Logo Kamis, 26 November 2020
images

Aloysius Giyai saat memberikan sambutan dalam malam anugerah pemberian penghargaan tokoh kesehatan dari Perwamki

"Saya berasal dari orang kecil dan saya ingin jangan ada orang yang merasa kecil dan menderita seperti masa lalu saya"

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Diantara sederet nama-nama tokoh penerima penghargaan yang diberikan oleh Perwamki (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia) pada perayaan ulang tahunnya yang ke-17, Selasa (10/11) lalu.

Terdapat nama, drg. Aloysius Giyai, Mkes, Direktur RSUD Jayapura. Tidak berlebihan tentunya, karena ia dianggap sebagai orang yang sangat berjasa dalam melakukan banyak terobosan di bidang kesehatan. Sosok ini juga sanggup mengubah wajah rumah sakit yang kumuh itu menjadi rumah sakit yang bersih dan nyaman dengan sistem pelayanan kesehatan yang terwariskan dengan baik hingga kini.

Ia juga meluncurkan satu program inovatif yang  bernama Satuan Tugas Kaki Telanjang dan Terapung (Satgas Kijang) sebagai pilot project menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di Papua.

Berawal dari masa kecilnya memang terbilang sangat menderita, bahkan dalam berkali-kali dalam kesempatan ia mengatakan bahwa saudara-saudari kandungnya banyak yang meninggal akibat tidak mendapat pelayanan medis menjadi pemicu baginya untuk menolong rakyat Papua agar tidak lagi mengalami hal serupa.

"Saya berasal dari orang kecil dan saya ingin jangan ada orang yang merasa kecil, menderita seperti masa lalu saya," imbuhnya saat ditemui di salah satu hotel di bilangan Taman Sari, Jakarta Barat.

Pengalamannya juga di tahun 2002 membuatnya semakin bertekad untuk menolong rakyat Papua dalam bidang kesehatan. Saat itu ia baru selesai menempuh study  kedokteran dan bertugas RSUD Jayapura, ada seorang pasien yang sangat menderita karena sakit tetapi belum mendapat pelayanan medis selama berjam-jam karena ia orang miskin tidak punya uang.

Sontak hal itu membuatnya kaget bercampur sedih, sampai-sampai ia membuka baju prakteknya dan mengatakan dihadapan para tim rumah sakit waktu itu bahwa biaya rumah sakit ditanggungnya bila perlu gajinya dipotong, yang penting agar pasien segera mendapat pertolongan.

"Rasanya hati saya seperti teriris melihat penderitaannya, bayangkan berjam-jam terlantar tanpa tindakan medis karena tidak punya uang," katanya mengenang dengan nada pelan sambil mengusap air matanya.

Peristiwa itu membuatnya tersadar bahwa masyarakat Papua harus mempunyai jaminan kesehatan.

"Tuhan merestui usaha saya, pada tahun 2008 keluarlah Jamkesra (Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin Papua) perjuangan saya selama 6 tahun berhasil. lalu di tahun 2014 saat itu Tuhan mempercayai saya menjadi Kepala Dinas, saya revisi menjadi KPS (kartu Papua Sehat)," ujarnya.

Saat ditanya apa yang menjadi mimpinya, pria kelahiran 8 September 1972 ini mengatakan tidak muluk-muluk bahkan ia menolak jika dikatakan apa yang menjadi impiannya.

Ia  hanya ingin  memberi dampak bagi sesama itulah yang merupakan  keinginannya  setiap saat.

Banyak orang, menurutnya, tenggelam dalam sebuah mimpi tanpa melakukan kontribusi yang positif terutama bagi orang lain.

Seperti diketahui, RSUD Jayapura saat ini adalah rujukan rumah sakit tertinggi di Papua dan Papua Barat bahkan ada pasien-pasien dari negara tetangga yang tengah dirawat atau berobat disana.

Saat ini Aloysius bertekad ingin mewujudkan Rumah Sakit Jayapura menjadi Rumah Sakit yang terlengkap bahkan menjadi menjadi Medical Tourism di Pasific Selatan.* DAVID