Logo Kamis, 26 November 2020
images

Sarah Fifi bersama Putrinya, Angel (di Ballarat, Victoria)

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Bagi Ketua Sinode Gereja Kristen Getsemani (GKG), Pendeta Sarah Fifi Effendi moment Natal adalah saat berbagi kebaikan dan kasih kepada semua orang terutama bagi mereka yang membutuhkan.

Ia biasanya berkunjung ke Gereja-gereja terpencil di daerah untuk memberi berkat dan menyampaikan kabar baik bagi jemaat disana. Kegiatan ini hampir setiap tahun dilakukannya termasuk natal kali ini.

Jababatannya sebagai Ketua sinode juga mengharuskannya melakukan itu karena kehadiran secara fisik berbeda dan masih di perlukan.

"Saya rencananya berangkat tanggal 18 November dan mereka umumnya sangat senang dan bersuka cita ketika seorang hamba Tuhan dari kota besar datang melayani dan suatu sukacita tersendiri juga bagi saya," ujarnya saat ditemui di restoran sea food yang dikelolanya di bilangan Kelapa Gading, Jakarta utara.

Namun, ia menambahkan, khusus di malam Natal, dihabiskannya bersama keluarganya dan saling berbagi didalam keluarga. Yakni biasanya dengan saling bertukar kado.

"Tetapi lima tahun belakangan ini, saya justru mendapat kado dari anak-anak dan cucu saya. Apalagi moment itu biasanya bertepatan dengan hari ibu, jadi saya mendapat double, senang sekali," tuturnya sambil tersenyum.

Natal Kali Ini Beda

Kendati demikian, Ketua pembina YAY, Anugrah bina bangsa (ABB) ini mengakui natal kali ini berbeda dan pesan yang disampaikan adalah sebuah penghukuman, pengampunan dan pemulihan yang Tuhan izinkan terjadi.

Penghukuman bukan karena Tuhan membenci umat manusia tetapi karena justru karena kasihnya agar semua orang tidak sembarangan dalam hidupnya dengan bertobat agar selamat dan dipulihkan.

Seperti firman Tuhan dalam Alkitab yang mengatakan bahwa sehelai rambut tidak akan gugur tanpa seizin Tuhan, ayat ini adalah bukti kasih Tuhan dalam kehidupan umatNya.

Lebih lanjut ia juga berpesan kepada anak Tuhan dalam menghadapi masa sulit ini dengan tidak bersungut-sungut apalagi menjelang natal ini jangan sampai kehilangan suka cita.

"Anda ingat ketika umat Israel mau di bawa ke tanah perjanjian yang penuh madu dan susu tetapi bangsa ini dalam perjalannya sering bersungut-sungut sehingga menimbulkan murka Tuhan. Bahkan dalam Injil disebut orang yang suka bersungut-sungut dikelilingi oleh malaikat maut," beber Dosen phisiologi ini.

Semua peristiwa ini, ungkapnya, bukan untuk membinasakan tetapi suatu tanda cinta dari Tuhan agar umatNya kembali ke jalan yang benar.

Tetapi, ia mengingatakan berjalan bersama Tuhan bukan berarti tidak ada tantangan, masalah akan selalu ada tetapi Tuhan selalu membuka jalan.

Pendeta Sarah mencontohkan kesaksiannya selama masa PSBB dan sampai sekarang banyak rumah makan sejenis yang tutup karena merugi terus akibat dampak Covid-19.

Tetapi rumah makan yang dikelolanya tetap bisa eksis, gaji karyawan dan bonus tetap diberikan tidak pernah terlambat.

Ia percaya bahwa pertolongan Tuhan itu nyata seperti yang dialaminya yang terpenting tetap berdoa dan menjaga hidup agar berkenan dihadapan Tuhan, pemulihan pasti terjadi, jangan kwatir.  Selamat menjelang Natal,,(DAVID)