Logo Rabu, 3 Maret 2021
images

Silfester Matutina, Dirut PT Srikandi Mahardika Mandiri dan Crew disambut masyarakat Sibolga di bandara udara Ferdinand Lumbangtobing saat first landing Penas Air jet BAE 146-100 (16/11/11)

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Praktisi penerbangan dan juga  Ketua Umum Relawan Solidaritas Merah Putih (Solmet) Silfester Matutina tidak mau berkomentar banyak saat dimintai pendapat terkait jatuhnya pesawat milik maskapai Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 jatuh di kepulauan Seribu pada Sabtu (9/01) siang.

"Terlalu dini saat ini jika kita menganalisa penyebab terjadinya kecelakaan pesawat terbang Sriwijaya Air termasuk juga semua Analisa dan spekulasi yang beredar saat ini karena itu belum bisa dipertanggungjawabkan secara pasti dan ilmiah," tegasnya kepada majalahreformasi.com.

Silfester juga menyebut, Black Box baru diketemukan pada Selasa 12 Desember 2021 dan belum dianalisa oleh KNKT. Jadi, tidak ada alasan untuk saat ini menyimpulkan tanpa didukung data dari Blackbox.

Spekulasi dan opini yang beredar oleh para pengamat penerbangan dan masyarakat sangat menyesatkan dan membuat resah masyarakat terutama pihak keluarga korban yang saat ini masih bersedih karena baru saja kehilangan orang orang yang dicintainya.

Silfester menambahkan, bahwa pihak Komisi Nasional Keselamatan Penerbangan (KNKT) yang nantinya berkompeten untuk menginvestigasi, menyimpulkan dan merilis penyebab kecelakaan setelah menganalisa semua hal termasuk yang paling penting adalah menganalisa dan mengaudit rekaman CVR (Cockpit Voice Recorder) dan Flight Data Recorder (FDR) dalam Blackbox, juga data radar dari AirNav (ADS-B), lokasi kejadian.

Saat ditanya apakah ada batas maksimum waktu yang diberikan Undang-undang kepada KNKT untuk menyimpulkan hasil temuannya, Silfester menuturkan tidak ada namun ia percaya bahwa KNKT pasti bekerja dengan maksimal untuk itu.

Kendati demikian, ujar dia, melihat kasus selama ini yang terjadi seperti saat pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada Desember 2014 baru diumumkan hasil investigasinya pada 1 Dessember 2015.

Begitu juga dengan kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak pada 9 Mei 2012 baru diumumkan 21 Desember 2012.

"Sekitar setahun biasanya melihat kasus yang selama ini ditangani KNKT," tutur Silfester.

Saat ini, imbuh sosok yang pernah mendatangkan dan mengoperasikan pesawat jenis Cessna Caravan, Twin Otter, BAE 146-100hingga Boeing 727-200 bekerjasama dengan Airfast, Penas Air, Manunggal Air dan Regional One Inc, USA meminta Pemerintah dan Pihak Manajemen Sriwijaya Air agar secepatnya memberikan asuransi dan hak-hak para keluarga korban dan memberikan pelayan yang terbaik untuk mereka.

Silfester juga mengapresiasi gerak cepat dan perjuangan tanpa kenal lelah Basarnas, TNI, POLRI, KNKT dan Kemenhub dalam rangka upaya pencarian korban dan kepingan pesawat terlebih perhatian yang sangat besar dari Presiden Jokowi atas musibah ini. (DAVID)