Logo Minggu, 25 Oktober 2020
images

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com 

Pada Hari Minggu, 9 Februari yang lalu sebenarnya adalah hari yang dinantikan oleh seluruh jemaat GPKB, pasalnya setelah terjadinya konflik dualisme selama sekian tahun akhirnya bertemu untuk duduk bersama membicarakan perdamaian.

Tetapi sayangnya hal ini tidak berlangsung lama karena upaya mediasi antara Sinode GPKB dan Majelis pusat GPKB menemui jalan buntu. Hal ini menurut Ephorus GPKB Majelis Sinode, Pdt Frans Ongirwalu (pihak pertama) menjelaskan penyebabnya adalah acap kali setiap pertemuan, pihak Majelis Pusat Sinode (Pihak kedua) selalu menambah point-point baru.

"Kami dalam hal ini pihak pertama selalu membuka diri dengan semangat saling menerima tetapi kendalanya, pihak kedua setiap kali pertemuan selalu menambah point baru. Sehingga itu menyulitkan proses perdamaian itu terwujud," ujar Ephorus.

Ephorus mencontohkan, dimana pihak pertama dan kedua sepakat bahwa calon Ephorus dan Sekretaris Jendral pada periode 2021-2026 akan ditetapkan oleh panitia penyelenggara. Ternyata pada pertemuan ketiga hal ini dianulir sehingga pihak pertama tidak boleh untuk mencalonkan diri sebagai Ephorus dan Sekretaris jendral

Pada pertemuan terakhir disebutkan bahwa pihak pertama dan kedua mengakui dan mematuhi pimpinan GPKB hasil Sinode AM GPKB 2016 di Tarutung yang dipimpin oleh Pdt Ramses Pandiangan,STh sementara pimpinan GPKB dari Sinode AM di puncak, Pdt Frans Ongirwalu tidak disebutkan. Dengan kata lain tidak mengakui hasil sinode AM GPKB yang dipimpin oleh Pdt. Frans Ongirwalu.

Disebutkan pula bahwa Pendeta yang ditahbiskan oleh pihak pertama wajib diteguhkan kembali oleh Majelis Sinode pusat pimpinan Pdt Ramses Pandiangan. Bukan hanya itu saja terakhir bahkan menurut Ephorus Pdt Frans Ongirwalu, Panitia Sinode Am juga dibentuk oleh pihak kedua.

Hal inilah menurutnya ini menjadi penyebap sukarnya untuk mencapai sebuah kesepakatan damai itu. Untuk saat ini, lanjut Ephorus kesepakatan damai ini ditunda dahulu tetapi intinya pihak pertama akan senantiasa terus membuka diri untuk berdialog.