Logo Sabtu, 18 September 2021
images

DR. HP Panggabean, SH., MS (Foto Istimewa)

MAJALAHREFORMASI.com - Beberapa saat lalu kita dikejutkan saat seorang kepala daerah yang saat ini menjadi tersangka KPK mengatakan Luhut Panjaitan dengan sebutan Luhut Penjahit.

Sontak hal ini menjadi polemik karena dianggap menghina marga Panjaitan, walaupun akhirnya Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono menyampaikan permohonan maaf.

Salah satu tokoh Batak dan juga ketum DPN Kerukunan Masyarakat Hukum Adat Suku-suku Nusantara (KERMAHUDATARA) DR. HP Panggabean, SH., MS juga menanggapi peristiwa ini saat ditemui majalahreformasi.com di salah satu cafe di bilangan Rawamangun beberapa saat lalu.

HP Panggabean menyayangkan peristiwa ini terjadi karena bagi masyarakat Tapanuli marga itu sangat mahal harganya.

Ia mencontohkan jika seseorang dari etnis lain seperti Tionghoa jika di beri marga maka harus melakukan upacara adat dengan memotong kerbau, jadi bukan hal yang mudah dan murah.

"Namun pada kasus pak Luhut kita sudah tidak mempersoalkan karena yang bersangkutan tidak ada niat menghina dan sudah minta maaf, pak Luhut juga saya dengar sudah memaafkan," tegasnya.

Lebih jauh, ia juga menambahkan bahwa marga itu harga budaya tertinggi bagi orang Batak. "Dalam keluarga saya, marga sinaga adalah tulang saya , sehingga anak saya mau mempersunting boru Sinaga karena dia Tulang dari atas, itu tidak ditentukan harus membayar sinamot sekian, tinggal hitung pelaksanaan," ujar nya.

Saat disinggung keuntungannya mempunyai sebuah marga, mantan Hakim Agung Mahkamah Agung (MA) RI ini menyebut itu adalah sebuah kebanggaan dan jati diri sebagai orang Batak. Setiap marga masing-masing mempunyai kebanggan tersendiri karena satu rumpun dan memelihara adat budaya dari nenek moyang.

Ia juga prihatin karena banyak orang batak yang tidak memakai marganya, padahal itu justru merugikan diri sendiri. Hal ini kerap terjadi di bangku sekolah akibat namanya panjang tidak mau ribet sehingga marganya tidak disebut dan berlanjut terus.

Bahkan lebih ekstrimnya lagi, kata dia, jika orang tersebut meninggal dunia, tidak ada yang tahu dia punya marga sehingga hanya di kuburkan saja tanpa mendapat pemakaman upacara adat.
(David)