Logo Senin, 26 Oktober 2020
images

Penghuni Yayasan Gerasa Penuh Sukacita

BEKASI, majalahreformasi.com - Bau, kasar, jorok, penuh dengan borok, ngomong tidak jelas, tatapan mata kosong menerawang bahkan ada yang sering ngamuk tiba-tiba itulah gambaran orang yang mengalami ganguan jiwa yang selama ini kita ketahui.

Tetapi tahukah anda bahwa ada sepasang suami istri yang justru bergerak melayani orang-orang seperti ini atau ODGJ (orang dengan ganguan jiwa).

Lukas Sagotra dan istrinya, Ferra Menajang melalui yayasan Gerasa, Bekasi, disini ada sekitar 70 Orang beserta 6 anak penghuniu.

Yayasan Gerasa ini sendiri telah mempunyai legalitas yang lengkap dan berdiri sejak bulan Juli tahun 2011.

Penghuni Yayasan ini hanya wanita  yang mengalami disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa yang terbuang  dijalanan bukan dari titipan rumah.

Menurut Ferra alasan mereka memilih wanita adalah karena pertama, wanita tidak bisa melindungi diri sendiri, sangat rentan dengan kejahatan apalagi di jalanan, bahkan dari 70 penghuni yayasan ini ada 6 yang hamil di jalanan.

Kedua, Wanita sangat rentan dengan penyakit, mensturasi setiap bulan dan tidak pernah mandi sehingga membuat mereka semakin menurun.

 "Itulah yang membuat pelayanan kami hanya buat wanita yang terbuang, kami juga tidak menerima wanita titipan untuk saat ini dengan alasan karena kurangnya SDM disini.

"Kita tidak punya karyawan. Semua saya kerjakan bersama keluarga," tutur Fera yang juga menjadi ketua yayasan Gerasa.

Kepada majalahreformasi.com, Ferra di kantor yayasan Gerasa Kecamatan Rawalumbu Bekasi menuturkan bahwa metode penyembuhan mereka sama sekali tidak memakai obat penenang.

Walaupun penderita ODGJ emosinya sering tidak stabil tetapi ia mengaku punya kiat khusus untuk itu yaitu pakai otoritas Tuhan Yesus.

"Ya anda ingat waktu Tuhan mengusir setan pada orang yang kerasukan bahkan sudah tinggal bertahun-tahun di kuburan dirantai oleh penduduk disana karena sering mengganggu itu persis nya di daerah Gerasa, makanya kami buat yayasan ini bernama Gerasa," beber wanita yang berdarah Manado ini bercerita.

Tantangan terberatnya adalah justru saat penghuni baru masuk.

Mereka harus dibersihkan dahulu setelah bertahun-tahun hidup dijalanan.

Kondisinya sangat menyedihkan bau, sekujur tubuh penuh borok, luka nanah dan alat kelamin sudah busuk, penuh kutu, butuh waktu sampai berjam-jam agar mereka bersih.

Luka akibat borok dibersihkan, rambut dicukur dan dibersihkan agar rapi. 

"Semua kita lakukan sendiri tetapi saat ini mulai bergantian dengan penghuni yang sudah membaik mereka saya beri tanggung jawab tetapi tetap diawasi, puji Tuhan berhasil," Imbuhnya.

Ia juga menambahkan hampir 90 persen penyakit  penghuni yayasan ini karena masalah rumah tangga dengan problem yang sama yaitu ditinggalkan oleh pasangan hidup serta mengalami KDRT.

"Macam-macam ada yang suaminya menikah lagi atau bahkan pergi meninggalkan istrinya dan tak kembali," Tandasnya.

Itulah, imbuhnya pentingnya pendidikan rohani diberikan bagi keluarga sehingga mereka dimampukan menghadapi realita hidup yang tak selamanya mulus.

Serta menjaga ikatan suci perkawinan, setia terhadap pasangan hidup karena itu adalah haketat perkawinan.

 

 Fasilitas Lengkap

Dari pantauan majalahreformasi.com setelah melihat kamar demi kamar dari lantai satu dan dua termasuk kamar mandi, yayasan ini memang sangat menjaga kebersihan nya.

ruangan yang segar, dinding yang bersih dan setiap kamar diberi fasilitas penyejuk ruangan (AC).

Setiap bulan dari Puskesmas Bojong menteng datang ke yayasan ini untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Ada dua kamar disediakan bagi mahasisiwa theologi yang sering praktek penelitian di yayasan ini, berdekatan antara kamar penghuni dan juga aula yang biasa dipakai untuk kebaktian.

Untuk makan, yayasan Gerasa juga memberikan makan layaknya orang normal yaitu 3 kali sehari. Setiap hari yayasan ini menghabiskan 1 zak beras ukuran besar.

Lebih lanjut Ferra menuturkan bahwa biaya hidup dari para penghuni yayasan ini memang cukup besar. Tetapi Tuhan selalu buka jalan, modalnya hanya berlutut dan berdoa.

“Saya tidak mau pelayanan ini menjadi komiditi, atau menjual derita mereka demi rupiah, karena saya mengasihi mereka dan takut kehilangan perkenan Tuhan. Anak-anak penghuni disini juga nama belakang nya pakai inisial suami saya Sagotra, walupun aktenya nama ibunya,” ucapnya.

 Kurang Setuju Pelayanan

Awalnya Ferra memang kurang setuju dengan pelayanan ini, karena yang ia takut potensi penyakit menular yang bisa ditularkan kepada nya dan keluarganya.

Suaminya, Lukas Sagotra yang pertama kali mencetuskan ide ini. Dimana suaminya punya kerinduan untuk melayani wanita-wanita disabilitas mental.

“Suatu ketika suami saya melihat ada wanita setengah baya diperlakukan tidak layak. Lantas suami  saya bertanya kenapa diperlakukan seperti itu? Warga mengatakan, wanita ini tidak waras dan meresahkan sering bikin onar makanya diusir paksa agar menjauh dari lingkungan sini.

Pada saat itu suaminya mendengar dengan jelas Tuhan berkata, lakukan sesuatu untuk orang-orang seperti ini, “ Saksinya mengenang.

Sontak mendengar kesaksian suaminya, ia merasa kaget sekaligus bingung bagaimana caranya menolak ini. Akhirnya ferra meminta waktu suami untuk doa.

Karena sering didesak  ia berdoa juga dan meminta Tuhan mengkonfirmasi hal ini dengan kedua anaknya agar tidak jadi masalah kemudian hari.

Diluar dugaan akhirnya kedua putrinya setuju dengan pelayanan ini walaupun sebelumnya sudah diberi gambaran oleh ibunya akan tantangan yang akan  dihadapi dengan pelayanan ODGJ.

Setelah membaca landasan kebenaran firman dalam Matius 25;34-40 yang intinya adalah  ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan. ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

“Membaca ayat itu mambuat saya lebih mantap. Orang lapar, haus, telanjang disini bukan dari sisi jasmani, buktinya, dalam Perjanjian baru Tuhan pernah mengatakan orang miskin akan selalu ada.

lantas orang lapar dan haus seperti apa? Padahal firman Tuhan mengatakan biarlah orang malas mati kelaparan.

Begitu juga orang haus maenurutnya, apa susahnya minum.

Tetapi yang Tuhan katakan disini adalah sisi rohani dimana mereka tidak punya pengharapan lagi sebenarnya. Kalau orang sudah telanjang sebenarnya ia sudah nol.

Saat ditanya apa yang menjadi harapannya, untuk penghuni yayasan ini dia mengatakan agar mereka  pulih hidup selayaknya sebagai seorang manusia seutuhnya dan keluarga membuka diri menerima kembali.

Untuk Gereja kiranya untuk tetap melakukan apa yang Tuhan mau yaitu menjangkau yang terbuang karena mereka biji mata Tuhan. Satu orang bertobat seisi Surga bersorak sorai.

 *Yayasan ini beralamat di Jalan Ac Lengkeng No 210 RT 01/02, Kel Bojong Menteng, Kec Rawa Lumbu, Bekasi 17177. HP 0812 80880 355 (Ferra Menajang).*

-David Pasaribu-

 


TAG , , , , ,