MAJALAHREFORMASI.com – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas siang dan penatnya dinamika kota, secercah kehangatan dan ketenangan menyapa di Jill Cakalang Resto Depok. Di tempat itulah acara Faith Talk (FT) berlangsung dengan suasana yang akrab dan penuh makna, Rabu (9/4/2025).
Menariknya dalam acara ini Firman Tuhan dalam acara Faith Talk siang itu dibawakan oleh seorang hamba Tuhan yang sangat dikenal karena pelayanan sosialnya yang konsisten dan hatinya yang lembut, Lovisa Mardzuki.
Siang itu Lovisa yang mengutip ayat penuh kekuatan dari Matius 6:33.
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Dengan penuh kerendahan hati, Lovisa membagikan kisah hidupnya—bagaimana ia dipertemukan dengan Tuhan melalui jalan yang tak mudah. Ia mengisahkan masa-masa kelam ketika ia mengalami kebangkrutan hebat karena belum mengenal Tuhan.
“Meskipun asetku sudah dijual, hasilnya tetap tidak bisa menutupi utang karena jumlah utangnya lebih besar daripada nilai aset, tetapi Puji Tuhan, saya dikelilingi oleh hamba-hamba Tuhan,” ungkapnya saat membawakan firman.
Lovisa mengaku setiap hari dihantui kedatangan debt collector. Ia merasa tertekan, takut, dan putus asa. Namun di tengah keterpurukan, seorang hamba Tuhan menasihatinya untuk “mencari Tuhan.”
“Saya bingung. Gimana caranya cari Tuhan? Saya bahkan gak kenal siapa Dia sebenarnya,” kenangnya.
Sampai suatu hari, ia diajak ke gereja. Dalam kebaktian itu, saat seorang hamba Tuhan mengajak siapa saja yang ingin didoakan untuk maju ke depan, Lovisa melangkah tanpa ragu.
“Saya langsung maju. Saat itu saya merasakan hadirat Tuhan menyentuh hati saya begitu kuat. Saya menangis, bahkan meraung-raung. Ada kelegaan luar biasa yang saya rasakan hari itu,” kisahnya dengan mata berkaca.
Pengalaman itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah itu, ia diajak oleh seorang hamba Tuhan bernama Tante Seyana ke Ungaran untuk berdoa lebih dalam. Dan keesokan harinya, Lovisa pun mengambil keputusan untuk dibaptis.
Dalam kotbahnya, Lovisa juga membagikan empat prinsip penting dalam mencari Tuhan, yang ia pelajari melalui pengalaman rohaninya sendiri:
1.) Memiliki kerinduan untuk mencari Tuhan.
Berbeda dengan orang dunia yang mengejar materi, kita harus punya kehausan akan Tuhan.
2) Menjauhkan hal-hal yang dibenci Tuhan.
Jika kita sudah memiliki Tuhan, hidup kita harus mencerminkan-Nya dalam cara berpakaian, berkata-kata, dan bersikap.
3) Mengejar kebenaran.
Pondasi hidup harus berdasarkan firman. Tanpa dasar yang kuat, kita mudah goyah.
4) Menerima rahmat Tuhan dengan penuh kesadaran.
Hidup ini adalah kasih karunia—jangan pernah menyia-nyiakan anugerah-Nya.
“Makanya dalam hidup, kita juga harus selektif dalam memilih teman. Teman bisa jadi saluran berkat, tapi juga bisa menjauhkan kita dari panggilan Tuhan,” ucapnya.
Tak hanya membagikan kisah hidupnya, Lovisa juga menyampaikan langkah-langkah praktis dalam mencari Tuhan bukan sekadar ritual, melainkan hubungan yang hidup dan bertumbuh setiap hari:
1) Merenungkan Firman Tuhan setiap hari.
Membaca Firman saja belum cukup, tetapi harus dihayati dan direnungkan. Firman Tuhan menjadi pelita bagi langkah dan penuntun dalam mengambil keputusan.
2) Belajar bersyukur dalam segala keadaan.
Menurut Lovisa, di balik ucapan syukur tersembunyi berkat yang Tuhan sediakan. Syukur membuka hati untuk melihat kebaikan Tuhan bahkan di tengah untuk melihat kebaikan Tuhan bahkan di tengah badai.
3) Merindukan pertumbuhan rohani.
Ia menekankan pentingnya memiliki komunitas atau gereja lokal.
“Kita harus punya tempat untuk berakar, agar bisa bertumbuh dan pada waktunya berbuah,” jelasnya.
4) Menjadi saluran berkat.
Lovisa percaya bahwa saat kita mau dipakai Tuhan, maka rancangan-Nya akan digenapi—termasuk dalam pekerjaan, pelayanan, dan keluarga.
“Tuhan yang membukakan pintu, Dia juga yang mengangkat jabatan dan membawa kita naik dan terus naik,” katanya penuh keyakinan.
5) Jangan jemu berbuat baik.
Ia menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa setiap kebaikan tidak akan pernah sia-sia.
“Firman Tuhan berkata, siapa yang berbuat baik, itu sama dengan memiutangi Tuhan. Dan Tuhan tak pernah lupa membalasnya.”
Sebelumnya acara FT ini juga dirangkai dengan kesaksian dari 2 (dua) orang hamba Tuhan.

Kesaksian Mia Sigit: “Doa Seorang Kakek Mengubah Hidup Saya”
Dengan suara lembut namun penuh keyakinan, Mia Sigit membuka kesaksiannya. Kali ini, bukan tentang dirinya semata, tetapi tentang perjuangan dan kasih seorang opa yang telah menanam benih iman dalam hidupnya.
“Saya rindu membagikan kisah bagaimana perjuangan oma dan opa, bahwa usia tua bukan alasan untuk berhenti berkarya atau berhenti berdampak. Karena justru dari merekalah, generasi baru bisa dibentuk,” ujarnya mengawali cerita.
Mia kemudian menuturkan kisah tentang seorang kakek dari Sumenep, Madura, yang adalah ayah kandung dari ibunya. Saat masih aktif sebagai anggota kepolisian, istrinya meninggal dunia dan ia harus mengasuh ketujuh anaknya yang masih kecil. Karena tuntutan pekerjaan, ia menitipkan anak-anaknya kepada sang kakak.
Seiring waktu, anak pertamanya menikah dengan seorang pria yang berlatar belakang keras—seorang preman. Meski sang ayah awalnya tidak menyetujui, ia akhirnya menerima keputusan anaknya. Dari pernikahan itu lahirlah seorang cucu perempuan, sesuai dengan harapan si kakek.
Namun, badai kembali datang. Saat anaknya mengandung anak ketiga, suaminya ingin menikah lagi (berpoligami). Kakek yang tidak terima anaknya dimadu, ikut campur dan berusaha melindunginya, hingga akhirnya pernikahan mereka berakhir dengan perceraian. Luka itu belum sembuh, hingga suatu hari, putrinya meninggal dunia. Sejak saat itu, si cucu diambil alih sepenuhnya dan diasuh oleh sang kakek.
“Saya adalah cucu itu,” ucap Mia dengan suara bergetar.
“Kakek saya yang mengajarkan saya mengenal Yesus. Di kelas 2 SD saya menerima Tuhan sebagai Juruselamat. Kakek saya tidak pernah lelah mendampingi saya, membimbing, dan mendoakan.”
Di tengah banyaknya luka dan pergumulan, sang kakek tetap berdiri teguh dalam iman. Ia tidak hanya menjadi pelindung fisik, tapi juga penjaga rohani bagi cucu-cucunya.
“Saya bangga sekali punya kakek seperti dia. Ia membesarkan saya, menanamkan nilai-nilai Kristen sejak kecil, dan terus mendoakan saya hingga saya bisa melayani Tuhan hari ini,” kata Mia, matanya berkaca-kaca.
Di akhir kesaksiannya, Mia menyampaikan pesan yang menyentuh hati, khususnya kepada para orang tua dan lansia di dalam gereja:
“Saya berdiri hari ini karena ada seorang kakek yang tidak lelah berdoa untuk saya. Saya ingin menyemangati para oma dan opa—jangan pernah merasa sudah tidak berguna. Justru dari doamulah generasi berikutnya akan berdiri teguh dalam Tuhan. Teruslah mendoakan anak dan cucumu, karena doa kalian tidak pernah sia-sia.”

Kesaksian Shandy: “Dulu Dimanja, Kini Mengandalkan Tuhan”
Dalam suasana yang hangat dan penuh pengharapan, Shandy membagikan kisah hidupnya yang penuh warna. Ia memulai dengan mengingat masa-masa indah saat suaminya masih hidup—sebuah fase hidup yang terasa begitu lancar dan tanpa beban.
“Waktu suami saya masih hidup, hidup saya begitu mudah. Saya sangat dimanja, apapun yang saya inginkan pasti dikabulkan,” ungkapnya dengan senyum tipis, mengenang masa lalu.
Saking nyamannya kehidupan saat itu, Shandy bahkan sempat bingung ketika mendengar orang lain di gereja berbagi tentang pergumulan mereka. Baginya, saat itu hidup seperti tanpa gelombang.
Namun semuanya berubah ketika sang suami meninggal dunia. Saat itulah ujian demi ujian mulai datang, dan Shandy harus berdiri sendiri menghadapi kenyataan.
“Sejak suami saya meninggal, saya mulai menjalani usaha sendiri dan sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Saya membuat komitmen untuk terus melayani Dia,” katanya dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh keyakinan.
Meski hidup tak lagi semudah dulu, Shandy menegaskan bahwa pemeliharaan Tuhan sangat nyata dalam kehidupannya. Ia tak pernah dibiarkan kekurangan, bahkan di tengah kesendirian.
“Tuhan itu luar biasa. Walaupun saya sendiri, saya tidak pernah kekurangan,” ujarnya penuh syukur.
Dalam kesempatan itu, Shandy juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bu Lovisa, yang telah mengajaknya terlibat dalam pelayanan. Ia merasa diberkati karena bisa melayani bersama dalam tim kecil yang ia sebut sebagai “partner bertiga”.
“Saya bersyukur atas kesempatan ini. Terima kasih untuk Tuhan, dan juga untuk para bapak dan ibu di tempat ini yang menjadi bagian dari perjalanan iman saya,” tutupnya dengan penuh haru.
Seperti diketahui, Lovisa bersama tim pelayanannya mengadakan acara Faith Talk (FT) khusus bagi Persekutuan Filadelfia—sebuah komunitas yang sebagian besar anggotanya merupakan lansia dari berbagai latar belakang suku dan budaya. Persekutuan ini terdiri dari hampir 100 jiwa, yang dengan setia menggelar ibadah doa dan pujian setiap dua minggu sekali, sebagai bentuk komitmen mereka dalam menjaga api iman tetap menyala di usia senja. (*)








