Logo Rabu, 1 Februari 2023
images

MAJALAHREFORMASI.com - Komite Relawan Nasional Indonesia (Korni) menilai penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT G20) yang akan digelar pada 15 hingga 16 November 2022 di Bali adalah momentum penting bagi Indonesia. 

Selain karena dipercaya sebagai tuan rumah, perhelatan internasional ini diharapkan membawa dampak positif bagi percepatan pemulihan ekonomi nasional.

“Kami mendukung penuh kegiatan KTT G20 di Bali nanti. Ini bisa menjadi satu kekuatan dan berdampak besar karena mengumpulkan dan menjalin hubungan antar negara-negara maju," kata Ketua Umum Korni, Dr. M. Basri BK kepada wartawan.

"Sesuai temanya, Recover Together, Recover Stronger, kami optimistis Indonesia bisa kembali bangkit dan pulih dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19,” kata dia melanjutkan.

Basri menambahkan jika gelaran Presidensi G20 Indonesia secara langsung telah membawa dampak yang luas bagi perekonomian nasional maupun daerah. 

Hal ini ia buktikan dengan melihat laju pertumbuhan ekonomi nasional di dua kuartal terakhir yang tumbuh impresif dan peningkatan pendapatan daerah pada sejumlah kota tempat penyelenggaraan rangkaian kegiatan.

Pihaknya mengapresiasi upaya-upaya yang telah dilakukan pada masa pemerintahan Bapak Presiden Joko Widodo, khususnya kebijakan strategis yang dikeluarkan oleh Bapak Airlangga Hartarto selaku Menko Perekonomian.

"Kinerja cemerlang tercermin pada capaian PDB nasional dalam dua kuartal terkahir yang meningkat. Pada kuartal II-2022, ekonomi tumbuh 5,44 persen, naik menjadi 5,72 persen di kuartal III-2022," beber dia.

Basri bahkan menambahkan pertumbuhan impresif ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi pada tahun 2019. Jadi, event G20 ini betul-betul nyata mendorong pertumbuhan PDRB secara regional.

Selanjutnya, pada Industri pengolahan nonmigas juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,83 persen pada triwulan III-2022, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu di angka 4,12 persen dan pada periode sebelumnya (triwulan II-2022) yang mencapai 4,33 persen. 

 “Alhamdulillah, pertumbuhan industri manufaktur pada triwulan III-2022 lebih baik. Harus terus ditingkatkan lagi. Kementerian Perindustrian perlu berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui pelaksanaan berbagai program dan kebijakan strategis,” ungkap Basri.

Ketum Korni kembali menggaris bawahi pentingnya sektor industri bagi perekonomian nasional. Sebab, bukan tanpa alasan tentunya Basri menuturkan hal itu, karena selama ini sektor tersebut menjadi kontributor paling besar terhadap pertumbuhan PDB nasional. 

Artinya, industri manufaktur sebagai tulang punggung, motor penggerak, dan penopang utama ekonomi nasional. 

"Sektor ini yang perlu terus diperhatikan oleh pemerintah, karena memberikan multiplier effect yang luas mulai dari peningkatan devisa, tenaga kerja, ekspor, hingga pajak,” pungkas Basri. (Red)