Logo Kamis, 28 Januari 2021
images

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com
Hampir satu tahun sudah semenjak pandemi global COVID-19 yang dipicu oleh Virus SARS-CoV-2 melanda bumi. Selain konsekuensi kesehatan yang ditimbulkan, pandemi ini telah membuat banyak kebiasaan yang telah berubah termasuk dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sebut saja seperti perubahan perilaku kesehatan dan pola hidup terkait, penyesuaian dalam interaksi sosial, meningkatnya kebutuhan dan ketergantungan terhadap teknologi digital untuk pendidikan hingga pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.

Tetapi yang paling menarik adalah penyesuaian yang terjadi di bidang kerohanian seolah-olah belum pernah terjadi sebelumnya dimana teknologi aplikasi daring kini memiliki peranan penting dalam kebutuhan manusia untuk tetap dapat menjalankan ibadah secara berkelompok.

Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir (OSZA) sebagai sebuah gereja global yang tersebar di 160 negara di seluruh dunia, tidak luput dari dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini.

Ibadah sekali seminggu yang biasanya dilangsungkan di gedung-gedung pertemuan Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di seluruh Indonesia telah berganti menjadi ibadah mandiri bersama keluarga dan memanfaatkan aplikasi daring untuk Sekolah Minggu dan kelas-kelas lainnya.

Terkait hal ini, pimpinan dan Presiden Gereja Yesus Kristus dari OrangOrang Suci Zaman Akhir, Russell M. Nelson, melalui sebuah pesan khusus kepada jemaat Gereja pada bulan November lalu.

Presiden Nelson, demikian dia biasanya disapa oleh jemaatnya, lebih lanjut menceritakan pengalaman rohaninya ketika ia terbangun di suatu tengah malam dan benaknya dipenuhi dengan pikiran untuk memanjatkan “doa syukur” kepada Allah bagi semua anak-anak-Nya di seluruh dunia.

“Benakku dipenuhi dengan semua hal yang mana kita sepatutnya mengucap syukur dan ungkapan rasa syukur inilah yang dapat menjadi Roh Penyembuh dalam kehidupan kita," katanya.

Presiden Nelson kemudian mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam sebagai seorang ilmuwan, dan sebagai orang beriman, terhadap pandemi di seluruh dunia saat ini.

Sebagai ilmuwan, ia mengapresiasi kebutuhan kritis untuk mencegah penyebaran infeksi. President Nelson menghormati pelayanan penuh dedikasi para profesional kesehatan dan berduka bagi banyak orang yang kehidupannya terganggu oleh COVID-19. Namun, sebagai orang beriman, ia melihat pandemi saat ini hanya sebagai salah satu dari banyak penyakit yang mewabahi dunia saat ini, termasuk kebencian, kerusuhan sipil, rasisme, kekerasan, ketidakjujuran, dan kurangnya kesantunan.

President Nelson mengajak umat Tuhan untuk mengacu pada kuasa penyembuhan dari rasa syukur. Kitab Mazmur, imbuh dia, sarat dengan nasihat untuk mengungkapkan rasa syukur.

Berikut tiga di antaranya:
“Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan.”
“Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik.”
“Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur.”

Secara tegas ia menambahkan bahwa selalu, ada kuasa penyembuhan saat mengungkapkan rasa syukur. Ia mencontohkan saat Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, sebelum secara menakjubkan melipatgandakan roti dan ikan, dan sebelum mengedarkan cawan kepada para murid-Nya di Perjamuan Malam Terakhir, Juruselamat berdoa.

Menutup pesan khususnya, Presiden Nelson membagikan bahwa dalam sembilan setengah dekade hidupnya yang telah ia jalani ia berkesimpulan bahwa menghitung berkat kita lebih baik daripada menceritakan masalah kita.

"Apa pun situasi kita, memperlihatkan rasa syukur atas privilese kita adalah resep rohani yang berfungsi cepat dan tahan lama," ujarnya.

"Selamat Natal, 25 Desember 2020 & Selamat Menyambut Tahun Yang Baru, 1 Januari 2021 seiring doa, ungkapan rasa syukur dan iman kepada Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus, amin," lanjutnya sambil menutupnya. (DAVID)