Logo Senin, 26 Oktober 2020
images

Ephorus GPKB (Pdt. Frans Ongirwalu), Pdt. Marihot Siahaan, dan ibu Rosinta Simbolon dari divisi Saat Teduh

Jakarta, 01 Agustus 2018

Tentunya hampir semua kita orang Kristen mengenal buku Saat Teduh. Sebagaimana judulnya, buku yang tersebar di seluruh penjuru nusantara ini terkenal di kalangan Kristen sebagai buku bahan ber-saat teduh. Di dalamnya terdapat kesaksian dan cerita-cerita kristiani dengan berpusat pada Firman Tuhan yaitu Alkitab dengan tujuan mengubahkan kehidupan kristen setiap hari menjadi lebih bertumbuh di dalam Kristus.

 

Seri buku-buku Saat Teduh merupakan terbitan dari BPK Gunung Mulia dan secara khusus dikelola oleh divisi Saat Teduh, baik itu mengenai isi dan juga pendistribusiannya.

 

Pada hari Rabu, 01 Agustus, Majelis Sinode GPKB dengan perasaan gembira menerima tamu dari divisi Saat Teduh, BPK. Gunung Mulia, yaitu Ibu Rosinta Simbolon dan kawan-kawan dari Saat Teduh lainnya. Mereka datang ke kantor Sinode GPKB, Jalan Pulomas Barat 6, Rawamangun, Jakarta Timur untuk mensosialisasikan edisi Saat teduh Dwi Bahasa ( bahasa Batak dan bahasa Indonesia).

 

Mereka disambut oleh Ephorus GPKB, Pdt. Frans Ongirwalu, S.Ag. dengan Pdt. Marihot Siahaan, S.Th. dan melangsungkan pembicaraan dengan penuh keakraban. Dalam pembicaraan tersebut terungkap bagaimana pentingnya para pemuda, khususnya para pemuda Batak untuk melestarikan bahasa Batak.

 

Di zaman kosmopolitan sekarang ini, khususnya di kalangan pemuda kota Metropolitan, rasanya sulit sekali menemukan para pemuda batak yang masih menguasai bahasa batak dengan baik. Bahkan, tidak jarang terlihat pemuda batak yang justru lebih menguasai bahasa daerah lain daripada bahasa Batak. Contohnya para pemuda batak yang berada di Surabaya lebih fasih berbahasa Jawa dan bahkan dapat juga ditemukan kasus mereka tidak bisa berbahasa batak sama sekali sekalipun mengerti artinya. Kalau demikian adanya, bukan tidak mungkin di masa depan, bahasa batak hanya menjadi kenangan karena sudah tidak dipakai lagi. Tapi kita tidak menginginkan hal itu terjadi.

 

Untuk itulah Majelis Sinode GPKB sepakat untuk mensosialisasikan di jemaat-jemaat GPKB, di Jakarta khususnya, untuk mendorong para Naposobulung GPKB untuk lebih mencintai bahasa batak. Kita tidak perlu malu untuk menggunakan bahasa batak di manapun kita berada.

 

Melalui buku Saat Teduh Dwi Bahasa (Batak dan Indonesia) ini, diharapkan semakin banyak Naposobulung GPKB, khususnya yang berada di Jakarta memahami bahasa batak dan melestarikannya. 

 

Bagi gereja-gereja GPKB yang berminat untuk memiliki buku Saat Teduh edisi khusus ini, dapat menghubungi Majelis Sinode GPKB melalui kolom kontak di website ini atau klik tombol di bawah ini. 

 

  

Harga per buku (Edisi September - Oktober 2018) adalah Rp. 15.000,-

 

TAG