Logo Rabu, 1 Desember 2021
images

Prof. DR. dr. James Tankudung, Sportmed, M.Pd (Foto dokumentasi saat di wawancara di Pondok indah mal, Oktober 2019)

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com -Presiden Joko Widodo beberapa saat yang lalu menyatakan perlunya melakukan social distancing guna menekan penyebaran COVID-19 di Indonesia. Bahkan Jokowi menghimbau agar kegiatan seperti belajar, bekerja dan beribadah sebaiknya dilakukan di rumah.

Yang menjadi pertanyaan apakah social distancing itu? Menurut Profesor James Tangkudung pengertian social distancing atau self lockdown adalah mengisolasi diri selama 14 hari. Lantas ada apa selama 14 hari itu? Kenapa begitu penting? Mantan staf ahli dan Deputy Kemenpora yang menjabat hingga tahun 2012 ini membeberkan saat itu terjadi pertempuran antara daya tahan tubuh dengan musuh dalam hal ini covid-19 yang mencoba masuk kedalam tubuh.

"Sebenarnya Tuhan sudah memberikan daya tahan yaitu imunitas kepada manusia untuk melawan penyakit," imbuhnya kepada majalahreformasi.com melalui via video.

Lebih lanjut, mantan dokter resmi PSSI ini juga menambahkan rangkaian proses masuknya virus sampai gejala disebut masa inkubasi. Dimana pada saat hari pertama sampai keempat sel tubuh manusia akan mengeluarkan daya tahan yang disebut daya tahan bawaan atau genetik yang ada pada masing-masig diri, ditandai dengan kulit luar tubuh yang akan mencoba untuk melawan virus tersebut.

"Tetapi tentunya virus itu akan mencoba masuk melalui selaput sel kulit yang terbuka yaitu melalui mata, hidung, dan mulut itu prosesnya pada hari pertama hingga keempat," bebernya.

Pada hari kelima maka suhu badan sudah naik, itu ditandai tubuh seseorang itu mulai demam, mual, sesak nafas, denyut nadi dan tensi meningkat. Artinya terjadi pertempuran antara sel darah merah eritrosit dan darah putih leukosit. Lamanya gejala ini berlangsung tergantung daya tahan tubuh oleh sebab itu disarankan self lockdown guna tidak menambah virus dalam tubuh dan juga resiko menularkan serta agar tubuh mendapat istirahat yang cukup untuk meningkatkan imun tubuh.

Covid 19 memang berbahaya tetapi jangan panik, katanya, penyakit ini memang mirip dengan SARS dan MERS kelebihannya yaitu infeksinya sangat aktif, contagius dan agresif. Ia menyatakan, jika dihadapi dengan kepanikan maka daya tahan tubuh menurun.

"Saya menyarankan agar kita mengahadapi dengan santai, relax dan banyak mendekatkan diri ke Tuhan itu akan menolong untuk mengalami pemulihan dengan cepat," ujarnya.

"Saat kita menghadapinya dengan berlebihan atau disebut panic sindrom maka otomatis denyut nadi, suhu dan pernafasan ikut meningkat mengurangi kinerja imun tubuh kita," sambung guru besar ini.

Profesor sport medicine ini mengajak untuk mengurangi kontak dan memulai hidup sehat seperti cuci tangan, memakai masker, konsumsi makanan yang bernutrisi dan istirahat. Jangan lupa, bebernya, agar senantiasa berolah raga untuk melancar peredaran darah dan masuknya oksigent ke paru-paru

"Saya juga menyarankan agar masing-masing punya termometer untuk mengukur suhu sendiri, idealnya suhu tubuh adalah 36°C, tetapi jika sudah  mencapai suhu 39°C apalagi diiringi demam dan  gejala sesak serta denyut nadi tinggi segeralah periksa ke dokter. Hiduplah sehat. Salam olah raga," tutup Ketua Umum Forum Kita Pancasila ini. (David)