Logo Kamis, 26 November 2020
images

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) menggelar Sidang sinode ke-5 mulai dari tanggal 18 sampai 19 November 2020. Dengan mengangkat tema: Akulah Alfa dan Omega, dan sub Tema: Menjadi jemaat GKSI yang mandiri, peduli, berintegritas dalam kesederhanaan pelayanan untuk mewujudkan jemaat otonom yang dewasa dalam daya dan dana. Acara ini berlangsung di kantor pusat sinode GKSI, di jalan Kerja Bakti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

Acara Sidang sinode ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan salah satunya dengan menggunakan masker dan hanya dihadiri oleh 25 orang utusan, demi mencegah penularan Covid 19. Sisanya peserta sidang mengikutinya melalui virtual atau online.

Hal itu dibenarkan oleh Ketua Majelis Tinggi GKSI, Willem Frans Ansanay, S.H, M.Pd, dia menjelaskan sebenarnya ada sekitar lebih dari 200 orang peserta utusan GKSI yang harusnya hadir, tetapi oleh panitia hanya dibatasi sekitar 25 orang utusan saja karena pertimbangan protokol kesehatan dari pemerintah. Sisanya mengikuti melalui online.

Frans juga menjelaskan bahwa pelaksanaan sidang sinode ini merupakan amanat dari AD/ART digelar sekali dalam lima tahun.

Tujuan dilaksanakan sidang ini, ujar dia, adalah mengevaluasi program yang sudah berjalan, anggaran rumah tangga, melahirkan rekomendasi arah GKSI kedepan seperti apa dan memilih ketua umum sinode.

Terkait dalam calon ketua umum, hingga saat ini ada 5 calon yang akan dipilih menjadi ketua umum kedepan.

"Ada 3 orang yang secara terang-terangan sudah menyatakan diri bersedia, selebihnya masih maluu-malu kucing tetapi nanti  akan ketahuan juga saat pendaftaraan," kata dia.

Frans juga menambahkan bahwa sidang ini tidak dihadiri oleh PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) dan dari Dirjen Bimas Kriten walaupun undangan sudah dikirimkan karena terkendala adanya dualisme kepemimpinan saat ini di GKSI.

Pun demikian, pihaknya dalam hal ini GKSI mempunyai kesamaan dengan PGI yaitu selalu menginginkan adanya rekonsilidasi dan selalu membuka diri untuk berkomunikasi dengan pihak manapun.

"Kami senantiasa siap untuk berkomunikasi termasuk rekonsiliasi tetapi hingga kini nyatanya hal itu sulit terwujud karena pihak yang lain masih menutup diri," imbuhnya.

Frans juga menyatakan keprihatinannya sekaligus keheranannya jika ada pihak yang sukar diajak untuk berdamai sementara Gereja mainstream juga pernah menglami konflik namun bisa berdamai.

Dalam kesempatan itu, Frans juga menyatakan apresiasinya terhadap jurnalis Kristen dan berharap senantiasa menyuarakan kebenaran sebagai kontrol dalam masyarakat. Karena masih banyak persoalan dan ketimpangan yang perlu dikritisi dan diperbaiki kembali.

Frans mencontohkan, masih ada hamba Tuhan dalam kepimpinan yang sudah puluhan tahun menjabat namun enggan untuk melakukan regenerasi.

Jika hal ini dibiarkan, lanjutnya, dapat menimbulkan dampak negatif karena rasa keadilannya sudah hilang dikuasai oleh rasa ego sehingga mengalami penurunan dalam pelayanan.

"Mungkin saja orang tersebut akan mempertahankan kepemimpinannya karena telah menghasikan hal-hal yang sifatnya materil jasmani," katanya lebih lanjut.

Sementara Ketua Sinode GKSI, Pendeta Marjio mengucapkan sukacita dan rasa terimakasihnya atas suport para senior di GKSI sehingga sinode kepemimpinannya dapat maksimal dan berkembang dengan pesat pelayanannya.

"Seperti senior kami dan juga merupakan salah satu pendiri GKSI, pak Frans Ansanay yang sudah menghabiskan dana hingga 7 milyard dari kantong pribadinya tetapi tidak menginginkan menjadi Ketua Sinode," ujar dia.

Lebih lanjut, sidang sinode GKSI kali sangat tergolong sangat ketat karena seluruh peserta diwajibkan menjaga jarak, cuci tangan, memakai masker dan melalui Rapid test. Panitia juga tampak disetiap pintu ruangan menyediakan cukup banyak sanitizer dan masker* DAVID