Logo Minggu, 25 Oktober 2020
images

Ilustrasi prostitusi anak. shutterstock.com

MAJALAHREFORMASI.com

Masalah prostitusi melibatkan anak terus bergulir dan menjadi keprihatinan. Dalam data KPAI per 31 Agustus, anak korban TPPO dan Eksploitasi berjumlah 88 kasus dengan didominasi oleh anak korban eksploitasi pekerja anak sebanyak 18 kasus dan anak korban prostitusi 13 kasus.

Selebihnya anak korban perdagangan, anak korban adopsi illegal, anak korban Eksploitasi seks komersial anak dan anak (pelaku) rekruitmen ESKA dan Prostitusi.

Secara khusus, menurut Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi  Ai Maryati Solihah, KPAI memantau sejak bulan Juli sampai dengan September tahun 2020 pada 9 kasus di berbagai kota/kabupaten (Ambon, Paser, Madiun, Pontianak, Bangka Selatan, Pematang Siantar, Padang, Tulang Bawang Lampung dan Batam Kepri)dengan jumlah 52 korban.

Serta terdapat pula belasan pelaku rekruitmen dan saksi anak di bawah umur.

Padahal sejalan dengan masa pandemik anak harus sepenuhnya berada di rumah bersama orang tua dan mematuhi protokol kesehatan, anak terpenuhi hak Pendidikan dan pengasuhannya.

Dalam temuan KPAI ada trend anak perempuan usia paling rendah 12 tahun sampai dengan 18 tahun.

Pada hampir semua peristiwa melibatkan mucikari/penghubung dengan ragam subjek pelaku, misalnya bertindak sebagai Bos dan jaringannya yang menjalankan peran masing-masing.

Dari 9 kasus di atas mayoritas merupakan kasus prostitusi online yang memanfaatkan kemudahan transaksi elektronik dalam menjalankan aksinya.

"Mereka menggunakan beragam media social seperti Face Book, Mechat, Wechat dan whatsup yang kemudian dihubungkan kepada pelanggan," ungkapnya.

Latar belakang anak masuk dan terlibat dalam prostitusi beragam, namun didominasi oleh pemanfaatan anak dalam situasi rentan, misalnya mereka yang membutuhkan pekerjaan, direkrut kemudian ditampung untuk dipekerjakan, padahal dilibatkan prostitusi.

"KPAI menyerukan kepada keluarga untuk selalu mengawasi, membimbing dan mengasuh anak-anak dalam situasi dan kondisi yang saat ini dihadapi untuk menekan dan menghindari pola-pola baru jenis TPPO dan kejahatan seksual pada anak. Situasi pandemic dan kelekatan anak dengan dunia digital membutuhkan edukasi dan parental skill dalam berinternet secara sehat di dalam rumah," kata Ai Maryati Solihah. (DAVID)