MAJALAHREFORMASI.com – Paskah adalah awal segalanya, termasuk gereja, keselamatan, dan awal pengharapan. Demikian disampaikan Pdt. Mulyadi Sulaeman dalam pesan Paskahnya, seraya mengajak umat untuk menjadikan momen kebangkitan Kristus sebagai perenungan dan refleksi diri yang paling mendalam akan kasih-Nya yang menyelamatkan.
Namun ironisnya, banyak umat Kristen justru lebih menitikberatkan perayaan Natal, padahal inti dari iman Kristen terlatak pada kuasa kebangkitan Nya yang telah menyelamatkan kita dari dosa dan maut serta dari kuasa iblis.
Lebih lanjut, peringatan Paskah tahun ini terasa istimewa karena Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) sepakat mengangkat tema keluarga.
“Saya melihat ada satu visi bersama dari para pemimpin gereja yang harus diperkuat saat ini adalah keluarga, khususnya di tengah kegoncangan yang sedang melanda dunia,” lanjut Gembala GSPDI House of filadelfia Bellezza Permata Hijau, Jakarta Selatan ini kepada wartawan.
Kegoncangan ini nyata. Dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal hingga keputusan-keputusan ekonomi yang mengejutkan, banyak pihak membandingkan situasi global saat ini dengan awal masa-masa kelan sepenti resesi besar pada 1940-an yang memicu Perang Dunia II. Bahkan, di kitab Ibrani pasal 12 telah menubuatkan bahwa akan ada kegoncangan besar di dunia, namun ini adalah panggilan untuk berdiri teguh di dalam Kristus.
Spirit Ketakutan pada Dunia
Film The Last Supper yang tengah ditayangkan di bioskop saat ini pun menyoroti tema ini melalui kisah Petrus dan Yudas dua tokoh yang menyangkal Yesus. Film ini mencerminkan roh ketakutan yang menyelimuti dunia masa kini. Tapi Alkitab jelas berkata:
“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri. (2 Timotius 1:7)
Maka dari itu, keluarga menjadi tempat pertama dan utama untuk membangun kembali kekuatan rohani, kasih sejati, dan ketahanan iman. Kita bersyukur hidup di Indonesia bangsa yang dikenal dengan semangat gotong royong dan nilai kekeluargaannya.
Maka di masa-masa paling sulit sekalipun, siapa lagi yang paling bisa menopang kita selain keluarga yang hidup dalam damai sejahtera?
Pdt. Mulyadi juga mengingatkan bagaimana pandemi COVID-19 dahulu menjadi guru besar bagi gereja dan keluarga. Selama tiga tahun, kita diajar untuk saling mengasihi, saling menjaga, dan bertahan bersama. Dibandingkan gelombang PHK saat ini, pandemi itu adalah masa yang lebih berat-namun kita bisa melewatinya karena kita bersatu dan saling mendukung dalam kasih.
Kini, ujar dia, kita kembali diingatkan akan inti dari Paskah: keselamatan, pengampunan, dan pertobatan yang lahir dari pengorbanan Yesus di kayu salib. Seperti yang diajarkan dalam Doa Bapa Kami: kita diminta bertobat setiap hari dan saling mengampuni, sebab Tuhan tidak akan mengampuni kita jika kita tidak mengampuni sesama.
Melalui perenungan Jumat Agung dan Paskah ini, mari kita bereskan hati, damaikan relasi, dan kuatkan kembali ikatan kasih dalam keluarga. Ketika kita bersatu dalam kasih, kekompakan akan mengalir dengan sendirinya, dan kita akan mampu melewati masa-masa sulit sambil tetap berpengharapan.
“Yesus Kristus telah bangkit. Kematian dikalahkan. Mari jadikan Dia satu-satunya Juru Selamat dan Penolong, bahkan di masa paling kelam sekalipun,” pungkasnya sambil menutup. (*)








