MAJALAHREFORMASI.com – Bagi sebagian orang, Tahun Baru Imlek identik dengan lampion merah, angpao, dan riuh petasan. Namun bagi John Palinggi, seorang pengusaha nasional sekaligus Ketua Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Imlek adalah tentang akar: menghormati leluhur dan merawat harmoni keluarga sebagai fondasi kehidupan.
“Yang paling mendasar dari Imlek adalah penghormatan kepada leluhur. Itu nilai yang tidak pernah berubah,” ujar John saat ditemui menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Di ruang kerjanya yang mewah dan penuh foto keluarga, ia menjelaskan bahwa tradisi memasang foto leluhur bukan sekadar simbol. Itu adalah pengingat akan jasa dan perjuangan mereka yang telah mendahului. “Kita tidak boleh lupa dari mana kita berasal. Minum air harus tahu sumbernya,” katanya pelan.
Menguatkan Ikatan, Menguatkan Usaha
Bagi John, kebersamaan keluarga saat Imlek bukan hanya ritual tahunan. Ia menyebut momen berkumpul sebagai ruang mempererat ikatan batin yang pada akhirnya berdampak pada kehidupan di luar rumah, termasuk dalam usaha dan relasi sosial.
“Kalau keluarga kuat, usaha di luar pun akan kuat,” ujarnya.
Tahun ini, yang diyakini sebagai Tahun Kuda Api dalam penanggalan lunar, ia berharap membawa semangat kesejahteraan dan daya juang. Dalam tradisi Tionghoa, shio kuda melambangkan energi, ketekunan, dan keberanian menembus batas.
John pun menyampaikan salam hangat kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia dan dunia.
“Shien Nien Kuai Le, selamat Tahun Baru Imlek. Gong Xi Fa Cai, semoga memperoleh keberuntungan dan keberkahan. Wan Shi Ru Yi, semoga segala yang diinginkan tercapai. Dan semoga kita semua selalu sehat walafiat,” ucap pengusaha yang sejak tahun 2001 hingga kini sudah memperoleh APEC Business Travel Card, yaitu bebas visa di 19 negara di Asia Pasifik ini kepada wartawan.
Jejak Sejarah dan Legenda Nian
Menurut John, nilai luhur Imlek tak bisa dilepaskan dari sejarah panjangnya. Tradisi tahun baru lunar telah dikenal sejak era Dinasti Zhou di Tiongkok, sekitar 1046–256 sebelum Masehi, sebagai upacara syukur atas panen dan doa memohon keberuntungan tahun berikutnya.
Penanggalan lunar kemudian dipertegas pada masa Kaisar Wu dari Dinasti Han yang menetapkan sistem kalender berbasis siklus bulan.
Selain sejarah, ada pula legenda tentang monster laut bernama Nian, yang konon muncul setiap pergantian tahun untuk memangsa manusia dan ternak. Masyarakat menemukan bahwa Nian takut warna merah, suara ledakan, dan cahaya terang. Dari situlah lahir tradisi dekorasi merah, petasan, dan lampion yang hingga kini menjadi ciri khas Imlek.
“Maknanya jelas: kita tinggalkan kebiasaan buruk, kita songsong yang baru dengan keberanian dan cahaya,” kata John.
Falsafah Dagang dan “Never Give Up”
Empat puluh lima tahun berkiprah di dunia usaha bukan perjalanan yang singkat. John mengawali karier sebagai karyawan sebelum akhirnya memimpin perusahaan. Ia mengaku ditempa oleh seorang guru yang setiap pukul empat sore mengajarkannya falsafah dagang.
Salah satu petuah yang paling membekas adalah: seribu teman masih kurang, satu musuh terlalu banyak.
“Dalam bisnis, jaringan itu penting. Kalau kita punya banyak saudara, jatuh di pinggir jalan pun ada yang menolong,” katanya.
Prinsip kedua: minum air harus tahu sumbernya. Ia menekankan pentingnya menghargai orang-orang yang pernah membantu dan membesarkan kita. “Jangan pernah melupakan jasa. Pandai-pandailah berterima kasih.”
Ia juga memegang teguh filosofi kerja keras. “Kalau mau ikan besar, umpannya harus besar. Jangan harap rezeki besar kalau masuk kantor jam 10 pagi, pulang jam 2 siang,” ujarnya sambil tersenyum. Hingga kini, ia terbiasa memulai aktivitas sejak dini hari.
Bagi John, dunia usaha berdiri di atas kepercayaan. Ia mencontohkan praktik di kalangan pengusaha Tionghoa yang mengandalkan kepercayaan bahkan tanpa tanda terima tertulis. “Sekali tidak jujur, selesai. Dicoret.”
Namun satu hal yang paling ia tekankan adalah pantang menyerah. “Pengusaha itu bukan tidak pernah kalah, tapi tidak pernah berhenti. Never give up.”
Semangat itu pula yang ia tularkan kepada berbagai organisasi kepemudaan lintas latar belakang agama dan daerah. Baginya, nilai kejujuran dan kerja keras bersifat universal.
Dari Larangan ke Pengakuan
Sebagai Ketua BISMA yang berdiri pada tahun 2000, John menyaksikan langsung transformasi perayaan Imlek di Indonesia. Sebelum tahun 2000, masyarakat Tionghoa tidak bebas merayakan Imlek di ruang publik.
Perubahan besar terjadi ketika Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, mencabut berbagai pembatasan terhadap ekspresi budaya Tionghoa. Tiga tahun kemudian, Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.
Di masa transisi itu, tokoh cendekiawan Muslim almarhum Nurcholish Madjid menggagas berdirinya BISMA sebagai wadah interaksi sosial lintas agama. John mengenangnya dengan mata berkaca-kaca.
“Beliau mengajarkan rukun dalam perbedaan akidah dan teologi. Jangan campur aduk keyakinan, tapi kita wajib hidup damai untuk membangun bangsa,” kenangnya.
BISMA, kata John, dibentuk agar masyarakat berbagai agama dapat saling berinteraksi tanpa mencampuri wilayah teologis masing-masing. Tujuannya sederhana: merawat kerukunan dan memperkuat persatuan.
Pesan untuk Masa Depan
Menutup perbincangan, John berharap masyarakat Tionghoa di Indonesia terus berperan aktif membangun bangsa, mendukung pemerintah, serta menjauhi praktik yang merugikan rakyat.
“Imlek mengajarkan kita bersyukur atas yang lalu dan berharap kebaikan ke depan. Tinggalkan yang buruk, lakukan yang baik,” katanya.
Di tengah gemerlap lampion merah dan dentuman petasan, pesan itu terasa relevan. Bagi John Palinggi, Imlek bukan sekadar pergantian tahun. Ia adalah momentum membersihkan hati, memperkuat keluarga, membangun kepercayaan, dan meneguhkan semangat pantang menyerah—sebuah warisan nilai yang melampaui batas etnis dan zaman. (*)







