Logo Senin, 26 Oktober 2020
images

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Ibadah dan perayaan Parheheon Ina GPKB Walang, Tanjung Priok Jakarta berjalan dengan penuh sukacita dan menerapkan protokol kesehatan selama beribadah, salah satunya dengan menggunakan masker, Minggu (30/08) Pagi. Acara ini di ikuti oleh seluruh kaum ina GPKB Walang.

Berbeda dengan perayaan Parheheon Ina sebelumnya yang sarat dengan acara-acara yang menarik bahkan sampai menampilkan sandiwara oleh kaum ina, tetapi kali ditiadakan karena pandemi Covid-19.

Acara dilakukan dengan singkat tetapi penuh dengan sukacita dan dibuka dengan ibadah yang dipimpin langsung oleh Sekum GPKB Pdt. Rita Purba, STh. Tema yang diangkat dalam khotbahnya adalah 'Monang Maralohon Huaso Haholomon'atau okultisme yang diambil dari Ulangan 18: 9-14.

Ia mengatakan sadar atau tidak, ada dua kekekuatan yang mempengaruhi manusia selama ini yaitu; kuasa dunia dan Tuhan. Setiap orang harus memilih satu pilihan.

Kepada jemaat yang hadir, Pdt Rita memberi contoh bagaimana pengalaman supranatural yang terjadi dalam tubuh gereja GPKB sendiri. Selama 10 Tahun Gereja dipenuhi oleh konflik tetapi sekarang telah berdamai dan itu semua karena kuasa Tuhan.

Mungkin, lanjutnya, banyak orang bertanya-tanya kenapa harus memakan waktu selama 10 tahun tetapi kata hamba Tuhan yang selama ini melayani di GPKB Menteng VII Medan tersebut menyatakan semua itu berguna agar jemaat dipersiapkan terlebih dahulu.

"Lihat saja sekarang banyak orang kaya tetapi mentalnya miskin, di jalan raya contohnya seseorang naik mobil mahal tetapi cara berkendaraannya ugal-ugalan," lanjutnya.

Tuhan berfirman agar menghindari diri dari praktek perdukunan dalam bentuk apapun karena itu semua adalah merupakan kekejian bagi Tuhan.

Sampai sekarang praktek perdukunan menurutnya masih ada seperti bertanya kepada roh orang mati, pergi ke suatu daerah yang diyakini memiliki tempat yang mempunyai daya magis yang kuat, seperti di daerah Pussuk buhit, Samosir.

"Ingatlah siapapun yang berhubungan dengan kuasa kegelapan adalah kekejian bagi Tuhan dan ada konsekuensinya," pungkasnya.

Sementara ketua ina GPKB Walang, Lusi br Sinaga mengatakan bahwa peringatan parheheon kali ini memang berbeda dari sebelumnya pertimbangannya adalah anjuran protokol kesehatan dari pemerintah.

Kendati demikian, menurutnya sesuai dengan makna parheheon yang artinya membangkitkan atau mengugah kembali spirit. Semangat itulah yang saat ini perlu dimiliki oleh semua orang khususnya punguan ina GPKB Walang, Jakarta Utara ditengah pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini.

 

Lebih lanjut ketua kaum ina ini mengungkapkan bahwa fungsi seorang ibu dalam keluarga adalah menjadi tiang doa untuk itu kaum ina harus tetap menjaga semangatnya mengurus keluarga dan selalu bergairah untuk melayani Tuhan.

Ia juga berharap agar pandemi ini segera berakhir dan back to normal agar agenda yang telah disusun bersama dapat berjalan kembali seperti acara natal dan tahun baru. Dan,  mengundang partisipasi dari kaum ibu lainnya agar bergabung dengan punguan ina GPKB Walang.

Wadah ini bisa dipakai untuk saling menguatkan satu yang lain apalagi  ditengah pandemi saat ini pasti mempunyai lebih banyak tantangan. Jangan malu untuk mengutarakan masalah dan pergumulannya.

"Disini kita berkumpul saling menguatkan dan sambil memuji Tuhan, tanpa harus melihat perbedaan, status sosial, satu dalam tubuh Kristus," ungkap ketua punguan ina di sela-sela acara tersebut.

Ephorus GPKB Pdt Frans Ongirwalu mengucapkan selamat merayakan Parheheon Ina GPKB Walang.

"Jadilah ibu yang kuat dan tetap berdoa. Saya juga meminta dukungan doa semua jemaat untuk perjalanan GPKB kedepan, dan secara khusus buat acara sinode Am 2021," pungkasnya.

Acara ditutup dengan makan malam sambil beramah tamah antar jemaat. Selamat buat punguan Ina GPKB Walang,, (DAVID)