelajari,” ujarnya.
Lebih jauh, pengunjung diajak untuk merasakan filosofi Aluk To Dolo, sistem kepercayaan leluhur yang mengatur tatanan hidup hingga kematian. “Pameran ini bukan sekadar foto, tapi pengalaman untuk memahami cara pandang masyarakat Toraja tentang waktu dan kehidupan,” tambah Hasiholan.
Kepala Cabang IFI Jakarta, Syarah Hikal Andriani, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pameran ini. Ia menilai momentum ini sejalan dengan peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Prancis.
“IFI bukan hanya ruang untuk pendidikan dan teknologi, tetapi juga kebudayaan. Sejak 2012 kami rutin mengundang seniman Indonesia untuk berpameran di sini. Judul pameran ini tepat sekali, sebuah refleksi apakah kita bisa melawan arus digitalisasi sekaligus menjaga simbol daerah yang harus dilestarikan,” kata Syarah.
Salah satu pengunjung, Ester, mengaku kagum dengan keindahan budaya Toraja yang ditampilkan. “Lewat foto, saya bisa merasakan kedalaman tradisi yang mungkin selama ini hanya saya dengar sekilas,” tuturnya.
Pameran ini digelar gratis dan terbuka untuk umum hingga 7 September 2025. Selain pameran, pada Kamis (28/8/2025) pukul 15.00 WIB akan diadakan diskusi budaya yang menghadirkan sejumlah narasumber.
Diskusi akan mengupas nilai adat dan tradisi Toraja, termasuk tantangan pelestarian upacara seperti Rambu Solo’ dan Ma’nene yang mulai ditinggalkan generasi muda karena dianggap rumit, mahal, dan memakan waktu.







