Oleh: Dra. Alida Handau Lampe Guyer, MSi
MAJALAHREFORMASI.com – Underground ekonomi, juga dikenal sebagai EKONOMI BAYANGAN, adalah kegiatan ekonomi yang tidak tercatat dalam statistik resmi dan tidak membayar pajak.
Underground ekonomi dapat menyebabkan distorsi ekonomi serta memiliki dampak negatif terhadap perekonomian.
Perkiraan besaran underground ekonomi Indonesia bervariasi, tetapi beberapa sumber menyebutkan bahwa underground ekonomi Indonesia mencapai 30–40% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, atau sekitar Rp 4.603,5 triliun hingga Rp 6.173,6 triliun pada tahun 2020.
Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2025 diperkirakan sebesar Rp 5.665,9 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2%.
Jika diasumsikan underground ekonomi berkisar antara 30–40% dari PDB, maka perkiraan underground ekonomi Indonesia pada tahun 2025 ini sekitar Rp 1.699,8 hingga Rp 2.269 triliun.
Underground ekonomi Indonesia antara lain:
1. Kegiatan ilegal: korupsi, perjudian, narkoba, ekspor-impor ilegal, dan penyelundupan.
2. Kegiatan legal yang tidak dideklarasikan, seperti pekerjaan informal, usaha kecil, dan pelaporan pajak yang tidak tepat.
3. Penghindaran pajak: pelaporan pendapatan yang tidak jujur, transfer pricing, underpricing, dan underinvoicing.
Underground ekonomi memiliki dampak negatif pada perekonomian, seperti:
1. Kehilangan pendapatan pajak — pemerintah kehilangan pendapatan pajak yang seharusnya diterima.
2. Distorsi ekonomi — underground ekonomi menyebabkan distorsi seperti inflasi atau defisit perdagangan.
3. Kriminalitas — underground ekonomi dapat terkait dengan kegiatan kriminal, seperti pencucian uang atau perdagangan manusia.
Tugas berat Menteri Keuangan Purbaya atas perintah Presiden Prabowo adalah menelisik agar underground ekonomi ini bisa DIKEJAR di manapun BERADA dan dijadikan salah satu sumber untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi mencapai target 8% atau bahkan 10%.
Baru juga dua bulan menjabat, gebrakan Menteri Purbaya segera menampakkan hasil.
Salah satu yang sangat viral dan menimbulkan perdebatan sengit di masyarakat adalah utang BESAR (Rp 120 triliun) kereta api cepat WHOOSH yang ditenggarai sarat skandal, mark-up, korupsi, sangat merugikan, dan diperkirakan bisa GAGAL BAYAR.
Sebagai STRIKER utama dengan KECERDASAN-nya, Menteri Purbaya berhasil menggiring bola sampai ke depan gawang lawan.
Tanpa buang waktu, segera dieksekusi oleh Presiden Prabowo. GOAL!!!!!
Entah berapa besar underground ekonomi yang berhasil dikumpulkan.
Tapi melihat ketegasan dan kepercayaan diri Presiden Prabowo, kita bangsa BESAR, bukan bangsa SEMBARANGAN — kita lebih dari MAMPU bayar (gak ada masalah).
Mengindikasikan bahwa jumlah uang underground ekonomi yang didapat pasti cukup BESAR.
Bayar utang WHOOSH CINCAY lah yawww… (*)








