Logo Rabu, 3 Maret 2021
images

Pengamat Politik dan Ekonomi Dr. John N. Palinggi, MM., MBA

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Presiden Joko Widodo akhirnya mengajukan nama Komisaris Jendral Listyo Sigit Prabowo sebagai calon tunggal kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menanggapi hal ini, pengamat politik dan ekonomi Dr. John N. Palinggi, MM., MBA menilai bahwa lolosnya Komjen Sigit sudah memenuhi syarat baik dari sisi kepangkatan, dan penyaringan dari Komisi Kepolisian Nasional (Komponas) sesuai dari amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Sehingga, John menyebut tidak ada alasan untuk menolak dan meragukan Komjen  Sigit karena sudah melalui proses yang benar sesuai konstitusi.

"Undang-undang adalah ukuran kita sebagai warga negara jadi kalau sudah sesaui dengan prosedur kita wajib menerima dan mentaati apalagi ini menurut saya adalah proses yang normal dan wajar," ujar John saat ditemui di kantornya di bilangan Thamrin, Jakarta pada Senin (18/01) pagi.

Dalam perkembangannya ada beberapa pihak yang berbicara mengenai latar belakang Komjen  Sigit, bagi John itu tidak masalah karena dalam kehidupan berdemokrasi selalu ada dinamikanya. Namun, buru-buru ia menegaskan agar jangan sampai masuk di ranah sensitif yang dapat menyakiti perasaan orang lain.

"Bangsa ini harus dijaga secara bersama-sama apapun latar belakangnya, suku, etnis dan golongan tidak ada masalah karena negara ini membutuhkan semua orang untuk membangun. Kelemahan bangsa ini adalah tidak memberikan kesempatan bagi orang-orang yang memiliki kehebatan di bidangnya. Kapasitas dan capability harus diberi ruang yang luas seperti negara Singapura, Malaysia dan negara Islam Timur tengah lainnya mereka memberikan kesempatan luas bagi warganya. Jika hal ini ditetapkan di Indonesia maka negara terbangun atas dasar kebhinekaan tunggal ika," ucap John.

"Kadang kita sudah punya prinsip bersama namun dalam tataran pelaksanaan sering lalai bahkan cenderung untuk saling menghina," tutur dia.

Menurutnya, Pandemi Covid-19 seharusnya sudah memberikan sinyal bagi kepada semua orang agar menjaga ucapan atau kata yang keluar dari mulut serta memelihara hati, dan berbuat baik bagi semua orang untuk bersama-sama membangun bangsa ini.

Persamaan Jokowi dan Sigit

Pengusaha yang memperoleh APEC Business Travel Card di 19 negara di Asia Pasifik ini menuturkan sesuai dengan falsafah China yang mengatakan bahwa seekor burung itu pasti mencari yang sama jenisnya. Demikian pula dalam hal ini, ujar John, ia yakin President Jokowi mempunyai persamaan-persamaan dengan Komjen  Sigit.

"Kalau burung yang berbeda jenisnya maka bisa saling mencederai satu dengan yang lain demikian pula sebaliknya jika sejenis mereka pasti rukun dan damai, dapat mengamankan diri dengan baik," ujar Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA) ini.

John juga percaya Komjen Sigit mampu menjaga sinergisitas TNI-Polri yang sudah terbangun baik selama ini. Itu juag sangat penting apalagi untuk menuju Indonesia Emas 2045 faktor keamanan dan stabilitas politik sangat menentukan.

Diakhir wawancara, John mengatakan harapannya agar Komjen  Sigit selalu sehat dan sukses dalam melaksanakan tugas, tetap rendah hati seperti President Joko Widodo karena dengan rendah hati itu dimungkinkan Tuhan akan menolong disepanjang jalan.

"Saya memiliki keyakinan orang yang rendah hati akan ditinggikan oleh Tuhan dan dengan sendirinya dapat mewujudkan rasa aman, dan adil ditengah masyarakat sehingga dapat memicu produktifitas masyarakat menjadi maksimal," kata John.

"Usahakan personal Polri tidak menampilkan diri dengan kemewahan dalam hidupnya tetapi pola sederhana karena bangsa ini sedang mengalami ujian yang cukup berat. Termasuk jika di jalanan kalau tidak mengawal sebaiknya janganlah meminta prioritas karena begitu sengsara para pengendara lain yang sudah lelah dengan kemacetan," pungkasnya menutup. (David)