Logo Senin, 26 Oktober 2020

Sejarah

LINTAS SEJARAH GPKB

        Agaknya masih banyak diantara generasi muda GPKB dewasa ini tidak mengetahui bahwa sejarah GPKB masih dapat ditelusuri jauh sebelum 10 Juli 1927. Hari berganti tahun, berbagai peristiwa telah terjadi dan tertinggal di belakang menjadi bayang-bayang kabur bagi generasi baru.

        Sejak awal abad ke XX bayak orang Batak berdatangan di Batavia (Betawi) atau sekarang disebut Jakarta untuk bekerja atau menuntut ilmu, banyak persoalan yang dihadapi, tetapi salah satu persoalan yang dirasakan penting bagi orang Batak pada saat itu adalah masalah kebutuhan rohaninya yang terasa kosong. Kebiasaan pergi ke Gereja sudah di jalankan sejak masih kecil, di Jakarta pun mereka dapat pergi ke Gereja manapun dan selalu akan diterima dengan baik. Sulitnya, orang Batak pada waktu itu tidak merasa mantap jika mereka harus mendengar khotbah, berdoa dan bernyanyi tidak dalam bahasa Batak. Melihat makin banyaknya orang Batak berdatangan ke Jakarta, maka pada tahun 1920 timbullah prakarsa dari beberapa orang Batak untuk mengumpulkan keluarga Batak dan pemuda-pemudi dalam sebuah persekutuan ke Gerejaan. Mereka sehati menanamkan persekutuan itu dengan “Bataksche Christen Gemeente”(BCG). Persekutuan ini tidak bergantung pada salah satu Gereja di Batavia dan juga tidak pada Rheinsche Zending Genootschaap (RZG) yang menjadi induk kekristenan Gereja-Gereja di Batak. Mereka merupakan Gereja yang berdiri sendiri dengan prinsip yang “menjunjung tinggi baringinna” yaitu kemandirian Gereja yang otonom. Sifat perkumpulan adalah berdasarkan kekeluargaan dan keputusan dilaksanakan secara Demokrasi.

         Pada tuhun 1926 terjadi pergolakan dalam tubuh BCG memisahkan diri dan membentuk “Pongoean Kristen Batak”(PKB). Kebaktiann pertama pada tanggal 10 juli 1927 dilaksankan bertempat di “Loge Gebouw” Vrijimetselaarsweg, Weltevreden atau Gedung “Kimia Farma” sekarang jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat.

        Dari Statuten GPKB yang disahkan pada tuhun 1923, nyata tujuan perkumpulan ini adalah untuk menghidupkan persaudaraan di antara orang-orang Kristen. Dalam pengembangan kehidupan kekristenan tidak akan dilaksanakan dengan kekerasan atau paksaan, melainkan perundingan dan kasih sayang (Holong Ni Roha). Keberanian PKB atas memerdekakan dirinya dari ikatan dan pengaruh organisasi lain yang sudah lebih mapan berarti harus menghadapi banyak tantangan. Perkumpulan yang masih muda ini belum memiliki Pendeta sendiri. Tetapi kepercayaan akan bimbingan dan kehendak Tuhan merupaka landasan keyakinan para Pendiri PKB semenjak semula.

        PKB merupakan Gereja Batak pertama di Jakarta yang mendapat pengakuan secara hukum (Rechtspersoon) dari pemerintah Hindia Belanda, yang dinyatakan sebagai badan hukum dengan bersluit tanggal 11 November 1932 no. 20 dan sebagai Gereja bersluit tanggal 28 November No. 20 stbl no. 522. Dengan demikian hak hidup dan berorganisasi PKB telah dilindungi. Keberanian PKB untuk membenahi Organisasi Gerejanya. Antara lain terlihat pada Gereja Pomadi, K.G.P.M (Kerapatan Gereja Prostestan Minahasa), Gereja Pasundan dsb.

        Gereja ini kemudian mengadakan kerjasama dengan GPKB. Kerena itu didalam kesulitan melaksanakan prinsip “Menjungjung baringinna” GPKB tidak sendirian. Banyaknya Gereja yang mengulurkan tangan membantu PKB dengan cara pengutus pengkotbah dan Pendeta untuk melayani Sakramen. Salah satu Gereja yang harus dikenang oleh setiap anggota PKB adalah Gereja Gereformeer Kwitang (Sekarang GKI Kwitang), yang banyak membantu PKB mulai dari peminjaman Gedung Sekolah untuk tempat kebaktian, sampai bantuan Pendeta untuk berkhotbah dan melayani Sakramen.

        Selama tidak memiliki Pendeta, GPKB mendapat bantuan dari Gereja lainnya, antara lain harus disebutkan Pendeta H.C Bower dari Gereja Methodis di Batavia, Pendeta P.W.R Hoppe dari Nederlandse Zendinggsvereninging Batavia, Pendeta Izaak Siagian dari Gereja Gereformer Melayu Kwitang, Pendeta Siagian khusus disebutkan disini, pertama karena beliau merupakan Pendeta yang dengan penuh perhatian mengikuti perkembangan hidup sejak awal berdirinya GPKB. Selama dua periode kekosongan Pendeta telah ditangani Pendeta ini.

        Walaupun Pendeta Siagian adalah merupakan Pendeta consulent (tidak Pendeta penuh Jemaat), tetapi dalam pekerjaannya bagi GPKB beliau tidak membatisi dirinya hanya dengan membawa khotbah mingguan dan Sakramen saja, tetapi melayani juga anggota jemaat dengan kunjunga-kunjungan pribadi yang membuat beliau selalu dekat anggota terlibih dalam kesulitan hidup mereka dan memikirkan kemajuan GPKB, keperluan sosial anggota yang berkekurangan dan juga berusaha memperkenalkan GPKB pada Gereja-Gereja lain dan instansi-instansi penting.

        Untuk pertama kali pada bulan September 1933, Gereja GPKB mendapat seorang pendeta yaitu Pdt. Benyamin Hutabarat, yang merupakan Pendeta pertama di GPKB. Puji dan syukur kepada Tuhan karena pendeta ini bekerja dengan penuh keprihatinan dalam melayani Jemaat-nya yang masih sedikit dengan perekonomian sangat sederhana.

        Pelayanan tidak hanya terbatas di sekitar Jakarta, tetapi juga mengunjungi anggota Jemaat yang tinggal di daerah pedalaman Jawa Barat, terutama pada pada masa kependudukan Jepang dan revolusi, banyak anggota GPKB yang mencari hidup kedaerah pedalaman untuk mengungsi. Dan pindahnya anggota GPKB dari Jakarta maka berarti keuangan GPKB juga merosot. Gaji Pendeta tidak tetap jumlahnya tergantung pada jumlah uang yang masuk.

        Saat itu merupakan saat yang sangat menyedihkan dalam hidup GPKB, untunglah para Pendeta dan keluarganya cukup tabah dan penuh pengertian, walaupun pada saat itu keadaan kesehatan beliau sangat buruk.

        Bertahun-tahun lamanya Gereja GPKB menerima simpati dan pertolongan dari Gereja Gereformeer Kwitang, dengan meminjam gedung Sekolah Kristen di tanah Nyonya Senen sebagai tempat beribadah. Pada masa pendudukan Jepang yang penuh dengan masa kesulitan hidup, pada masa itu tidak seorang pun yang berani memikirkan sebuah Gereja, terdengar berita dari seorang Jepang.

        Beragama Kristen mengetahui rencana Jepang untuk menjadikan kompleks Gereja Anglican yang terletak di jalan Mentang Raya ditinggalkan oleh pemiliknya, akan dijadikan sebagai kandang Kuda. Mendengar hal ini Bapak mendiang P.W Tobing dan Pendeta Benyamin Hutabarat datang menghadap Pendeta Jepang tuan Nomachi, agar tempat ini dapat dijadikan tempat beribadah Gereja GPKB dan permintaan itu dikabulkan. Pada saat itu sempat Pendeta B. Hutabarat tinggal di Perumahan Komplek  Gereja ini sampai akhir tahun 1945. Setelah Jepang kalah, Gedung Gereja Anglican dikembalikan kepada pemiliknya lengkap dengan benda-benda berharga pelengkap upacara Gereja dipelihara dan disembunyian dari orang Jepang. Sebagai rasa syukur dan terima kasih Gereja Anglican memberi kesempatan kepada Gereja PKB untuk melaksanakan ibadahnya di Gereja tsb.

        Pada bulan Mei 1947, Tuhan mengambil kembali kehadiratNya, Pendeta Benyamin Hutabarat. Pendeta yang penuh dengan tanggung jawab yang sangat dicintai Jemaatnya.

          Kehilangan seorang Pendeta bagi Gereja GPKB, sekali lagi berpaling pada Gereja Gereformeer Melayu Kwitang meminta bantuan yang kemudian mengutus kembali Pendeta Izaak Siagian untuk menjadi Pendeta Consulent bagi Gereja GPKB.

          Sementara banyak kesulitan yang dihadapi Gereja GPKB dalam menjalankan kehidupan kegerejaannya. Cita-cita untuk memiliki gedung Gereja bagi GPKB telah ada. Setalah kedaulatan kemerdekaan Republik Indonesia. Cita-cita ini dibangkitkan kembali dengan mendirikan “Kerggebouw Found” atau panitia dana Gereja.

          Cara Pelaksanaan pengumpulan untuk dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan cara klasik yaitu dengan potongan sekian persen dari iuran anggota, dari kolekte, kolekte Khusus dan usaha pengumpulan dana lainnya. Tetapi cara ini lamban sekali, pengumpulan dana kalah cepat dengan Krisis Ekonomi Negara yang berakibat terpotongnya nilai uang, tidak mau membiarkan hal ini terus berlanjut, maka Panitia Dana Gereja yang diketuai Bapak F. Matondang mulai melakukan tindakan jalan pintas yang tegas. Satu-satu harta tidak bergerak milik PKB yaitu rumah di Kramat Pulo dijual untuk menjadi modal pertama pencarian rumah Gereja. Kemudian kepala anggota Jemaat yang sudah bekerja diminta kesediaannya untuk memberikan sumbangan berupa satu bulan gaji yang dapat diangsur selama empat bulan. Anjuran ini segera disambut baik oleh kebanyakan anggota, sehingga jumlah uang dapat terkumpul. Tetapi uang tersebut belum cukup untuk membeli tanah di daerah yang baik. Karena itu tindakan yang cukup berani bagi sebuah Gereja dilakukan yaitu menawarkan surat penjualan obligasi yany berarti setiap pemilik surat tersebut menjadi pemilik (pemegang saham) Gedung Gereja GPKB Menteng. Sutar obligasi ini yang sebenarnya merupakan surat peminjaman dengan ini akan diusahakan pengembaliannya jika keadaan GPKB Mentang telah membaik.

          Walaupun ada kritik ternyata usaha ini cukup berhasil, sehingga dapat terkumpul sejumlah uang. Sehingga GPKB boleh mengadakan pilihan. Setelah melalui pemilihan tempat dari beberapa tanah yang dianggap baik dan cocok bagi sebuah Gedung Gereja yang memiliki anggota yang berdiam di segala pelosok Jakarta, maka diputuskan untuk memilih sebuah gedung bekas restoran Terry di jalan jawa no.99 (sekarang H.O>S.Cokroamonoto).

          Tepatnya, tanggal 10 Juli 1955 Gereja GPKB telah membeli dan memiliki Gedung Gereja sendiri dan secara resmi mengadakan mengadakan kebaktian di gedung tersebut dan dikenal “Gereja GPKB Menteng”. Kita tidak dapat melupakan jasa dari mendiang Bapak F. Matondang yang pada saat itu sebagai ketua dalam pembangunan Gereja.

          Setalah berhasil memiliki Gereja, dalam bimbingan Pendeta Izaak Siagian, walaupun beliau hanya merupakan Pendeta Consulent, Jemaat kerohanian, Jemaat tambah berkembang pesat, kesadaran akan arti “Menjungjung Baringin na” dan rasa kekeluargaan dari setiap anggota Jemaat, terasa dekat sekali.

          Kegiatan-kegiatan sekolah minggu dan naposo bulung Gereja GPKB terlihat aktif sekali saat itu. Pada tahun lima puluhan sempat naposo bulung Gereja GPKB mempunyai koor terbaik, membuat rasa segan dan simpati Gereja-Gereja tetangga pada saat itu.

          Kerinduan PKB untuk memiliki Pendeta terkabul pada tahun 1957, dengan diterimanya Pendeta L.H Sinaga sebagai Pendeta penuh di PKB Menteng.

          Keadaan Jemaat yang cukup banyak dari segala tempat di Jakarta, timbul pemikiran di Gereja PKB Menteng untuk membuat Gereja pagaran pada saat itu di Kebayoran Tebat, yang sekarang terkenal dengan Gereja GPKB Tegal Parang dan juga di Tanjung Priok.

          Selama tahun enam puluhan dan tujuh puluhan, tidak banyak yang terjadi dalam kehidupan kerohanian Jemaat GPKB Menteng. Perkembangan pada bentuk gedung Gereja pun tidak terlalu menolok, walaupun Panita Dana Pembangunan Geraja ada.

          Sebagai Pendeta Gereja GPKB Menteng, Pendeta L.H Sinaga juga menjabat sabagai ketua Mejalis Sinode GPKB yang ada, dan terlihat kegiatannya lebih banyak pada Majelis Sinode terutama pada tahun 1972 sampai 1976, dengan diterimanya Gereja PKB sebagai anggota Lutheran World Federation, kemudian partnership vereinigte evangelische mission dan lain-lain, yang memperkenalkan PKB pada dunia Internasional. Tetapi apakah artinya bagi Jemaat umumnya untuk GPKB Menteng khususnya? Hampir-hampir tidak terasa. Keadaan Gereja Menteng dan kerohanian bergereja dalam anggota, aktifitas sekolah minggu dan naposu bulung GPKB Menteng sebagai penerus, mulai terlihat kemuduran, arti “holong ni roha” dan persaudaraan sesama anggota makin kabur. Di satu pihak Pendeta L.H Sinaga mencurahkan perhatiannya pada Majelis Sinode, dilain pihak menjadi kurang perhatiannya sebagai Pendeta penuh di Gereja PKB Menteng. Sampai akhirnya setelah sidang Sinode di Sukabumi tahun 1977, beberapa tetua PKB Menteng yaitu P.W Lumbantobing, S.Hutagalung, A.M Lumbantobing, O.Sitompul dan A.L Tobing membuat surat teguran yang ditujukan kepada Pendeta L.H Sinaga, tetapi teguran ini tidak pernah ditanggapi.

          Sampai akhirnya tahun  1983 direncanakan untuk mengangkat seorang Pendeta oleh Majelis GPKB Menteng dan diperkuat oleh hasil rapat Jemaat GPKB Menteng, dan akhirnya tanggal 11 Maret 1984 diadakan serah terima jabatan antara Pendeta L.H Sinaga dengan Pendeta yang terpilih yaitu E.R Hutabarat B.Th.

          Pada bulan Juni 1984, Majelis Sinode mengadakan sidang Sinode di Jetun Silangit Siborong-borong. Melihat langkah yang diambil Pendeta L.H Sianaga yang keluar dari jalur GPKB, dengan melanggar dan merubah peraturan-peraturan GPKB yang telah ada sejak tahun 1932.

          Dengan prinsip “manjunjun baringin na” dan melihat bahwa sekarang ini Majelis Sinode bukanlah lagi sebagai wadah pemersatuan GPKB, Utusan GPKB Menteng yang dikirim untuk mengikuti sidang itu, menolak dan membuat pernyataan tidak mengakui lagi keputusan-keputusan yang diambil dalam rapat itu dan tidak mengakui susunan pengurus Majelis Sinode dengan pimpinan L.H Sinaga.

          Dengan tidak mengakui Majelis Sinode GPK pimpinan Pendeta L.H. Sinaga, terbentuklah pengurus basar/Ulaon Bolon GPKB yang setia kepada Tata Gereja PKB yang dibuat oleh para pendiri GPKB, dengan pimpinan dan sebagai ketua Pendeta M.P Lumbantoruan S.Th.

          Masih panjang jalan yang akan ditempuh oleh GPKB dan Jemaat GPKB lainnya dalam tugasnya sebagai Jemaat Kristus dan penyebar hasil Yesus. Masih banyak tugas Pendeta-Pendeta PKB lainnya, agar dalam bidang rohani lebih tahu yang menjadi tugasnya sebagai Pengembala dan didalam bidang organisasi Gereja GPKB hendaknya mengambil pengalaman GPKB Menteng dengan Gembala yang pertama, hendaknya menjadi bahan pelajaran dan pengalaman bagi Gembala-gembala untuk dapat mengembalikan citra PKB yang telah dirintis sejak dahulu dengan organisasi yang bersikap demokratis. Hendaknya perlu diingat dan dicatat yang harus menjadi tantangan bagi generasi penerus GPKB Menteng, bahwa prinsip PKB sejak dahulu sampai ke masa yang akan datang adalah kemerdekaan bergereja. Tidak ada kultus individu yang patut diberikan kepada manusia, hanya Tuhan yang berhak di kultuskan.