Logo Minggu, 2 Oktober 2022
images

Putri Simorangkir (di belakang) bersama Rita Wahyu

Penulis adalah Putri Simorangkir, Ketum Dantara (Damai Nusantaraku)

MAJALAHREFORMASI.com - Synagoga adalah suatu tempat ibadah orang-orang Yahudi. Synagoga dalam bahasa aslinya “Beit knesset”, tempat ibadah sekaligus menjadi tempat belajar bersama. Adalah sudah menjadi kebiasaan atau budaya orang Yahudi yaitu belajar sejak usia kanak-kanak hingga usia tidak terbatas, mencintai pengajaran itulah mereka.

Tidak heran dan tidak bisa disangkal, karena itu bangsa Yahudi dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kecerdasan melebihi rata-rata bangsa lain.

Pada Tanggal 27 Mei 2022 yang lalu merupakan hari yang luar biasa bagi kami, karena bisa melihat dan menikmati dari dekat satu-satunya Synagoga, Shaar Hashamayim yang ada di Tondano, Sulawesi Utara - Indonesia. Bersama dengan ibu Rita Wahyu, seorang pengajar Theologi dari bahasa asal Alkitab yaitu dari sastra Ibrani.

Synagoga ini terletak di kota kecil Tondano Sulawesi Utara, berdampingan dengan Museum Holocaust, Synagoga bangunan putih khas Yahudi berada.

Beruntung kami pergi diajak oleh ibu Rita Wahyu yang memiliki hubungan persahabatan dengan Rabi Yaakov Baruch Pimpinan Synagoga. Dengan demikian kami, rombongan yang terdiri dari ibu Rita Wahyu, bapak dan ibu Rully Simorangkir , bapak Maradona Panjaitan, Ibu Rina dan saya sendiri diterima oleh Rabi Yaakov Baruch dengan hangat dan ramah.

Semua pertanyaan-pertanyaan serta keingintahuan tentang agama tertua dan unik itu dijawab oleh beliau dengan sabar.

Ruangan ibadah dalam Synagoga Shaar Hashamayim itu unik, terbagi oleh tempat khusus untuk jemaat wanita yang diberi penyekat kayu berlubang, sehingga melalui lobang tersebut jemaat wanita bisa mengikuti jalannya ibadah.

(Synagoga)

 

(Tempat ibadah wanita)

(Sementara jemaat pria ditempatkan diruangan utama)

Bagian lain yang paling unik dan menarik adalah suatu tempat yang disebut Heykal, yaitu: wadah indah tempat menyimpan gulungan Torah yang terbuat dari kulit asli, bertuliskan ayat-ayat suci dalam Torah .

Pembacaan Torah yang dilantunkan seperti nyanyian, merupakan pusat ibadah yang sakral dalam ibadah orang Yahudi.

Hari itu kepada kami ditunjukkan bagaimana membaca Torah dengan cara dilantunkan.

Dalam perbincangan dan diskusi dengan Rabi Yaakov Baruch banyak pelajaran keagamaan yang menggugah. Misalnya, dikatakan bahwa sesungguhnya Torah itu diturunkan khusus bagi bangsa Yahudi yang dikenal sebagai Yudaisme ( Perjanjian lama ), merupakan “ibu/ induk” ke Kristenan ( Perjanjian baru ) . Sebab mustahil ke Kristenan bisa berdiri sendiri lepas dari Perjanjian Lama.

Sang “ibu” mengajarkan tentu mengajarkan hal yang sama kepada anak-anak nya. Antara lain, perbuatan baik serta menanggalkan keangkuhan atau kepentingan diri sendiri.

Pelajaran indah yang bisa saya tarik dari diskusi tersebut adalah belajar terus tentang filosofi dasar beragama, yaitu: bukan tentang masalah boleh atau tidak boleh melainkan memahami segala sesuatu yang kita lakukan, baikkah itu, bermanfaatkah dan berdampakkah bagi sesama? 

Mari kita sesama orang yang beragama berjalan masing-masing secara bebas, saling menghormati tanpa mencela yang lain. Tidak menuntut orang lain melakukan dan memercayai sesuai kehendak kita.

(Heykal - tempat penyimpanan gulungan Torah)

(Gulungan Torah)

Mempelajari sejarah agama Yahudi atau Yudhaisme yang merupakan induk ke Kristenan maupun agama Islam itu sungguh sangat menarik. Bersyukur kami bisa mengunjungi Synagoga Shaar Hasyamayim tersebut yang hingga saat ini belum dibuka untuk umum kecuali melalui perjanjian.

Sebagai penutup saya ingin mengingatkan ujaran Bung Karno Proklamator kita yang masih relevan hingga saat ini yang saya tuliskan secara bebas, begini kira-kira : “Jikalau engkau beragama Islam, janganlah menjadi orang Arab, jikalau agamamu Hindu janganlah menjadi orang India, dan jikalau agamamu Kristen, janganlah menjadi orang Yahudi. Jadilah seperti dirimu sendiri , kita orang Indonesia."

Saya mengaminkannya. Teriring ucapan trima kasih serta salam hormat kepada Rabi Yaakov Baruch.(*)

Jakarta, 03 Juni 2022